Showing posts with label Catatan Gay. Show all posts
Showing posts with label Catatan Gay. Show all posts

Wednesday, 21 October 2015

Balada Persahabatan Gay

Jadi mahasiswa itu ternyata nggak selama bisa santai. Mendekati UTS tugasnya makin gila-gilaan segila cinta gue terhadap aa Iw, udah tau punya istri tapi masih tetep aja dipacarin. Baru sekarang gue ngalamin nyeseknya jadi madu di pernikahan orang lain. Apa ada daya gue sudah cinta mampus sama aa Iw jadi dinikmati saja bersusaha selalu menjadi madu yang manis. Ya sudah lah.......

Sudah lama juga gue nggak ngumpul bareng dua sahabat gue yang homo, Ban dan Bin. Bukan karena kesibukan gue semata mengabaikan keduanya. Toh hampir setiap hari gue juga ketemu Bin yang emang satu kelas sama gue. Bukan Ban juga yang sok sibuk mentang-mentang kuliah di PTN sehingga kita nggak ketemu dalam satu bulan. Gue sih masih sering main ke rumah Ban kalau lagi butuh tebengan internet cari tugas. Jadi intinya gue sendiri yang ketemu dengan Bin dan Ban tetapi kita bertiga nggak ngumpul dalam satu waktu dan tempat.

Masih ingat dengan acara kumpul di kolam renang? Itu hari terakhir bertiga ngumpul. Ban dan Bin di kolam renang melakukan adegan konyol sebagai cowok normal, tetapi hal itu sudah biasa dikalangan homo. Mereka jambak-jambakkan bahkan cakar-cakaran sebabnya adalah Ban tau kalau Bin tidur barenng dengan pacar barunya Ban.

Secara nggak sengaja Ban medengar bisikan Bin ke gue. Setelah itu terjadilah kejadian paling epic dalam persahabatan kita. Awalnya cuma adu mulut terus berlanjut dorong. Eh makin heboh aja jambak-jambakkan, beruhubung Ban rambutnya pendek susah dijambak, Bin mengganti strategi dengan mencakar. Sedangkan orang yang diributin llangsung ngacir, dasar homo nggak tanggung jawab. Begitulah singkat ceritanya.

Sekarang gue bingung sendiri berada diantara mereka yang sedang gencatan senjata. Merunut gue sih sudah waktunya untuk berdamai, nggak baik jugakan sodara bisa brantem macam gitu. Gue nggak ngerti harus dari mana untuk mendamaikan mereka. Tapi senggaknya mempertemukan mereka dulu ditempat netral, yaitu kost gue.

Bin sengaja gue culik ke kost dengan dalih bikin tugas bareng. Sedangkan gue menjebak Ban dengan alasan gue sakit, minta dianterin bubur. Awalnya Ban ogah karena kejauahan ke kost gue, tapi gue berdalih pengen banget bubur itu supaya cepet sembuh akhirnya mau juga.

Gua lagi asik browsing bahan tugas, sedangkan Bin masih berkutat dengan buku pinjaman perpustakaan. Tanpa ada kata permisi Ban nyelonong masuk. Gue kira cuma ada adegan ini disinetron, tetapi dikehidupan nyatapun ada.

Ban bendiri dengan wajah memerah. Lalu membanting kresek yang berisi satu cup bubur. “Jadi ini maksud elo??” Ban menuding gue. “Elo njembak gue buat ketemu sama curut itu?” Ban beralih menunjuk Bin.
Bin segera berdiri melihat kedatangan Ban yang sekarang menjadi musuhnya. “Heh!! Elu tuh yang curut, sembarangan ngatain orang,” Bin nggak terima dibilang curut. “Elo tuh jadi homo sok polos, jadi gampang diboongin kan!!”

Waduh..... dua-duanya langsung frontal gitu ya, apalagi menyebut kata homo dengan lantang. Semoga saja penghuni kost lain lagi pada dengerin desah bokep dilaptopnya masing-masing.  Gue harus bertindak cepat sebelum lebih heboh dari jambak-jambakan atau cakar-cakaran.

