Showing posts with label cerbung. Show all posts
Showing posts with label cerbung. Show all posts

Saturday, 29 August 2015

Cerbun: Cinta Segi Empat Gay (Part 3)

Gue masih terbengong-bengong melihat ada dua gelas yang tergeletak di laci meja. Kedua benda itu sama bentuknya jenisnya juga sama. Gue bingung semua ini dari siapa? Siapa pula pagi-pagi buta niat banget menaruh kayak ginian di meja. Gue wajib bersyukur Tuhan masih mendengarkan doaku tadi malem lewat status Facebook, sehingga benda yang gue inginkan sudah ada di depan mata gue sendiri, sungguh doa yang ajaib.

Jadi ceritanya gini, tadi malem gue pengen banget ada yang bawain jus Mangga dipagi hari. Gue cuma asal bikin status aja, sifatnya iseng soalnya sekarang belum musim mangga. Namanya juga abegeh suka donk bikin status ngasal yang iseng gitu dech. Siapapun itu makasih sudah bawain jus mangga ke meja gue. Lain kali gue mau coba ah doa mintat Iphone, terkabul nggak ya?

“Dar.....gue lagi bingung, ini dua jus tiba-tiba ada di laci,” tukas gue ke Dara yang baru datang.
“Berarti yang kasih jus pengertian, siji nggo koen sijine maning nggo enyong  -satu untuk kamu, satu lagi buat aku-,” balas Dara dengan enteng sambil ngembat satu cup jus.
“Yee elu cewek maruk,” ledek gue tapi membiarkan Dara mengambil satu jus. “Masalahnya ini dari siapa? Sapa atau ada jampi-jampi atau racun.”
Dara langsung menghentikan aktifitasnya yang sudah siap menyedot jus. “Kayaknya nih ya ada jampi-jampi pelet, tuh ada surat di laci elo.” Dara menunjuk kertas yang agak nongol di laci.

Gue segera mengambil kertas berwarna kuning. Nggak ada amplopnya, hanya kertas biasa saja. Gue perhatikan tulisan tangan di surat, gimana gue bisa ngenalin kan baru di sekolah ini. Dari ilmu perkayongan –menduga- yang nulis pasti cowok karena tulisannya besar dan nggak rapih. Isi suratnya “semoga kamu suka jus ini, hari mu akan lebih menyegarkan”. Kata yang sederhana tapi bisa bikin semagat sepanjang hari.

Jus yang ada di depan gue ada dua dari bungkus yang berbeda, pastilah yang kirim jus ada dua orang yang berbeda. “ini dari orang yang berbeda,” cetus gue.
“Berarti ada dua orang yang suka sama kamu,” timpal Dara setelah menyeruput jus yang sudah ada ditangan. “Ciiiiieeeee anak baru sudah punya fans,” ledek Dara semangat.  Gue aja udah dua tahun nggak ada yang kasih kayak gini.”
“Gue juga nggak tau ini dari siapa. Ati-ati loh nanti kamu kena pelet orang, bisa jadi lesbi” gue menakut-nakuti Dara yang masih asik menyedot jus.
“Elu itu pake susuk apa? Sampai ada cewe yang terkintil-kintil sama kamu,” tanya Dara menyelidik matanya meleototin gue.
“Gue donk secara alami sudah memikat orang,” gue membanggakan diri sambil mengacak-acak rambut biar lebih keliatan jantan. “Dari pada elu sudah pakai make up ala barbie tetep aja nggak ada cowok yang naksir elu,hahaahah,” gue meledek Dara sampai tergelak puas.
“Ledek aja terus,” Dara mendengus kesal.
“Kira-kira sapa ya yang ngelakuin kayak gini? Gue masih saja bertanya-tanya pada udara. Tanya sama Dara juga percuma, dia nggak tahu.
“Udah sih kamu nggak usah pikirin itu. Dapet rejeki nggak usah dipikir terus, tapi nikmati aja. Kamu sudah punya fans, itu sudah cukup,” Dara main samber aja jawab pertanyaan hampa gue.

Bener juga apa kata dara yang penting gue sudah punya fans disini, paling nggak gue sudah diterima sama siswa sini juga. Apa mungkin karena gue ganteng kali ya jadi ada yang naksir. Eehh nggak juga lah masih ada Bani cowok populer sekolah, Papang yang gagah, mereka semua bagian dari cowok ganteng sekolah. Gue sendiri uma apalah-apalah di sekolah. Ada beban tersendiri kalau punya fans, ototmatis gue harus jaga image nggak ketimpringan lagi di hadapan cowok ganteng. Gue nggak mau reputasi gue hancur hanya karena lelaki.

Disisi lain gue jadi khawatir ini bukan hanya sekedar fans, bisa juga penguntit. Fans yang terlalu ekstrim terhadap idolanya. Kemana saja dikuntit tanpa sepengetahuan gue. Sekarang banyak yang kayak gitu. Gue nggak mau jadi korban, hidup serasa diteror.

“Dar, gue jadi ngeri sendiri,” gue mengungkapkan kekhawatiran. “Gimana kalau dua orang ini bukan cuma fans, tapi penguntit?”
“Kalau gitu gampang, kamu tinggal bawa anjing herder kemana aja, nggo njaga koen,” usul Dara yang ngasal. “Dijamin nggak ada yang berani deketin kamu termasuk enyong.” Dara tergelak renyah.
“Seriusan Dar, gue jadi nggak nyaman gini kalau emang ada penguntit.” Gue menghembuskan nafas pasrah. “Iya kalau yang nguntit itu cuuuu.” Upss hampir saja sisi sekong gue kelepasan, niatnya gue mau ngomong cucok alias ganteng tapi untung bisa di rem.
“Cu apa?” tanya Dara penasaran meminta gue melanjutkan lagi.
“Cuuukup cantik,” gue menghela nafas.
“Di sekolah ini yang cukup cantik cuma gue, PUAS?!” timpal Dara ketus tetapi bergaya emak-emak sosialita. Gue tau dia bercanda saja. “Enyong ya  nggak naksir kamu kali Ar....”

Gue harus belajar mengendalikan diri biar kehomoan gue nggak keceplosan. Gue juga belum yakin Dara bsa menerima kelakian gue yang masih diragukan. Namanya juga cewek yang punya mulut dua pasti donk lebih ember, bisa-bisa satu sekolah satu kalau gue homo.

Gue jadi mikirin omongan Dara kalau emang perlu bodyguard buat jagain gue yang punya badan ceking kayak gini. Siapa pula yang mau jadi bodyguard gue? Apa perlu gue pasang sayembara, siapa yang mau jadi bodyguard gue yang cowok bisa gue jadikan pacar sedangkan cewek bisa jadikan teman ngerumpik bareng. Ahhh ya sudahlah gue pasrah saja kalau dikuntit.

“Dara, elu tau nggak siapa yang kasih jus ini untuk gue?” gue tanya Dara karena masih penasaran.
“Mana aku taulah,” jawab Dara cuek sambil menyeruput jus yang kini tinggal setengah. “Nggak usah dipikirin banget, nikmati saja Ar.”

Bel pelajaran berkumandang dengan sumbang, terdengar sumbang karena jam pertama adalah matematika, suatu yang mengerikan. Gue benci banget sama yang namanya matematika. Berhubung gurunya ganteng jadi masih ada semangat dikit mengikuti pelajaran. Mungkin kalau pak guru buka les, gue orang paling semangat buat les tiap hari. Aihhh gue koq jadi kegatelan banget sih.
@@@

Seperti biasa kalau istirahat ke dua gue di kelas saja karena emang males ke kantin yag penuh sesak buat ngisi perut yang sudah kelaparan apalagi buat anak kelas 12 yang perlu ada jam tambahan. Gue sendirian di kelas. Dara sudah cabut sama temen cewek lainnya entah kemana, katanya sih mau ngecengin adik kelas yang cute. Gue pengen ikutan kalau yang itu tapi sekali lagi gue harus menjaga image sebagai lelaki.

“Heiii ngelamun!!” Papang ngagetin gue.
“Ehhhh cuuuu.....” Sumpah gue kaget beneran dan hampir saja kelepasan latah ngomong cucok lagi. Gue bukan kaget karena Papang ngagetin, tapi gue terpesona dengan potongan rambut Papang yang baru yang lebih keliatan macho.
“Kenapa kamu Ar?” Papang ikutan kaget ngeliat gue yang heboh.
“Ngga kenapa-kenapa,” kilah gue sambil menutupi salah tingkah.

Papang duduk di bangkunya Dara, tepat di samping gue. Gue jadi dedegan karena bisa bersebelahan cowok yang tambah cakep saja. Saking groginya gue sampai nggak tau harus berbuat apa atau ngomong apa.

“Pang....,” gue manggil Papang untuk memulai obrolan.
“Ar.....,” secara bersamaan Papang manggil gue juga.
“Elu dulu aja yang ngomong,” gue mempersilahkan Papang ngomong duluan. Gue juga masih grogi dari pada nanti tergagap dan keceplosan kehomoan gue.
“Tadi aku ketemu Dara, katanya ada nguntit kamu?” Papang menanyakan kepastian soal berita dari Dara.

Tuh kan bener Dara lumayan ngember juga. coba tadi kaau gue kecoplas bisa saja besok seluruh sekolah tau kalau gue homo. Kalau mereka pada cuek sih nggak masalah, tapi gimana coba kalau gue di bully masa gue pindah sekolah untuk kesekian kali gara-gara gue ketahuan homo.

“Ahh Dara itu selalu berlebihan,” gue coba menepis gosip Dara. “Nggak dikuntit tapi tadi pagi ada yang naro jus Mangga di laci, gue nggak tau siapa yang naro,” gue menceritakan kebenaran kepada Papang.
“Oh aku pikir kenapa. Soalnya Dara ceritanya heboh gitu. Aku jadi khawatir, barang kali itu ulahnya Bani yang kemarin belum kelar.”
“Nggak gitu juga kali. Gue sama Bani udah kelar,” gue juga mencoba meluruskan masalah yang belum Papang ketahui.

Gue seneng aja sih ternyata Papang masih perhatian sama gue. Dia masih ada rasa khawatir kalau gue kenapa-kenapa. Gue ngarepinnya dia perhatian sebagai kekasih yang pacarnya sedang diganggu orang lain. Kayaknya itu cuma harapan yang berlebihan saja. Bisa deket sama Papang juga sudah seneng.

 “Bisa jadi ada yang naksir kamu kali, Ar,” Papang menengok ke gue dengan tatapan yang teduh. Seolah-olah mengisyaratkan “gue loh yang naksir elu”.
“Gue kan anak baru mana ada yang sekonyong-konyong naksir gue,” balas gue mencoba merendah.
“Meskipun kamu anak baru, tapi kamu ganteng dan gaul pasti banyak yang suka,” Papang koq malah puji gue.
“Biasa aja kali Pan,” gue tersipu malu.
“Tapi gimana kalau orang yang kasih jus itu emang naksir kamu?” tanya Papang semangat. Seperti dia mengharapkan jawaban yang manis.
“Berarti ada dua orang yang yang naksir gue donk,” timpal gue dengan santai.
“Ehhh,” Papang malah terperanjat kaget, entah kenapa. Wajahnya juga ikutan shock.
“Tadi pagi ada dua jus di laci,” gue segera menambahkan.
“Terus kamu minum yang mana?” nada Papang malah terdengar introgasi.
“Yang mana ya?” Gue coba mengingat lagi. “Kayaknya yang sedotannya warna hijau.”

Gue sempat ngelirik Papang, kayaknya dia baru nafas lega.  Gue nggak ngerti kenapa bisa gitu. Apa salah satu jus itu dari Papang? Entahlah. Semoga saja sih salah satunya emang dari dia beneran. Setidaknya yang naksir gue ada orang ganteng macam Aliando versi Tegal,hehehe.

“Terus gimana kalau itu dari orang naksir kamu?” Papang mengulang lagi pertanyaannya.
“Gue seneng banget..... akhirnya di umur 17 tahun gue bisa segera dapatin pacar,” gue donk langsung girang ngarepin pas sweet seventeen bisa gaet cowok ganteng.
“Kalau ternyata dia nggak sesuai apa yang dibayangkan kamu gimana?” tanya Papang lesu.
“Gue tetep seneng setidaknnya masih ada yang baik sama gue,” sebisa mungkin gue membesarkan hati kepada orang sudah naksir sama gue.
Papang senyum mendengar jawaban dari gue seperti itu. “Kalau kamu ada apa-apa bisa cerita sama aku. Apalagi ada yang nguntit biar aku yang ngadepin.” Papang berlagak seperti orang yang sudah siap bertarung.

Gue jadi tersanjung ada teman yang rela mempertaruhkan hidupnya (lebay banget) demi gue. Oh Papang, gue jadi klepek-klepek sama elu dech. Bel penanda akhir istiratah mengganggu kebersamaan gue dengan Papang, terpaksa dia balik ke kelas buat lanjutin pelajaran. Meskipun cuma sebentar bersama dia, gue sudah seneng koq. Apa ini namanya jatuh cinta?

@@@

Hari ini gue terpaksa pulang sekolah jalan kaki, karena kalau ngesot paha gue yang mulus bisa lecet,hehehe. Nggak gitu juga sih, motor ganteng (dibaca motor cowok) gue sedang perawatan. Bukan cuma gue aja yang setiap bulan facial, bleaching, dan perawatan lainnya. Motor gue juga perlu dirawat biar gantengnya seimbang sama gue.

Sepanjang jalan gue ngerasa nggak enak, semacam ada paranoid. Jangan-jangna dugaan Dara benar, emang ada yang nguntit gue. Dari tadi berasa ada yang ngawasin setiap gue jalan ada yang suara yang seirama langkah kaki gue. Sedangkan gue jalan sendirian. Beneran dech gue parno.

Gue berusaha mmempercepat jalan biar bisa kabur dari suara itu. semakin gue nambah kecepatan suara itu juga punya kecapatan yang sama. Gue pasrah dech kalau diculik, semoga penculiknya ganteng syukur mau nikahin gue, haduw malah jadi khayal yang nggak bener.

Tangan gue tercekal dengan erat. Gue hampir saja jatuh karena berhenti tiba-tiba. Beneran gue bakal jadi korban pemerkosaan, eh kalau itu harapan gue ya.
“Arya.....” ada yang manggil gue dengan suara merdu. Gue kenal suara itu.

Gue langsung nengok ke arah yang meemegang pergelangan tangan gue. Nafas lega keluar dari hidung yang sedang ingusan. Ternyata ada bebeb Bani yang ada di belakang gue.

“Koen nangapa –kamu kenapa-? Tanya Bani dengan logat ngapak yang kental.
“Gue ngerasa ada buntutin,” jawab gue ang masih terengah-engah.

Bani langsung jongkok. Gue heran donk, ngapain dia pakai acara gitu? Apa dia mau ngelamar gue seperti ada yang televisi. Biasaya cowok berlutut di hadapan ceweknya buat kasih cincit. Aku sudah degdeggan dan girang. Bani memang punya sifat ksatria, berani melamar gue di tempat umum.

“Ini loh ada kresek yang nempel sepatu kamu?” Bani memungut kresek yang dari tadi mbututin gue.

Gubrag!!! Gue berasa jadi orang paling konyol sedunia ternyata gue cuma dikerjain sama tas kresek bekas sialan. Inilah akibat dari orang buang sampah sembarangan bisa bikin celaka orang lain. Gue juga ngerasa bego kenapa nggak berasa nginjek kresek? Entahlah gue sudah paranoid, kemakan omongan Dara. Untung ada Bani yang nyelamatin gue.

“Bego banget ya gue,” terpaksa gue mengakui kekonyolan di depan Bani.
“Nggak bego koq. Aku ngeliat kamu lari kayak dikejar-kejar setan. Aku langsung parkir motor terus ngejar kamu,” Bani menjelaskan kronologi untuk menyelamatkan gue. “Aku pikir kamu kenapa.”
“Gue pikir ada yang ngejar. Soalnya tadi pagi ada dua jus di laci, tapi nggak tau siapa yang kasih,” gue menjelaskan perihal yang teerjadi tadi pagi sebagai prolog kenapa gue lari keblingsatan.
Gue sempat ngeliat Bani tersenyum, sama persis kayak Papang tadi. “Terus kamu minum yang mana?” tanya Bani menyelidik.
“Gue kayaknya minum yang pakai sedotan merah,” jawab gue nggak yakin.
Bani bernafas lega. “Syukurlah kalau gitu.”
“Kenapa?” gue donk penasaran.
Bani langsung salah tingkah sendiri dan mencoba berkilah. “Berarti kamu minum jus yang tepat, bisa saja satunya itu pengen ngeracunin kamu.”
“Koq bisa gitu?” gue jadi heran sendiri dengan jawaban konyol Bani.
“Kalau ada dua gitu berarti satunya dari orang yang naksir kamu, satunya lagi pengen celakain kamu,” Bani menjelaskan logikanya.
“Kalau gitu berarti Dara lagi keadaan bahaya donk? kan dia yang minum satunya.” Gue berlagak seolah-olah khawatir. Padahal mah urusan Dara sendiri juga kalau keracunan.
“Yang penting kamu nggak apa-apa,” Bani mencoba menenangkan gue. “Tapi kalau ada yang naksir kamu beneran gimana?” pertanyaan Bani sama persis dengan Papang.
“Di syukuri saja lah, ternyata ada orang yang perhatian sama gue,” jawab gue ngasal. “Jika sempat gue pasti kasih perhatian ke orang itu juga.”

Bani kembali nyengir senang. Gue nggak ngerti maksudnya apa. Sekali lagi gue menebak bisa saja salah satu jus itu memang dari Bani. Jika memang seperti itu berarti ada dua pangeran yang ngejar gue. Oh My God!!!

“Pulangnya sama aku aja ya,” ajak Bani.


Gue nggak bisa nolak karena Bani sudah menyeret gue ke arah motor yang sedang diparkir. Gue jadi memebayangkan ala jaman kerjaaan bisa berkuda bareng pangeran. Gue juga seneng dari belakang bisa nyium keringat maskulin Bani. Apa ini yang namanya jatuh cinta?