Ban sudah maju selangkah. Gue lengsung berdiri mencoba menghentikan. Tetapi Bin malah ikut maju juga. Gue berada tempat ditengah-tengah homo yang sedang murka. “Elu belain siapa?” tanya mereka kompak. Ok sekarang gue bener-bener terjebak dengan rencana gue yang diluar kendali.
Gue mendorong satu persatu dari mereka yang ternyata lumayan berat. “Gue nggak belain kalian semua. Gue cuma mau mendamaikan kalian!!” pekik gue.

Mereka langsung terdiam, mungkin karena terperangah mendengar jeritan suara lelaki dari pita sura gue. Perlu dicatat, nggak semua homo itu kalau teriak pakai suara valseto, OK! Bin dan Ban selangkah menjauh. Wajahnya sih masih keliatan marah, tapi tetep takjub sama gue yang jadi lakik.

“Tenang.....tenang jaga mulut bencong kalian!!” gue mencoba menenangkan merkea.
“Elu yang bencong!!!” teriak mereka bersamaan. Berarti mereka mash terkendali.
“Kenapa sih kalian masih marahan saja?” tanya gue pelan agar emosi mereka tidak tersulut.

Mereka tidak langsung menyahu tetapi mata mereka saling berpandangan dengna bengis, mengisyaratkan kalau saling menyalahkan. Seesekali Bin meledek dengan memajukan badannya seolah-olah siap duel. Untungnya Ban punya kontrol sehingga tidak terpancing.

“Gimana nggak marah coba, bf baru gue diembat sama dia!!” nada suara Ban terdengar marah, bahkan dendam kesumat.
“Pecuma gue jelasin, mulut gue berbusa juga dia nggak bakal dengerin, kuping elo ketutupan pejong dia,” Bin menimpal segera nggak kelah kesal. Gue tau Bin sudah berulang kali menjelaskan, tetapi Ban masih teteap dengan pendiriannya bahwa Bin yang salah. “Lagian tuh ya cowok elu tuh yang kegatelan.”
“Gimana gak kegatelan, elu sendiri yang nawarin buat garukin. Elu juga pasti pasang muka pengen.” Ban nggak terima bekas pacarnya disebut kegatelan. Status Ban dan orang diributkan sudah putus hari itu juga.
“Bukan salah gue donk, kalau dia tertarik sama gue yang cakep gini,” kelakar Bin penuh kemenangan.
“Mana ada elu cakep, bitchy sih iya,” serang Ban nggak terima.

Perang mulut semakin seru aja, bagaikan pertandingan emak-emak adu mulu ditukang belanja gara-gara ngeributin suami yang selingkuh. Kelakuan kedua sahabat gue yang homo hampir sama lah... kebiasaan homo yang lagi berantem adalah perang mulut, siapa yang nyinyirnya paling pedas itulah juaranya. Kalau sudah semakin brutal adu mulut, bisa dipastikan babak selanjutnya adalah jambak-jambakkan.

Gue harus melerai pertempuran ini sebelum ke ronde berikutnya. Bin sudah siap-siap mengasah kukunya untuk keperluan mencakar pipi mulus Ban yang sudah dirawat dengan sari pati lelaki perjaka, tapi berhubung “dipake” Ban keperjakaan lelaki itu luruh sudah. Gue juga nggak mau reputasi lelaki terhormat hancur dimata teman-teman kost karena ketahuan punya teman lelaki yang macam emak-emak komplek perumahan hobi ngeributin suami orang.

“Sudah......sudah!!”  teriak gue lagi untuk melerai keributan. “Kalian itu lakik atau homo sih?” sebuah pertanyaan bodoh. “Kalau kalian merasa lakik, berantemnya itu jotos-jotosan,” gue sedang menyadarkan mereka pada kodratnya sebagai lelaki tulen.
“Dia yang mulai ribut,” Bin menunjuk Ban dengan sengit.
“Dia yang mulai merebut pacar gue,” balas Ban murka.
“Gue udah jelasin berkali-kali. Gue ML sama dia karena nggak tau  dia sudah punya pacar,” Bin kembali menjelaskan lagi, kalau memang nggak bersalah.
“Gue nggak yakin, kalaupun elu tau dia udah punya bf pasti elu tetep embat juga. Elu itu ratunya bitchy.” Ban menyerang dengan frontal.
“Iya nggak gitu juga........,” jawab Bin ragu-ragu.
Mendengar jawaban seperti itu Ban semakin berang. “Tuh kan bener elu tuh emang pecun....segalanya emang diembat,”

Tipe homo itu beda-beda ada yang kalem macam gue (itu fitnah) ada pula yang agresif seperti Bin yang segala sesuatunya “dipakai”. Ini yang perlu dikhawatirkan, homo yang kayak gini nggak peduli partnernya udah punya pacar atau belum, yang penting bisa buat ngewe dan puas. Kebutuhan sex bisa melupakan akal sehat dengan mengesampingkan perasaan pacar dari partner sex atau pacarnya sendiri.

Sekarang gue mulai khawati, jangan-jangan pacar gue alias aa Iw juga digoda sama Bin yang maruk kepada segala macam lelaki. Apalagi aa Iw adalah lelaki produk unggulan, badan bagus, tampang ganteng, straitght act, mapan dan gaya bercinta oke punya. Gue nggak bisa maapin kalau Bin emang godain lakik gue. harus introgasi dia.

“Jangan-jangan elu juga goadain lakik gue?” tanya gue dengan garang.
“Elu nggak usah nambah masalah dech!!” gertak Bin jengkel.
“Gue tanya baik-baik,” ucap gue jengekel, mana pula tanya baik-baik dengan intonasi sangar.
“Gue nggak ngerti otak kalian berdua dimana, nuduh gue sembarangan,” Bin semakin jengkel dan frustasi.
“Bukan salah otak kita berdua,” sergah Ban sengit. “Salah elu sendiri donk yang binal, semuanya mau,” tambah Ban lagi.

Bin tidak langsung menjawab. Malah terpekur memandang kami lekat-lekat. Gue bisa membaca raut muka Bin anatara marah, tapi disisi lain juga terlihat sedih. Semua rasa itu jadi satu diwajah Bin. Tiba-tiba saja meleleh air mata.

Gue dan Ban kaget donk koq tiba-tiba Ban malah nangis. Homo macam dia bisa nangis juga, gue pikir dia cuma bisa mendesah dan menggaet pacar orang buat dijadiin partner ngewe. Gue dan Ban saling pandang, melihat kejadian dramatis ini.

“Gue tau, gue binal dan libido gede,” ucap Bin dengan berkaca-kaca.
“Iya kita semua tau koq tanpa elu bilang sendiri,” gue dan Ban menyahut berbarengan.
“Meskipun gue binal, bitch, suka ngewek tapi gue masih punya hati.....” Bin sesenggrukan, “Gue tau mana yang gue mau diewe atau gak. Gue juga nggak mungkin nyakitin sahabat gue dengan ngewe pacarnya.” Derai air mata Bin semakin deras saja.

Hati gue ikuta terenyuh menyaksikan adegan haru biru, betapa sebenarnya Bin punya hati nurani yang mulia. Memang seharusnya sahabat adalah saling menjaga kepercayaan dan tidak mencuri apa yang sudah dimiliki sahabatnya. Gue mulai luluh.....

Ban menyikut gue, “Heh dia itu Cuma akting aja kali.”
Gue jadi mengamati Bin secara seksama. Apakah akting atau memang nangis beneran dari lubuk hati yang paling dalam. “Elu gak usah sandiwara gitu dech.....” gue mulai mempercayai Ban.
“Akting gue jelek ya?” tanya Bin sambil menghentikan sandiwaranya. “Bagian mana yang jelek?”
“Mana ada orang nangis dari hati lubuk paling dalam malah sibuk kucek-kucek mata, elu tuh cuma kelilipan.” Ban menunjuk Bin yang matannya merahi. Disekitarnya juga ada remah kotoran dari atap.
“Tapi gue serius Banci.... gue nggak mungkin ngerebut suami orang, apalagi suami sahabat gue sendiri,” ujar Bin serius dengan mengacungan telunjuk dan jari tengah sebagai tanda swear.
“Elu tuh nggak ngerebut,” tandas gue percaya pada Bin. “Tapi elu “make” pacar temen elu sendiri Bincung.”
“Terserahlah apa pun itu sejenisnya, yang penting gue nggak ada maksud jahat sama elu Banci. Kalau gue tau itu sudah jadi pacar elu, gue juga nggak mungkin ngewe sama dia.” suara Bin terdengar penuh penyesalan. “Gue kenal dia dari Grindr. Dia yang pertama nyapa gue.” Bin menceritakan awal kronologi bertemu dengan mantanya Ban.
“Terus elu emang daasar keganjenan langsung ngajak ngewe,” tuduh Ban yang masih kesal dengan menebak kelanjutan kronologi.