Wednesday, 10 June 2015

Cerbung: Cinta Segi Empat (Part 2)

Gue masih terkejut dengan kejadian kemarin. Bani sebenarnya naif atau pura-pura polos? Apa mungkin dia sedang mancing gue kali ya? Tapi menurut gue sih Bani emang gay dech. Dia ada ketertarikan sama cowok, buktinya dia mau diajak bermesraan. Tinggal disentil sedikit, ceng deh... bisa buat ML. Sial!! Pikiran gue mulai kotor. Bani oh Bani kenapa membuat fikiran ku jadi kacau.

 Setelah kemarin ngobrol-ngobrol sama Bani gue jadi sedikit lebih mengenal Bani. Dibalik perangainya yang kasar ternyata ada kelembutan dibaliknya. Dia tau betul gimana cara memperlakukan orang yang disayang. Gue iri sama cemcemannya Bani. Gue masih punya kesempatan nggak ya?

“Doorr!!!” Tepukkan tangan menyentuh pundak gue denga keras, dari arah belakang ada yang ngaggetin gue.
“Banci lu bancii!!! Pekik gue latah karena kaget. Gue tengok ke belakang, ternyata Papang yang ngaggetin gue.
“Parahhh nih anak ternyata latah,hahahha.” Papang tergelak puas ngetawain gue. “Ngelamunin mau jadi banci?”
“Apaan sih!!”  gue mendengus kesal. Tapi untung aja gue nggak nyebut Bani, bisa brabe donk kalau Papang tau gue mau pepetin Bani.

Papang duduk di sebelah gue. Senyumnya masih menghiasi di wajahnya setelah puas menertawakan gue. Tumben banget dia nyamperin gue. Biasanya dia nempel terus sama Dara. Saat ini gue lagi duduk di depan kelas sendirian.

“Eh tumben nyamperin gue?”
“Iya. Tadi aku liat kamu sendirian, jadi aku samperin,” jawab Papang, sebenarnya itu bukan jawaban juga karena ngambang. “Lagi ngelamunin apa sih? Kayaknya seru banget.”
“Lagi ngelamunin kamu.” Gue menengok ke arah Papang sambil senyum dimanis-manisin. “Kepo dech....” Gue balik lagi dengan intonasi judes.
“Ya udah dech, aku pergi lagi...” Papang sudah siap bangkit lagi. Gue segera menariknya lagi. Dia akhirnya duduk lagi. Mungkin yang tadi hanya gertakan saja.

Papang emang manis juga, nggak kalah dari Bani. Kalau Bani kelihatan bengal sedangan Papang lebih manis dan pintar. Meskipun tanpa Dara kita tetap akrab ngobrol lewat celotehan komentar di Facebook atau cuittan di Twitter. Gue belum mengindikasikan kalau Papang gay lewat sosial media karena kebanyakan di friendlistnya cewek. Dia juga sering bikin status galau pengaharapan cinta dari seseorang. Gue nggak tahu ditunjukan untuk cewek atau cowok.

“Gue lagi bingung Ar,” Papang memulai sesi curhat. “Gue suka sama orang yang baru gue kenal tapi.....” Papapang menghentikan ucapannya yang masih tergantung karena sulit unuk mencari kata yang pas untuk mengakhiri.
Tapi ada banyak kemungkinan untuk melengkapi. Bisa aja tapi dia terlalu cantik, dia beda agama. Gue sendiri ngarepnya tapi dia cowok, jadi gue ada kesempatan untuk memepetin. “Tapi apa?” gue tanya dengan tenang layaknya psikolog. 
“Tapi apa ya?” Papang menggaruk rambut yang sebenarnya nggak gatal. “Nggak ada tapinya sih.” Lanjut Papang menggantung.  Gue yakin ada tapinya karena diakhir kalimat ada kata siihhhh.
“Ya udah kamu langsung pdkt aja,” saran gue standar banget karena gue juga nggak tau harus ngapain juga. dia aja ceritanya setengah-setengah.
“Aku taku kalau aku nggak menarik di mata dia. Aku sama dia itu beda jauh banget. Dia orang yang gaul, sedangkan aku cupu kayak gini.” Omongan Papang cepat banget dalam satu tarikan nafas. Dia mencoba mengeluarkan isi hatinya.
“Nggak ada salahnya juga kan kamu deketin dia dulu. Nggak semua orang gaul harus pacaran atau temenan sesama yang gaul juga,” gue balas dengan bijak, sok psikolog. Nggak ketinggalan gue pegang tangan dia untuk menumbuhkan keyakinan. Padahal gue lagi cari kesempatan ngelus tangannya yang sedikit kasar.
“Kalau gitu makasih ya......” Kali ini Papang yang gantian meremas tangan gue. Tapi yang gue rasakan dia meremas-remas hati gue.
“Gue kenal nggak sih?” gue emang penasaran. Orang baru dan gaul, berartikan gue banget donk. Siapa tau emang ditunjukkan untuk gue. Papang membalas dengan senyuman. Gue menembak pasti gue kenal gebetan Papang. Apakah temen gue juga nggak ya? “Dia cewek atau cowok?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulu.
Dahi Papang mengernyit mendengar pertanyaan dari gue. “Maksudnya cowok?”
“Ya maap,” balas gue cepat, nggak enak hati aja nyeplos gitu aja. Mungkin di sini belum kelihatan biasa aja kali cowok pacaran sama cowok. “Kan udah biasa tuh cowok sama cowok malah pacaran,” lanjut gue untuk memancing.

Papang malah balas dengan senyum lalu langsung ngeloyor pergi tanpa pamitan. Ah sial!! Dia ninggalin gue dengan membebankan rasa penasaran. Gue mulai menganalisa sendiri. Jika dia cuma senyum aja berarti dia emang naksir cowok. Biasanya cowok normal langsung protes ketika ada pertanyaan “suka cewek  atau cowok?”. Sudah ada dua cowok yang terindikasikan gay.

Intinya sekarang gue tau, Bani udah positif suka cowok sedangkan Papang masih absud masih perlu dipastikan. Nggak ada salahnya untuk deketin mereka kan? Jika pun mereka deketin gue, nggak perlu gue tolak. Rejeki itu pamali kalau ditolak, nanti malah dijauhkan.

@@@

“Arya..... Arya.....” Dari belakang terdengar suara orang lari dan ada yang menyebut nama gue. Secara reflek gue nengok. Ternyata Bani yang manggil gue. Dia terlihat terburu-buru menghampir gue.

Gue mematung menunggu Bani. Gimana gak mematung, gue terkesemia sama badan dia yang bagus tanpa balutan baju. Sepertinya dia baru kelar main basket, tuh buktinya keringat mash bercucuran dari kening, badannya pun basah mengkilat. Gue harus tenang, jangan sampai kelihatan kalau gue lagi girang ngeliat body sebagus ini. Tapi gue nggak tahan pengen dech ngelap keringet dia atau langsung peluk dia. Hhuuaaaa!!!!

“Ada apa Ban?” tanya gue dengan tenang. Tapi jantung gue berdegub dengan kencang.
“Nggak ada apa-apa. Aku cuma mau.......” omongan Ban ngambang. Sepertinya dia ragu untuk melanjutkan omongannya.
“Apa sih?” tanya gue penasaran nggak sabar apa yang akan diomongin Bani selanjutnya. “Kalu nggak ada apa-apa gue mau pulang.” Ancam gue sambil siap-siap mau pergi.
“Eh jangan pergi dulu.” Tangan Ban mencekal tangan gue. “Elu kan pinter ngarang.” Perkataan Ban kembali terputus.

Gue nggak ngerti maksudnya pinter ngarang. Apakah dia tahu kalau gue emang pinter “ngarang” cerita alias suka ngibulin? Absurd banget dech. Celaka juga kalau dia tau gue emang suka ngarang cerita buat dapetin cowok yang gue suka. Gue malah jadi khawatir Bani menjauh dari gue atau dia malah mau ninju gue.

“Aku mau minta diajarin ngarang untuk pelajaran Bahasa Indonesia,” lanjut dia dengan satu tarikan nafas.
Gue bernafas lega, ternyata maksudnya itu. “Ohh... Kapan dan dimana?” tanya gue to the point. Gue gugup saking senengnya.
“Kamu mau tunggu sebentar?” tanya Bani. Gue Cuma balas mengangguk. “Gue mau ambil baju terus langsung ke rumahku. Nanti aku antar kamu pulang ke rumah.” Tanpa ada persetujuan dari gue, Bani langsung ngacir ke lapangan basket.

Sekarang gue udah ada di kamar Bani. Gue nggak ngira kalau kamarnya bisa serapih ini. Buku pelajaran tertumpuk teratur, selimut terlipat, nggak ada kertas yang berserakan Padahal tampilan Bani sering acak-acakkan, baju dimasukin waktu pelajaran aja, rambutnya nggak pernah sisiran, kadang kancingnya kebuka satu.

Tiba-tiba Bani masuk ke kamar tanpa permisi, membuat aku kaget. Ya iyalah masuk ke kamarnya sendiri koq pakai permisi. Yang buat gue kaget adalah dia nggak pakai baju, dia cuma pakai bokser aja. Handuk masih membelit leher, rambutnya juga masih basah. Semoga saja dia langsung pakai baju.

Bani langsung duduk di hadapan gue. Satu tangannya terangkat mengibaskan rambutnya yang basah. Sialan!!! Bulu keteknya bikin mupeng aja. “Jadi gini Ar, aku dapat tugas ngarang. Tapi aku bingung mau cerita apa.” Bani langsung memulai membahas tugas mengarangnya.
“Iya buat aja yang apa yang sedang kamu pikirkan,” jawab gugup. Gimana nggak gugup di depan gue ada suguhan pemandangan indah gitu.
“Hhhmmmmm,” dia bergumam sambil memikirkan sesusatu. Kemudian dia merubah posisinya.

Sekarang Bani tidur terlentang. Kedua telapak tangan jadi bantal kepalanya. Posisi itu membuat aku semakin nggak tahan. Sudah puluhan kali aku menelan ludah mencoba mengendalikan birahi. Apalagi dengan posisi sekarang semakin terbuka saja bulu-bulu ketek halus itu berayun tertiup kipas angin.

Gue udah nggak tahan, gue nyerah. “Gue pulang dulu ya.” Gue lekas beranjak.
“Eh bentar donk....,” protes Bani. Dia langsung bangkit juga dan menarik ku.”Belum aja mulai koq udah pulang,” ujar Bani cuek.

Gue bergeming. Apa pula maksud belum mulai? Emang mau ngapain? Apa ini bukan sekedar bikin cerpen biasa. Atau ini adalah penjebakan. Akan ada hal lain yang akan terjadi. Gue harap sih ada acara pemerkosaan.hahahaha.

“Gue ada ide!!” pekik dia. Gue tahu dia sedang mencegah gue pulang.
Gue terpaksa duduk lagi. Menunggu dia cerita. “Kamu pakai baju dulu dech,” kata gue bersikap tenang.
“Kamu lagi nggak masa subur kan?” tanya Bani menggoda, senyum juga jahil banget.
Buset....dia ngomongnya gitu. jangan-jangan dia malah yang tahu duluan kalau aku yang gay. “Nggak!” jawab ku dengan intonasi agak tinggi dan gelagapan. Sial!! Bani malah meremas dadanya. “Ya udah dech aku pulang,” aku mengancam lagi.
Bani segera menghentikan aktifitas menggoda. “Iya dech maap.”
“Terus kamu punya ide apa?” tanya gue dengan ketus.
“Gue ada cerita. Kalau seseorang yang baru kenalan tapi udah ada rasa suka,” balas Bani dengan cepat karena dia tahu gue sudah agak kesal.

Gue serasa de javu. Gue antara ingat dan lupa, tetapi gue pernah dengar seperti ini. Kejadiannya belum lama. Gue bergeming sembari mengingat lagi kejadian berapa waktu lalu tetapi masih hari ini. Cerita ini pernah dikatakan seseorang tapi gue lupa siapa yang ngomong.

Ada tangan yang sedang berayun-ayun di hadapan gue. “Arya.... Ar..” ternyata Bani yang memanggil gue. “Kamu denger nggak sih apa yang aku ceritain? Kamu malah ngelamun.”
“Eh sory,” tukas gue cepat. “Gue dengerin elo koq,” kilah gue pura-pura perhatian sambil menatap matanya.
“Jadi elo bisa bantu aku?” tanya Bani. “Inti ceritanya si A itu kenalan sama si B karena ada masalah jadi suka B. Tetapi B nggak sadar kalau A suka dia,” celoteh Bani lagi untuk menyimpulkan cerita yang tadi gue nggak dengerin.


Gue baru inget. Cerita ini sama dengan Papang. Apa ini Cuma kebetulan atau keduanya sedang ngerjain gue? Kalau ngerjain gue, buat apa? Kalaupun kebetulan kenapa mereka cerita sama gue? Apa mungkin mereka suka sama gue tetapi dengan cara tersembunyi untuk mengungkapkannya. Gue harus gimana lagi??

Bersambung

Telah terbit buku tema Gay dengan judul #KAMUFLASE. Penjualan melalui On Line, pemesanan bisa KLIK SINI. TEMUKAN IDENTITAS MU DENGAN KAMUFLASE 

Friday, 8 May 2015

Cerbung :Gay Segi 4 (Bagian 1)

Gay Segi Empat

Foto: screen shoot dari FTV Grey Secreet

Hari ini pertama kalinya gue masuk di sekolah ini. Gue emang anak pindahan dari Jakarta, sekarag gue tergabung Ngapak Language Community dengan kata lain gue jadi anak Tegal yang emang pakai bahasa Jawa dialek Ngapak-ngapak. Gue terpaksa pindah sekolah dan daerah karena menghindari mantan gue yang rese, sudah mengancam kemaluan gue. Perlu digaris bawahi kemaluan disini bukan bagian dari organ genital.

Pertama kali datang ke sekolah, gue udah mules-mules, bukan karena pup yang belum tuntas apalagi hamil. Perut gue kram gara-gara kuping ini belum terbiasa dengan orang ngomong pakai bahasa ngapak-ngapak. Sumpah bagi gue itu lucu banget, lebih lucu dari parodinya Parto Patrio, Cici Tegal, atau Kartika Putri.

“Heh, kamu kenapa koq muka kamu merah banget?” tanya Dara dengan akhir kata yag medok.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab ku berbohong, padahal tawa ini sudah sampai pucuk pengen dikeluarin.
“Kamu sakit? Maring –ke- UKS ya,” ajak Dara perhatian, nggak ketinggalan dengan medok ngapak.
“huaa...kakakaak hahahahah,” dengan lantang gue ngakak sekenceng-kencengnya. Semua temen baru pada nengok ke arah gue dengan tampang yang konyol. Mungkin mereka kira gue sedang kerasukan. Apalagi ngeliat wajahnya Dara lebih ajaib lagi.

Oh ya Dara itu temen sebangku gue. Dari namanya juga keliatan kalau dia berkelamin wanita. Buat cowok yang normal pasti naksir sama dia, bemper depan belakang bohay. Parasnya cantik alami orang Jawa. Kulitnya sawo mentah, nggak putih tapi nggak agak kecoklatan. Mungkin ya kalau dia diem itu cewek gaul yang sempurna ala Agata (Anak Gau Jakarta), tapi kalau udah ngomong bikin ilfeel. Sory Dar.

“Eling....nyebut Ar.. eling....,” Dara memerintahkan gue untuk sadar dan berIstighfar. Wajahnya panik dan tampak tolol ngeliat gue yang nggak sadarkan diri.
“Astaghfirllah..... nyebut...but but but,” ucap gue yang berusaha nahan tawa. “Sory Dar...beneran sory. Gue nggak maksud ngetawain kamu. Tapi bahasa kalian emang lucu,” kata gue jujur, sudah agak sedikit tenang.

Gue ngeliat Dara bibirnya monyong, mungkin kesal dengan kejujuran gue. Beneran dech buat gue ini lucu banget. Tampaknya gue perlu kerja keras untuk adaptasi dengan pedengaran ini. Gue ngambil nafas dalam-dalam buat lebih tenang, tapi hasilnya sia-sia. Gue terengah-engah ngeliat orang mendekati gue. Pancaran auranya menyilaukan.

“Dar....pinjem PR matematika mu donk. Jam terakhir sih, tapi aku masih ada yang belum dikerjain. Tolongn ya....” dia memohon pada Dara.

Hati gue mencelos, ternyata dia menghampiri Dara, bukan gue.  Harapan gue runtuh, padahal udah ngarepin nyamperin gue buat kenalan. Gue udah ke GR-an, abisnnya dia senyum-senyum waktu masuk kelas. Sesekali dia juga senyum ke Dara (tapi gue pikir ke gue).

Dara memberikan buku petak kepada dia yang sedang berdiri di samping gue. “Oh, kenalin nih Arya anak baru dari Jakarta yang stress.” Dara ngenalin gue ke temannya.
“Papan.” Dia menglurkan tangan untuk bersalaman. Gue tau itu cuma nama panggilan saja. Nama panjang yang ada di tagname nempel di seragam tertulis Panji Permana Putra.
“Papan penggilesan ape papan tulis?” tanya gue bekelakar dan sedikit terkekeh. Dia cuma balas senyum manis.
“Papan triplek,” sambar Dara sambil terkekeh. “Ke kantin yuk.” Dara bangkit dari tempat duduknya dan langsung menarik gue dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menarik Papan.

Gue nggak protes diculik Dara secara paksa, karena gue bisa lebih lama dengan Papan. Emang bener sih kata Dara kalau Papan mirip papan triplek alias dia kurus. Gue suka Papan karena senyumnya yang manis, ada lesung pipitnya. Ini adalah pertemuan pertama tapi gue ngerasa udah jatuh cinta, tentunya sama Papan. Wangi parfum murahan terbang terbawa angin merasuki indra penciuman. Ini bukan hanya bau parfum tapi dia menebarkan feromon juga. Feromon akan keluar jika orang dekat dengan orang yang disuka.

Kantin sudah penuh sesak dengan anak-anak yang sedang kelaparan. Begitu gue masuk kantin sebagian besar memalingkan kepada gue, mungkin bagi mereka ada orang aneh tiba-tiba masuk ke kantin. Gue emang beda dengan mereka, hari ini mereka pakai seragam sekolah sedangkan gue pakai baju putih abu-abu.