Bin hanya menghela nafas, mencoba meredam emosi. Gue tau, Bin sedang gregetan sama Ban yang nggak percaya setiap omongan yang keluar dari Bin. Itu wajar aja sih kalau orang lagi marah pasti gak peduli apa yang dikatakan pelaku kejahatan.

“Dia yang ngajak ngewek, awalnya gue nggak mau karena sedang dalam program perngurangan ngewe. Tapi emang dasarnya setan itu selalu pinter, akhirnya kena bujuk rayu apalagi dia pamerin foto bugilnya,” Bin terus nyerocos tanpa memperdulikan Ban yang menyela omongan.
“Mana? masih ada gak fotonya? Gue liat donk,” gue penasaran “barang” yang diributkan oleh kedua sohib gue, namaya juga homo selalu aja penasaran dengan “barang” milik lakik, apalagi dia kategori bibit unggul cakep. Gue langsung mendekat Bin.
“Heh nggak usah ikut-ikutan gatel ya kayak Bincung itu.” Ban ngepruk kepala gue dengan gulungan koran, yang tadi gue beli di depan kampus. Ada koran Rp.1000 lumayan murahkan. Bermanfaat pula buat ngelap pejong berceceran di lantai. Gue membalas dengan nyengir.

Bin menyerahankan smarthphone ke Ban sebagai barang bukti bahwa dirinya memang tidak bersalah. Semuanya ada dalam percakapan di aplikasi Grindr. Awalnya Ban ragu untuk membaca karena sudah yakin bahwa pelaku utamanya memang Bin yang suka kegatelan. Tetapi setelah gue desak akhirnya mau juga membaca percakapan mesum antara Bin dengan mantan pacarnya Ban.

Setelah membaca isi percakapan itu Ban terdiam sesaat, entah apa yang dipikirkan. Apa mungkin jadi semakin marah atau merasa besalah telah menjambak Bin. Sahabat gue yang satunya lagi sedang berharap-harap cemas, mengharapkan bukti tersebut dapat meluruhkan prasangka buruk.
“Bin maapin gue ya? Udah nuduh elu yang nggak-nggak. Merebut suami orang,” ucap Ban lirih menyesal pada perbuatannya. “Tetapi tuduhan elu sebagai makhluk bitchy emang benar adanya,” Ban tersenyum mengejek.
“Tuh.....kan.....!!” sekarang gantian Bin yang sewot. “Makanya ada orang cerita itu dengerin dulu, jangan asal njambak gitu!”
“Iya maaf dech......gue yang salah,” Ban serius meyesali atas kejahatan fitnah.
“Elu udah baca sendiri kan? Yang mulai duluan dia kan? Elu juga mau-maunya jadian sama dia.” Bin semakin membara emosinya yang nggak terima dituduh biang kerok penggodaan.
“Iya udah sih maap. Itu salah gue waktu itu gak kasih pengumuman ke kalian semua kalau gue punya pacar dan gak kasih tau tampang foto kayak gimana,” Ban menunduk takzim, pasrah dimarahin Bin.

Selanjutnya kita bertiga pelukkan, sebagai tanda perdamaian. Adegah haru ala sinetron yang biasanya dalam persahabatan cewek terjadi juga dalam kehidupan gay. Kita yang gay itu unik, cowok yang punya sifat setengah lakik setengahnya lagi campuran perempuan yang PMS dan lakik yang kekurangan hormon estrogen.