“Eh kenal Bani gak? Anak 11 IPS 1?” tanya Papan pada Dara.
“Nggak kenal banget sih, cuma tau aja. Kenapa?” Dara menanggapi dengan semangat karena pasti bakal ada gosip seru. Emang ya cewek selalu bersemangat dengan gosip, apalagi yang masih segar.
“Kabarnya sih... gosipnya ya......,” Papan sengaja menghentikan sejenak omongannya biar gue sama Dara jadi penasaran. “Dia homo,” bisik Papan.
“What!!! Kue beneran –itu beneran-? Dih lah bagus kaya kue ka yah...-aduh, ganteng seperti itu-” Dara merespon dengan kaget tapi kemudian jadi merasa iba.
“Kalian lagi ngomongin Bani homo atau kue apaan sih?” tanya gue dengan polos sambil menyela omongan Dara, suara gue juga lumayan agak keras untuk melawan kegaduhan suasan kantin.

Swing....... mendadak suasana kantin jadi hening begitu gue selesai ngomong. Orang-orang dengan kompak langsung nengok ke arah kita. Gue, Papan, dan Dara cuma bisa bengong menjadi pusat perhatian dari puluhan siswa. Mereka lagi nungguin reaksi kita selanjutnya. Nampaknya Bani adalah selebritis sekolah, liat aja mereka antusias siap mendengarkan lanjutan gosip kita.

“Ini.....kue bantet banget, gosong pula.” Dara berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan perhatian. Jajan yang dipegang gue jadi kambing hitam. Gue bengong dengan suasana awkward ini. Kantin kembali seperti semula, meski ada beberapa anak yang curi-curi padang ke kita.
“Sialan......” Panpan menoyor kepala gue. Meski kita baru kenal berapa menit lalu, tapi kayaknya kita gampang akrab. “Kalau ngomong dijaga sih,” Papan msih ngedumel. Gue ngeliat Dara nyengir saja. Gue pasrah aja kepala ditoyor Papan.
Back to topic. Kamu dapat gosip ini dari mana?” tanya Dara pelan.
“Kata Imey. Dia ngeliat Bani lagi boncengan mesra sama cowok,” kata Papan semangat.
“Jiahh..... Imey aja dipercaya ratu gosip gitu. Imey itu kalau bikin gosip murahan,” Dara agak kecewa mendengarkan kelanjutan gosip itu. Gue jadi tambah tau lagi informasi kalau ada gosip murahan pasti datangnya dari Imey. Gue mesti jauh-jauh dari Imey.

Gue jadi antusias mendengar kelanjutannya. Sehebat apa sih si Bani itu sampai satu kantin pada nengok mendengar kata Bani. Selain penasaran dengan Bani kayak gimana, gue juga pengen menyelidiki juga. Sapa tau bisa dijadiin prospek untuk gebetan.

“Eh itu ada Bani.” Papan menunjuk cowok yang baru masuk kantin. Wajahya manis, kulitnya sawo matang, dan badannya sedikit atletis tapi cenderung gempal.

Ok. Itu target berikutnya, berarti sudah ada dua calon pacar gue. Papan dan Bani, akan ada tantangan dikehidupan yang baru. Gue juga bukan orang yang maruk keduanya dipacarin kalau misalnya dapat. Gue mau yang terbaik untuk gue dan masa depan.

@@@


Udah seminggu gue sekolah di sini, sepanjang minggu kemarin gosip Bani homo jadi trending topic bahkan menduduki peringkat pertama. Setelah gue amati dan hasil penelusuran gaydar (gay radar), Bani terindikasi sebagai homo. Pertama dia emang ikut eskul basket tapi yang gue lihat dia cuma nonton aja, alias liatin bulu ketek temen-temennya. Kedua sebagian besar teman di Facebooknya kebanyakan cowok. Ketiga, dia masih jomblo.

Itu adalah asumsi sementara gue, masih perlu dibuktikan secara nyata dari mulu dia sendiri. Bisa aja kan fakta-fakta yang tadi gue sebutin bisa salah. Semoga saja sih benar, jadi gue bisa pepetin dia. Gue harus waspada dalam penyelidikan lebih lanjut karena dia itu murid bengal, terkesan kasar. Menurut Dara, Bani sudah punya catatan hitam di buku kasus yang dipegang oleh guru BK.

Sekarang gue lagi sendirian di kelas, sekolah juga sudah sepi ditinggal penghuninya yang pada ngandang ke rumahnya masing-masing. Saat jalan jalan menuju pintu kelas, tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan keras, eng ing yang muncul adalah Bani, dengan wajah yang angker.

 “Kamu ya namanya Arya? Anak baru yang cari gara-gara!” Dia membentak gue, wajahnya terlihat merah karena marah. Gue mengangguk saja karena gue juga nggak tau mau jawab apa. Gue udah panik duluan dan takut sekaligus terkesan kegagaan Bani. “Kamu yang nyebarin gue homoo di kantin?” suara dia makin meninggi, tangannya juga menunjuk-nunjuk.
“Apaan? Gue nggak ngerti apa-apa,” jawab gue gemeteran, apalagi dia tambah mendekat ke arah gue.
“Alah.....belagak bego!! Coba inget-inget minggu kemaren, koen ngomong apa nang kantin?!!” Bani semakin dekat dengan gue, sekarang jaraknya cuma dipisahkan oleh meja. Tangan Bani sudah mengepal.
“Sumpah gue nggak ngerti apa-apa,” ucap gue membela diri, sebenarnya inget tapi gue mau cari aman saja. Kata lupa biasanya manjur. Kali ini gue emang takut beneran, berdasarkan kasak kusuk, Bani emang terkenal suka main pukul.

Gue liat telapak tangannya sudah mengepal dengan posisi siap menonjok. Tampangnya pun semakin garang, otot di bawah telinga menyembul kaku. Selangkah gue mundur untuk memberi jarak, tapi gue juga nggak ngerti harus ngapain lagi. Gue terjebak di kelas. Gue pasrah juga kalau dia memang mau nonjok pipi mulus ini.

Tanpa aba-aba tangan Bani yang sudah mengepal melesat cepat ke arah pipi gue. Mata gue terpejam nggak ingin liat pipi yang sudah dirawat dengan cream malam rusak begitu saja. Seharusnya kecepatan pergerakan tangan Bani melesat dalam 3 detik untuk menyentuh pipi, tapi ini lebih dari 6 detik gue nggak merasakan hantaman tinju. Perlahan mata gue buka, ternyata ada dua cowok ganteng di hadapan gue. Papan sedang mencekal tangan Bani yang nyaris meneyentuh pipi yang tanpa jerawat. Gue mundur selangkah lagi agar di luar jangkauan tangan Bani.

“Ucul belih –lepasin nggak-!!!” pekik Bani pada Papan yang masih mencengkram tangan Bani. Tampang Bani semakin murka aja.
“Ora –Nggak-,” Papan membalasnya lebih galak. Cengkraman tangannya semakin kuat karena Bani masih berusaha memukul gue. “Arya kue ora salah.... deweke belih ngarti apa-apa –Arya itu nggak salah, dirinya nggak ngerti apa-apa.”

Tangan Bani sudah turun, tapi wajahnya masih tetap angker. Papang juga sudah melepaskan cengkramangan. Tampaknya suasana sudah sedikit cair. Aku bernafas lega, pipi gue masih mulus nggak ada cetakan lebam. Tanpa kata-kata Bani meningglakan gue dan Papan. Sampai ujung pintu, Bani masih meletotin seakan matanya biacara kalau akan buat perhitungan lagi.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Papan perhatian. Matanya menyapu habis badan gue untuk memastikan gue baik-baik saja.
“Nggak apa-apa.” Suara gue masih gemetaran. Gue gemetaran bukan karena Bani mau mukul, tapi gue sedang terpesona kegagahan Papan. Otak gue sedang melayang pada sinetron. Gue seakan-akan sedang ditolong oleh pangeran pujaan hati. Ok, khayalan gue emang lebay.
“Yakin?” Papan kembali memastikan lagi. “Kayaknya kamu untuk berapa hari ini jangan keluyuran sendirian dech. Kamu tinggal panggil aku kalau kamu ada apa-apa atau butuh temen.” Papan menganmbil smarthpone gue yang ada di saku baju. Dia mengetuk nomor telpon selularnya di phone book, lalu mengembalikkan lagi di saku baju.
“Makasih ya,” ujar gue dimanis-manisin tentunya sambil menjaga kontrol. Padahal hati gue sudah girang banget loncat sana sini. Gue sudah dapat nomernya Papan dan dia sudah bersedia jadi bodyguard gue.

Sepanjang hari gue senyum sendiri, mengingat kejadian tadi siang. Gue ngerasa hidup ini bagaikan sinetron, anak lemah yang ditolong oleh lelaki pujaan hatinya, diakhir cerita mereka bisa hidup bahagia selamanya. Gue cuma bisa membayangkan itu, nggak bisa lebih karena ending indah hanya ada di sinetron. Gue harus realistis, belum tentu Papang menyukai gue. Dia hanya menunaikan kewajibannya sebagai manusia yang peduli terhadap sesamanya yang sedang terpojok.