“Tapi lakik elu, jago dech,” Bin nyengir penuh kemenangan.
“Jadi yang kamu bekasannya Bin?” sela gue mentap Ban. “Atau elu Bin, bekasannya Ban?” gantian gue menatap Bin dengan jijik.

Kita bertiga saling menatap lalu tertawa terbahak-bahak. Kita mengalami sesuatu yang absurd dalam dunia gay. Siapa saja bisa jadi bekas dari kumpulan homo yang lain, karena dunia homo itu kecil dalam satu lingkup kota. Dia bisa menjadi bekas gue lalu berpindah ke mereka-mereka yang haus sex.

Kita juga menertawakan kebodohan sendiri. Bahwa persahatan dalam dunia gay memang rawan berantakan hanya karena urusan lelaki. Jika ada satu lelaki direbutkan oleh dua orang sahabatan ini maka persahabatan menjadi taruhan, siapa akan mengalahkan shanya untuk mendapatkan satu lelaki. Persahabatan akan menjadi absurd ketika ada lelaki yang mencoba mempengaruhi mereka. Sudah hal lumrah atau terlihat wajar saja ketika persahabatan bubar karena pacarnya A berselingkuh dengan B. Bisa saja kejadiannya dibalik B yang terlebih dahulu menggoda pacarnya A. Kebenaran cinta selalu menjadi kambing hitamnya untuk melegalkan perselingkuhan. Akar dari perlingkuhan homo adalah rasa penasaran sex.

Gue sendiri nggak tau harus gimana. Kalau pacar dikenalin sahabat takut direbut sahabat sendiri, atau pacar gue yang menggoda sohib. Jadi lebih baik cari sahabat itu yang beda selera cowok, jadi misalnya gue suka gadun, kita cari sahabat yang suka brondong. Kemungkinan kecil untuk jambak-jambakan karena rebutan cowok. Selain itu jagalah kepercayaan, karena persahabatan lebih mahal dari pada satu lelaki murahan. Tapi kalau dudah ursan sex semuanya jadi buram. Jadi pilihan elu adalah pilih sahabat atau hasrat mu?

“Jadi kalian sudah damaikan?” tanya gue pelan sambil memandang Bin dan Ban. Mereka juga saling pandang.
“Gue sih udah nggak masalahin lagi,” jawab Bin kalem.
“Hhhmmmmm,” Ban menggumam masih mencari-cari uneknya.
“Udah dech nggak usah cari gara-gara lagi,” Bin mendengus kesal, yang melihat Ban tampaknya belum mau mengakhiri pertengkaran.
“Gue masih sebel sama elo karena.......,” Ban sedang mencari kesalahan Bin. “Oh ya elo belum balikin vibrator punya gue,” wajah Ban tampak cerah setelah mengingat sesuatu yang tampaknya sudah lama dipendam. “Elu juga belum balikin alat pompa, terus...... belum balikin kondom yang elu semana-mena ambil,” Ban terus menyerocos barang-barang yang dipinjam Bin.

Sulit dipercaya Ban yang tampangnya kalem punya sebegitu banyak alat “permainan”, what the hell. Jujur aja gue kaget banget, dibelakang gue ternyata mereka suka pinjem-pinjeman kayak gitu. Oh ternyata aku hanya tau permukaan mereka saja, masih banyak yang gue belum tau tentang mereka. Emang sih sahabatan nggak semuanya perlu diketahui, nggak semuanya juga perlu diceritakan. Persahabatan adalah misteri, kita tidak akan pernah tau sahabat sejati kita seperti apa dan bagaimana, padahal kita sudah lama mengenal.