Gue nggak mau putus asa, pasti ada celah untuk menaklukkan Papang. Bisa ditebak donk, malemnya gue ngobrol sama Papan lewat Line, gue dapet dari link nomer ponselnya. Gue juga dapet acount Facebook, Twitter, Path, dan Instagramnya. Gue sedang mengumpulkan data pribadi dia, mulai dari tanggal lahir, kesukaan, kegiatan sehari-hari, hobinya, dan lain-lain. Sayangnya gue nggak bisa dapetin informasi warna celana dalam yang dia suka.

Gara-gara peristiwa tadi siang pun gue jadi penasaran sama Bani. Langsung dech gue selancar mencari informasi yang lebih akurat dan detail,  untungnya Facebook dan Twitter Bani nggak. Gue jadi ngerti sisilain dari Bani, ternyata dia anak yang suka galau dilihat dari cuitan di Twitter dan status di Facebook. Malam ini sekian dulu untuk stalkingnya.

@@@

Siang itu, sekolah sudah sepi karena pulang cepat ada rapat guru. Dara juga sudah buru-buru pulang karena ada acara rujak-rujakkan bersama gank ceweknya. Gue pengen ikut sih tapi nggak enak, gue jadi laki sendiri nanti jadi latah cobain make up yang baru mereka beli. Tadi di kelas mereka sudah heboh pamer make up. Sumpah gue gregetan sama lipglosnya, baunya wangi banget. Eehhh, ya sudah lah.

Gue menelusuri koridor kelas yang sepi, tinggal ada beberapa siswa yang sedang menyelesaikan piket. Gue emang sering pulang belakangan karena biasanya suka ngeliatin anak basket main di lapangan, hhmmm bukan liatin caranya mainnya sih, lebih tepatnya liat body dan bulu ketek pemain basket termasuk Bani,hehehe. Hampir sama kelakuan gue dengan Bani (mungkin).

Gue ke kantin dulu, beli dua milk tea sekaligus. Gue emag doyang banget jadi mesti beli dua. Btw Bani juga suka sama minuman ini, dia sering mencuit lagi minum milk tea di taman belakang sekolah. Gue beli dua juga karena sapa tau ketemu dia jadi sekalian kasih minuman ini sebagai tanda maaf. Jujur aja gue jadi nggak enak hati atas gosip yang menerpa dia, secara nggak langsung gosip itu subur berkat gue.

 Itu dia target gue, sesuai dengan dugaan gue. Bani lagi duduk sendirian di bawah pohon pinus belakang sekolah. Gue pernah baca di TL Twitter-nya kalau tempat favoritnya di sekolah ya di sini. Sudah di dekat dia tapi gue ragu mau nyamperin. Bayangan insiden di kelas masih terbayang, gue jadi jiper sendiri. Dari jauh gue ngeliatin dia, mukanya teduh banget sama sekali nggak keliatan garang. Mungkin mooodnya hari ini dia baik. Gue bertekad untuk menghampirinya. Masalah ini harus bisa diselesaikan, gue nggak mau jadi bulan-bulanan dia.

“Hai...” sapa gue pada Bani yang membelakangi gue. Tangan gue gemetaran untuk memberanikan diri menyapa dia. Minuman yang ada ditangan bergoyang-goyang hingga sedikit tumpah.

Bani membalikkan badan, dan matanya terbelalak ngeliat gue. Wajah yang tadi teduh berubah drastis jadi garang, tapi tetep aja keliatan gagah. Tuh kan, gue jadi grogi beneran. Gue grogi deket sama orang gagah macam Bani. Ok, harus konsisten sebagai cowok pemberani, nggak boleh kabur.

“Pan apa koen mene –mau apa kamu ke sini-?” pekik dia. wajahnya memerah, rahangnya juga kaku. Bani memang terlihat begitu marah.

Gue tambah aja gemeteran, lutut sampai lemes. Pokoknya nggak boleh sampai pingsan. Matanya tajam banget ngeliatin gue, sampai bikin salting. Sekarang dia berdiri, OMG ternyata badannya agak kekar dikit, gue maiki nggak berkutik *gagal fokus. Ok,  mengatur nafas agar tenang.

“Gue minta maaf Ban.” Meski suara gue bergetar, tapi lancar menyampaikan permintaan maaf. “Sebagai permohonan maaf dari gue, ini untuk kamu.” Gue menyodorkan segelas plastik milk tea yang ada di tangan.
Bani masih bergeming, menatap gue lekat. Mungkin dia masih heran, gue lagi kesambet jin sekolah bisa berani berhadapan langsung. Otot Bani sudah mengendur tanda sudah sedikit rileks. “Oh..... jadi benar kamu yang menyebarkan gosip itu?” tanya Bani dengan ketus.
“Nggak tau. Tapi gue tetep harus minta maaf, karena reputasi kamu sudah ternoda, gue sedih dengarnya.” Tangan gue masih menjulur, berharap Bani menerima minuman yang udah gue beli.
“Ohh......,” suara Bani melembut. Dia juga kembali duduk di tempat yang sama, tanpa menghiraukan pemberian gue.

Gue mendekati Bani, dan duduk di sampingnya. Dia hanya menengok sejenak lalu pandangannya kembali lurus menatap air mancur. Meski berapa saat hanya ada suara hembusan angin, gue sudah cukup senag karena Bani masih membiarkan gue duduk di sampingnya. Artinya dia sudah mulai menerima gue. Minuman yang tadi gue beli ditaruh samping Bani. Gue nggak peduli dia mau meminumnya atau nggak yang penting niat baik sudah gue sampaikan.

Bani nengok ke arah gue, beberapa detik ngeliatin gue terus. Kenapa sih jadi kayak gitu, gue kan jadi grogi sendiri, apa lagi dia nggak ngomong-ngomong. “Maafin aku ya, memang bukan salah kamu koq.” akhirnya Bani bersuara juga. Gue lega dia nggak marah ke gue. “Kamu mau maafin aku kan?” tanya dia dengan suara lembut.
“Iya nggak apa-apa koq.” Gue bales pakai senyuman terbaik yang gue punya.
“Makasih udah beliin minuman kesukaan ku.” Bani mengambil lalu menyeruput milk tea. “Koq kamu tau aku suka milk tea?”
“Ehh.. hhmmm,” gue tergagap bingung mau jawab apa, nggak mungkin juga gue jawab ngeliat dari Twitter. Nanti dia kira gue adalah psikopat yang lagi buntutin korbannya. ”Gue sering liat lo, bawa milk tea kemana-mana,” jawab gue berkilah.
“Ouhhh.” Dia kembali menyeruput minumannya. “Kamu anak Jakarta kan?” tanya dia. Gue Cuma balas mengangguk karena posisi gue sedang minum. Tampaknya dia akan mengaukan pertanyaan lagi tapi ada keraguan. “Menurut kamu wajar nggak sih.....” Bani menghentikan omongannya, dia masih ragu untuk menyampaikan. “Kalau sahabatan cowok tapi mesra gitu?”

Bersambung


Telah Tersedia buku kumpulang Cerpen Bertemakan Gay. klik sini untuk pemesanan dijamin gak nyesel kalau udah beli dan membacanya. TEMUKAN IDENTITAASMU DALAM KAMUFLASE

Tuesday, 16 December 2014

Cerbung: Dia (Epilog)

Satu Kesempatan Lagi

Aku tersentak kaget mendengar ucapan dia yang menngatakan itu. Bukan ini yang aku mau, ini sudah diluar rencana. Aku nggak percaya dia mengatakan seperti itu. Bukannya aku memprotes, tapi aku malah tercenung, melamun. Aku nggak tahu mau ngomong apa. Maksud aku hanya untuk melihat perjuangan dia seperti apa dalam mempertahankan hubungan ini. Aku juga nggak mungkin menjilat ludah ku sendiri.

Penyesalan juga sudah tidak ada gunanya lagi, peristiwa itu sudah empat tahun lalu. Bukan melupakannya tapi aku sudah ikhlas untuk menjalani hanya sebatas persahabat. Aku rasakan juga lebih baik seperti ini. 

Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Tetapi aku tidak begitu merasakan hari terus bergulir. Pertemuan di Renon merupakan perjumpaan membahagiakan dengan dia. setelah itu kita tidak pernah bertemu dengan dia lagi. Kita sibuk dengan dunianya masing-masing.


MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase
. Terima Kasih



Cerbung: Dia (Chapter 8, Move On)

Sampai saat ini tepat satu bulan aku masih belum menerima kata putus. Aku menganggapnya sebagai break. Sejenak kita memang harus “istirahat”, menjernihkan fikiran, memikirkan ulang hubungan ini akan di bawa kemana? Serta apakah ini yang terbaik?

MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Cerbunng: Dia (Chapter 8 : Jangan Lakukan Itu)

Aku masih bingung dengan semua ini. Hubungan aku dengan dia menjadi dingin, bahkan hampir beku. Sudah bebeberapa hari sejak kepulangn ku ke Bali, kita hanya sesekali bertukar kabar. Aku membaca pesannya terlihat dia terpaksa membalas, karena hanya ada beberapa kalimat dan kata-katanya disingkat. Berbeda dengan biasanya yang berkalimat panjang, nggak hanya bertukar kabar tetapi ditambah beberapa cerita.


MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Tuesday, 30 September 2014

Cerrbun: Dia (Chapter 7: Posesif)

Posesif

Sepanjang perjalanan ke Malioboro kita hanya diam, membisu. Aku tahu dia sedang marah, jadi lebih baik ku diamkan saja juga. Aku malas berdebat dikendaraan, bisa-bisa malah jadi kecelakaan. Dia juga nggak memeluk aku, padahl tadi waktu berangkat diatas motor masih memeluk aku dari belakang.

Di taman depan Gedung Agung kita duduk berdua saling membelakangi. Aku sengaja masih diam menunggu apa yang akan dia omongkan.




MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Saturday, 27 September 2014

Cerbung: Dia (Chapter 7: Cemburu)

Cemburu

Bunyi dering telpon dari ponsel sangat memekakan telinga. Setengah sadar aku meraih ponsel yang ada dimeja sebelah ku. Aku lihat ternyata yang telpon teman kuliah, ada apa pula pagi-pagi gini dia telpon. Nggak tau apa ya sekarang aku lagi sama pacar, masih ingin tidur dipelukan dia.

Terpaksa aku angkat telpon teman ku ini. “Halo. Ada apa pagi-pagi gini telpon?”
“Sory ganggu. Penting banget nih aku mau 

MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Cerbung : DIA (Chapter 7: Love Story)

Sudah enam bulan jadian sama dia, oh ini ternyata rasanya pacaran, aku bahagia. Meski pacaran jarak jauh tapi tak merasa jauh dengan dia, karena dia selalu ada untuk ku. Dia hadir ketika aku sedang galau untuk sebuah pilihan memilih. Dia selalu jadi pendengar setia ketika aku mulai berkeluh kesah betapa menyebalkan dosen yang ngeyel dan hari yang tak menyenangkan. Tapi itu semuanya curhat melalu Skype. Kita bisa merasakan bertatap muka. Ada satu hal tak perlu melalalui Skype yaitu senyum dia selalu menempel dalam benak ku jika sedang merasa kesal, senyumnya membuat aku ceria kembali.
Malam ini dihabiskan hanya berduaan saja. Setelah makan malam romantis kita berdansa masih di rooftop. Lalu kita bercerita banayak, aku tiduran dipangkuan dia. Dengan lembut tangan dia memembelai rambut. Sesekali dia mengecup bibir ku karena nggak tahan saking gemasnya. Apakah ini pacaran??



MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Friday, 4 April 2014

Dia : (Chapter 6: Tak Rela)

Sudah satu bulan ini nggak ada kabar dari dia. Tiga hari pertama sangat tersiksa, tak ada kawan untuk bertukar cerita atau hanya sekedar berdebat kecil. Seminggu berlalu saya sudah mulai terbiasa, tak ada yang merengek manja minta di temani tidur walau hanya lewat Skype.

Benar-benar tidak ada komunikasi dengannya. Ada rasa kesepian di relung hati ini. Apa dia merasakan yang sama? Aku pikir nggak, buktinya dia tidak menghubungi aku, sejak malam terakhir kita ber-Skype. Dia tidak merasa kehilangan, dia juga nggak merasa membutuhkan aku lagi. Apa mungkin dia berhubungan dengan orang lain? Bisa jadi.

MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Saturday, 8 March 2014

Dia : (Chpter 6 : Pesarn dari Dia)

Aku masuk ke kamar yang selama ini dia tempati, lebih tepatnya aku dan dia. Aku meinggalakan kamar ku sendiri dan lebih memilih tidur sama dia. Bau parfumnya masih tertinggal di kamar. Sama-samar aku melihat bayangan dia di tempat tidur. Aku tau itu hanya fatamorgana. Suara dia terdengar berbisik manja, aku menyadari, ini hanyalah halusinasi, betapa aku merasa kehilangan dia. Kenapa otak ku masih saja memikirkan dia? Dia sudah pergi, dia tidak disni, dia tidak ada lagi di kamar ini. STOP!!! Tanganku menggapai udara untuk membuyarkan halusinasi itu.



MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Tuesday, 4 March 2014

Cerbung : Dia (Chapter 6 : Rasa)

Beberapa hari ini aku seneng banget karena ada dia. Setiap malam bisa tidur disaampingnya. Aku bisa melihat dia tertawa atau cemberut ketika aku membuatnya jengkelan. Dia telah membuat setiap hari ku berbunga-bunga. Dia adalah bagian dari hidup ku.


MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Thursday, 27 February 2014

Cerbung : Dia (Chapter 5 : Alasan)

Alasan

Satu hari telah berlalu, kemarin hanya bermalas-malasan di rumah karena badan ini terasa remuk setelah sehari sebelumnya jalan-jalan dan mimpi buruk. Hari ini belum ada rencana mau kemana, aku juga nggak tau mau kemana.

Aku lihat dia masih terlelap tidur disamping. Meskipun terlihat garang tetapi dia punya hati yang lembut, dan sangat penyayang. Aku belai rambutnya yang cepak, kupandangi lekat wajahnya. Namun tiba-tiba ku tersentak kaget ada tangan yang tiba-tiba manarik tubuh, sehingga aku menindihnya dan bibir ku terkecup pada bibirnya.


MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Friday, 21 February 2014

Cerbung : Dia (Chapter 5, Mimpi Buruk)

Mimpi Buruk

Aku tersentak kaget mendengar pertanyaaan seperti itu dari dia. Ternyata dia masih  penasaran alasanku menolaknya. Jadi aku nggak sepenuhnya salah ketika menuduh, kalau dia balas dendam. Aku melengos tak menghiraukan pertanyaan dia. Rasa marah ku muncul, dia mengungkit msa lalu.

Dengan kasar kedua tanganya memegang pipiku dan agak memaksa menengokan kepala ku agar menghadap dia. Aku semakin marah saja mendapat perlakuan seperti itu. Aku beranikan menatap matanya. Tatapan dia tajam, wajahnya kaku. Aku tidak kuat dengan tatapan seperti itu. Ku coba memalingkan wajah, tetapi tidak bisa, tangannya dia kuat sekali memegang wajah ku.


MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Thursday, 2 January 2014

Cerbung : Dia (Jawaban)

Chapter 5

Jawaban

Entah apa yang ada di pikiran ku, tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu pada dia. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Padahal aku sendiri tidak yakin untuk menanyakan itu. aku melihat tatapan dia kosong, sepertinya dia sedang terkejut apa yang barusan didengarnya.

Sekarang, aku menunggu jawaban dia dengan cemas. Apa dia akan menerima aku atau menolaknya? Aku berharap banyak dia mau menerimanya. Dia mulai tersadar dari lamunannya. Tangannya menggenggam tangan ku yang membuat jantung ini berdegub kencang.

MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Sunday, 3 November 2013

Cerbung Chapter 4 : Dia, Speachless (Part 12)

Setelah mandi aku mendapati dia duduk dipinggir jendela. Kebiasaannya tidak berubah, entah kenapa dia bisa suka banget duduk di pinggir jendela. Aku jadi penasaran juga

“Hmmm kenapa kamu suka sekali duduk di pinggir jendela?” Tanya ku sambil menghampiri dia.
“Ouh sudah selesai,” ternyata dia tidak menyadari kedatangan ku dari tadi. “Awalnya sih waktu masih jaman sekolah liat jendela mengharapkan kamu ada di depan rumah. Kamar ku kan bisa langsung liat depan.”
“Gitu toh….jadi GR nih,hehehehe.”
“Abis kamu selalu ngangenin.” Kata dia tidak ketinggalan dengan senyum yang menggemaskan. “Jalan yuk, kemana gitu keq masa aku udah di Bali di anggurin.”
“Hayuk kita bernosatalgia seperti dulu hari terakhir kita ketemu.”  Aku mengungkapkan sebuah ide padannya.
“Terserah aja dech aku ngikut aja. Hari terakhir pas SMA dulu? Aku udah lupa.”
“Beneran lupa? Kamu senderan di pundak ku terus nangis-nangis,hahahah.” Aku bencandain dia.

Dia hanya tersipu malu. Mungkin sekarang dia sudah bisa mengingatnya lagi. aku harap sih dia ingat. Aku sendiri tidak akan pernah lupa kejadian itu. Karena itu kenangan terakhir bersama dia sebelum hari ini. Masih teringat dengan jelas hangatnya tubuh dia ketika memeluku dan terlihat betapa derasnya air mata yang tumpah dari matanya saat ketika akan berpisah. Semaki nyata aku memang tidak pernah bisa melupakan dia.

Aku ingin hari ini lebih terkenang dari pada terakhir kita bertemu. Aku berharap hari ini ada kejadian luar biasa. Sebenarnya kedatangan dia hari ini tiba-tiba sudah lebih dari luar biasa. Sampai saat ini aku masih mengira sekarang adalah mimpi. Tapi setelah mendapat pelukan dari dia baru terasa ini bukan mimpi. Saat ini dia sedang memeluk ku dari belakang karena kita menuju Toya Bungkah yang ada di Kintamani dengan mengendarai motor. Semakin keatas semakin erat pelukannya karena hawanya menjadi dingin.

Tanpa terasa sudah 45 menit perjalanan. Sekarang sudah sampai di daerah Kintamani tepat ditepian tebing kaldera Gunung Batur. Dibawah ada danau Batur dan disebrang kita ada Gunung Batur, Toya Bungkah sendiri ditepian danau tepat dibawah gunung. Sesampainya dibawah Aku memilih salah satu pemandian air panas disitu. Kali ini terpaksa aku dan dia berendam di kolam umum tepat di pinggir danau. Tiada henti dia terkagum-kagum oleh eloknya pemandangan.