Muka Bin merah padam, gue nggak tau antara marah atau menahan malu dihadapan gue. Bin sudah siap-siap menyemprot Ban. “Elo tuh ya.....emang ngeselin, cari-cari masalah.”
“Elu juga yang ngeselin pinjem barang nggak dikembalikan,” nada suara Ban naik satu oktaf. Kayaknya bakal ada perang mulut lagi.
“Masa iya kondom bekas gue pake ada pejong gue balikin ke elo? Menjijikan sekali,” Bin bergindik ngeri.
“Ya itu barang-barang yang elo pinjem,” Ban berkilah.
“Oh sekarang main itung-itungan?” tanya Bin semakin kesal. “Emang gue sebel apa sama elo? Tiap dugem minta bedak, belum lagi masker gue sering elo pakai juga kan? Elu kalau pakai lulur gue banyak banget.” Sekarang gantian Bin yang mengeluarkan unek-uneknya.
“Lah gue pikir nggak dipakai, masih banyak gitu padahal sudah mau lewat tanggal kadularsa,” timpal Ban merasa tidak bersalah.
“Gue beli pas lagi diskon yang emang udah mepet kadaluarsa, eh elu main embat aja.” Bin tambah murka aja atas pernyataan Ban, apalagi ngomong sambil nyengir-nyengir.
“Ya dech nanti gue ganti........,” kali ini Ban yang merasa bersalah.
“Eh baju gue yang pink, di pinjem elu gak?” tanya Bin pada Ban menyelidik.
Ban menggelengkan kepala, tanda baju Bin tidak ada dilemarinya. “Terus celana gue yang agak bitchy di elo gak?” Ban balik bertanya pada Bin.

Bin menggeleng juga. lalu keduanya menatap gue. Tanpa persetujuan gue mereka langsung mengacak-acak lemari gue. mereka mendapati barang mereka kembali. Bukan maksud gue nggak mau balikin tapi belum sempat.

“Ya ampun ini kan G-String yang gue baru pake sekali terus elo pinjem,” mata Bin berbinar-binar menemukan harta karunnya.
“Ini juga kan singlet kesayangan gue,” kali ini Ban yang semangat.
“Elo nimbun pakaian kita ya?” tanya Bin sambil mata mendelik.
“Nggak gitu, waktu itukan gue main ke tempat kalian nggak bawa pakaian ganti, gue pinjem dech,” sekarang tersangkanya adalah gue.

Selanjutnya mereka packing baju mereka sendiri yang gue pinjam. Gue pasrah aja ada perampokan di kamar gue. Pertengkaran antar sahabat homo adalah hal remeh temeh tentang pinjam meminjam yang nggak dikembalikan atau bisa juga lupa atau pura-pura lupa mengembalikan. Kelihatannya sepele sih sih tetapi itu juga menentukan. Elo juga nggak maukan barang kesayangan elo dipinjem terus nggak dibalikkin.

“Kita semua sudah impas kan? Nggak ada lagi marah-marahan.” Gue menyimpulkan semua masalah telah kelar. “Maafin gue ya,” gue menangkupkan kedua tangan, sebagai tanda permintaan maaf.
“Iya gue juga salah koq,” Bin ikut-ikutan.
“Gue udah suka nyusahin kalian,” sambar Ban.

Semua permasalahan elo bisa diselesaikan dengan baik-baik asal ada niat untuk berdamai. Penyelesaian masalah dengan hati, bukan dari emosi. Kalau kita sudah emosi semua bisa lepak kendali. Saling mendengarkan untuk memahami dan menganalisa permasalahan. Jangan terpengaruh dari orang luar. Biarkan kalian berdua yang menyelesaikan. Orang luar hanya sebagai penengah dan tidak memihak. Persahabatan adalah hal yang indah, dimana seseorang bisa menerima elo apa adanya tanpa protes. Mereka orang-orang dibelakang kita yang selalu mendukung meskipun elo jadi orang yang salah, tapi mereka berusaha menguatkan kita untuk tidak terpuruk.