Kita berendam dibawah pancuran air hangat dia ada sebelah ku. Kini dia tidak seculun dulu potongan rambutnya pendek dan jabrik. Sekarang dia terlihat lebih maskulin dengan kumis tipis serta jenggotnya. Aku baru menyadari ternyata kita sudah sama-sama dewasa.

“Hei,” aku memanggil dia. “Koq sekarang kamu ganteng?” Aku memujinya.
“Iya donk, kan buat orang terspesial.” Balas dia dengan senyum misteri.
“Siapa orang itu?” Tanyaku penasaran.
“Rahasia.” Ucap dia sambil meninggalkan ku. Dia menuju kolam yang tepat dibibir danau.

Aku hanya terdiam masih mencerna apa yang barusan dia katakan tadi. aku mengambil kesimpulan dia sedang menyukai seseorang atau bahkan mencintainya. Otak ku masih berputar siapa yang dia sukai apakah wanita atau pria mungkin bisa saja itu aku? Aku mencoba menenangkan diri dulu aku tidak ingin jadi GR-an.

Dari kejauhan aku melihat dia tersenyum misteri kepada ku. Aku hanya membalas senyum seadanya saja karena kepala ini masih berkutat dengan pernyataan dari dia. Semakin ku memandang dia ada rasa ingin tahu siapa yang dia sukai. Aku mendekatinya lagi tujuan utama ku untuk menyangakan siapa yang dia sukai.

Aku sudah tepat disampingnya. Dia membalikan badan memandang tenangnya air danau dan dari kejauahan menjulang tinggi tebing dinding kaldera. Aku sendiri bersandar di tepian kolam. Kenapa bibir ini menjadi jadi kelu ketika ingin menanyakan suatu hal yang penting. Ada perasaan yang mengganjal. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa yang orang dia sukai bukan aku.

Di bawah permukaan air tiba-tiba tangan ku merasakan genggaman dari tangan dia. Hawa hangat menjalar ke atas otak ku yang sedang beku mimikirkan isi hatiya. Sepertinya dia tau aku sedang bingung.

“Sudah jangan kamu pikirkan siapa yang aku suka.” Dia mengatakan itu dengan pelan mencoba menangkan aku.
Aku menolehnya tersenyum. “Jahat saja kalau sampai kamu nggak menceritakan siapa orang yang kamu sukai. Aku kan sahabat mu.”
“Hei kenapa kamu yang jadi ngambekan?” Dahi dia mengernyit melihat sikap ku yang menjadi seperti anak kecil. “Yang berhak ngambek dan merajukkan itu aku.”

Secara reflek dia memeluk ku. Tubuh ini menjadi kaku mendapat kejutan seperti itu. bebarapa pasang mata melihat kita dengan aneh tapi dia tidak memperdulikannya. Aku juga tidak sanggup untuk menepis pelukan itu karena aku menikmatinya.

“Aku kangen kamu banget.” Bisik dia pelan di telinga ku.
Aku membalas pelukannya. “Aku juga kangen kamu koq.” Jawab ku seadanya.

Dia melepas pelukan tetapi tangannya masih menggenggam tanga ku. Aku sendiri canggung dan tidak tahu mau berbuat apa dan mesti ngomong apa. Meskti sekarang sudah lebih tenang setelah mendapat kejutan pelukan darinya.

“Ich bohong masa kangen sama aku?” Kata ku dingin pura-pura tidak mempercayainya.
“Kalau nggak kangen kamu, mana mungkin aku saat ini ada disamping mu.” Dia membalasnya dengan ketus. Tangannya masih memegangi ku.
“Kan hampir tiap hari kita skype.”
“Tapi kan skype aku nggak bisa merasakan pelukan dari mu.”

Aku merangkul dia. terlihat mimik senang di wajahnya. Ternyata sifat manja ini memang belum pudar darinya. Dalam rangkulan ku kepala menyender di bahu.

“Emag di Jogja kamu nggak meluk orang lain? Pacar gitu misalnya.”
“Kan kamu tau nggak punya pacar.”
“Terus orang yang kamu suka itu?”
“Nanti aja aku jelasin. Sekarang ini aku hanya ingin bersama mu. Ok?”

Aku tidak berkutik lagi ketika dia mengatakan seperti itu. Sebenarnya aku masih penasaran siapa orang yang maksudnya. Tapi aku tidak ingin merusak hari yang indah ini dengan perdebatan yang. Selepas itu kita hanya ngobrolin kegiatan keseharian kita. Meski sudah saling tahu karena hampir setiap saat kita juga berkomunikasi lewat telpon, sms atau pesan instan.
“Udah hampir sore cabut yuk aku ingin liat sunset.”
“Ouh iya kamu kan paling suka liat sunset. Tapi kamu jangan nangis-nangis lagi ya,hehhehe.”

Kita beranjak dari pemandian itu jam 3 sore semoga masih bisa melihat sunset di pantai Kuta. Sebenarnya aku ingin mengajaknya di pantai Balangan yang tempatnya lebih bagus tetapi terlalu jauh hampir dipastikan malah nggak kebagian sunset.

Sekarang sudah ada di pantai Kuta. Terlihat banyak sekali turis bule dan lokal yang sedang menantikan sunset. Ada sebagian pengunjung yang mandi-mandian di tepian laut. Sedang aku memelih duduk diatas empuknya pasir berwarna krem. Dia sendiri ada disamping ku menikmati matahari yang perlahan pasti pasti menuju garis horizontal. Tangannya masih ku genggam dengan erat.

“Kenapa kamu pegang tangan ku terus dari tadi?” Suara dia terdengar lirih namun bernada senang.
“Aku mau menjaga kamu terus.” Aku membalas apa adanya remasan tangan ku semakin kuat.
“Gombal ah,ahahahah.” Dia menanggapi pernyataan ku yang dianggapnya bercanda. “Aku udah gede nggak perlu dijagain.”
“Kan aku udah janji sama kamu. Aku jagain kamu sampai kapan pun. Mumpung sekarang lagi ketemu aku jaga kamu dengan menggandeng tangan kamu.” Aku sedikit agak jengkel karena tadi dianggapnya tidak serius.

Dia melepas genggaman tangan. Tetapi tangannya berganti melingkarkan kebadan ku yang sama artinya setengah memeluk.
“Itu yang aku rindukan dari mu. Setiap ada disisi kamu, aku selalu merasa aman.” Dia menengok pada ke hadapan ku. “Selama di Jogja aku merasa hampa karena nggak ada njaggain aku. Biasanya kamu selalu ada disisi ku.”

Hanya helaan nafas yang bisa kulakukan setelah mendengar tanggapan dari dia. Apa itu tandanya dia mencintai ku atau mengharapkan aku jadi “pelindungnya”?. Aku masih belum mengerti arti pesan yang dia sampaikan.

“Maaf aku tidak menepati janji ku pada mu. Aku malah meninggalakan mu di Jogja sedang kan aku lari disini.” Aku tertenduk menyesali tidak ada disampingnya.
“Nggak perlu minta maaf. Aku sadar koq kita kan punya kehidupan masing-masing. Disini kamu kuliah mencari masa depan mu aku juga di Jogja mencari masa depan ku.” Kata-kata yang meluncur dari mulutnya sungguh bijak memuat ku agak tenang sedikit. Dia berhenti sejenak tetapi matanya masih menatap ku dengan sendu. “Walau kamu nggak disamping ku tapi, aku merasa setiap malam kamu ada dihadapan ku.”
“Iyalah setiap malam kita skype, menceritakan keseharian kita. Hahahaha.”
“Mungkin itu juga kali ya aku nggak merasa kesepian karena kamu masih selalu ada untuk ku.”

Aku tidak tahan tatapan dia. Rasanya aku ingin menciumnya. Tetapi aku mengurungkan melakukan itu karena terlalu ramai disini. Meskipun aku yakin mereka tida yang menghiraukannya. Tetapi sama aja ini adalah tempat umum.

“Aku masih heran kenapa ya kita masih tetap dekat dan setiap hari berkomunikasi. Padahal aku juga sudah kehilangan kontak dengna teman dekat ku yang lain.” Aku mencoba mengalihkan perhatian pikiran ku yang ingin mencium dia.
“Iya juga ya. mungkin sebenarnya kita sudah saling memiliki. Jadi rasanya sehari saja nggak ketemu rasanya nggak enak seperti ada yang hilang.” Dia mencoba menjelaskan menurut logika pikiriannya.
“Hhhmmm saling memiliki.” Aku berhenti sejeak mencari kata selanjutnya yang tepat. “Kayak pacaran aja saling memiliki.” Kata ku ngasal.
“Emang selama ini kita nggak pacaran?” Dia tersentak kaget dan cemberut. Mulai dech sifat anak kecilnya kumat.
“Lah kan waktu itu kamu yang nolak aku waktu nembak kamu.”
“Iya sih…… Terus sekarang kamu mau nggak jadi pacar ku?” Tanya dia dengan memandangku penuh harap.


Seketika itu pikiran ku blank. Aku belum menyiapkan jawaban pertanyaan mendadak ini. kenapa dia tiba-tiba mengatakan itu, maksudnya apa? Aku speacless.