“Gue juga udah lupain lelaki brengsek itu,” ucap Ban menegaskan sudah tidak ada masalah lagi dengan Bin mengenai mantannya. “Gue lagi pedekate sama anak PTN juga.”
“Cepet amat lu dapetin gebetan,” goda gue.
“Iya donk gerak cepat, udah perlu dijatah,” sesumbar Ban renyah.
“Gue juga lagi deket sama cowok, anak kampus biru juga,” Bin memberi pengumuman, tetapi dengan nada khawatir.
“Anak teknik?” tanya Ban ikutan khawatir. Bin menjawab dengan anggukan. “Asalnya dari Sumatera?” tanya Ban lagi. Bin sekali lagi mengangguk. Kedua saling berpandangan kahawatir.
“Namanya Hamdan?” tanya Bin hati-hati.
“Bukan, namanya Gani,” jawab Ban. keduanya bernafas lega karena cowok gebetan mereka berbeda nama.
“Bukannya nama panjang dia, Hamdan Ganiayasha?” tanya gue menyela. “Yang ini kan fotonya?” gue menunjukan foto di smarthphone yang sudah terhubung dengna aplikasi Grindr. Kedua sahabat gue langsung merangsek gue untuk melihat foto. Setelah melihat foto itu mereka saling pandang.
“Itu punya gue.......,” pekik Bin histeris.
“Yee..... gue duluan yang kenal,” Ban nggak mau kalah.
“Tapi itu sudah gue tag, nggak boleh ada yang lain,” Bin semakin histeris
“Nggak bisa gitu donk.... gue udah ngalah lepasin mantan cuma buat yang baru ini,” Ban ngotot untuk mendapatkan gebetan barunya itu.
“Kemaren gue sebenernya udah ngalah elo dapetin lakik brengsek itu, karena gue sudah ada penggantinya yaitu Hamdan!!” Bin membentak di muka Ban.


Pertengkaran mereka semakin panas saja. Gue memperkirakan bakal ada jambak-jambakkan episoe dua. Dan sudah nyata lelaki adalah perusak persahabatan homo.

Bersambung

TELAH TERBIT BUKU BERTEMA LGBT. DI JUAL SECARA ON LINE. KLIK SINI UNTUK PEMBELIAN BUKU. TEMUKAN IDENTITASMU DENGAN KAMUFLASE


Saturday, 22 August 2015

Setia Ala Gay


 Begini ya rasanya summer gerah banget. Dosen gantengpun percuma nggak bisa menyejukkan udara. Apalagi kalau ada aa bisa bikin hot kebakaran di kasur. Di kost sampai mati gaya mau ngapain, kipas angin sudah muter-muter sampai capek sendiri dan mati, menambah derita gue yang sedang kepanggang. Ini baru di Jogja apa gerangan yang ada di tengah-tengah gurun.

Itulah yang teradi di siang hari. Sekarang gue sudah ada di kolam renang UNY. Terbutki apa yang katanya gosip sudah ada di depan mata gue sendiri. Banyak banget homo bertebaran di kolam renang apalagi bagian kedalaman sedang. Di tambah Sabtu sore dan udara gerah semakin semarak pula homo-homo berendam di kolam renang. Gue yakin mereka Cuma 1% yang niat olah raga sedangkan 99% niat berendam sambil tebar pesona dan feromon, seperti yang dilakukan Bin dari tadi senyum kalau ada cowo ganteng lewat.

“Bin elu masih belum dapetin cowok juga?” tanya gue. Kurang lengkap kalau nggak pake nada nyindir. Abisnya ya dari tadi tuh Bin kegirangan banget kalau ada cowok yang mendekat, mungkin Bin juga sedang mengirimkan sinyal GAYDAR  tetapi sekedar lewat saja. Mungkin mereka berubah fikiran setelah melihat Bin yang ketimpringan.
“Berisik lu ah......” Bin menendang gue dari baawah air tapi wajahnya sambil senyum ke cowok yang ada di depannya.  Cowok yang disenyumi Bin membalas senyum dengan terpaksa tetapi setelah itu dia malah melengos pergi.
“Gimana mau dapet. Dia kan mikirnya masih pakai kepala kenti.” Ban tiba-tiba saja nyamber dengan wajah yang lurus. Tapi kata-katanya membuat remuk perasaan Bin.
“Kalian tuh ya, mentang-mentang sudah punya pacar semena-mena nyinyirin gue terus.” Bin mendengus keki.

Bener banget, akhirnya Ban punya pacar. Bukan sama yang anak Atma Jaya namun sama anak UPN. Gue juga nggak ngerti kenapa Ban berubah pikiran, tapi syukurlah Ban cuma berubah pikiran saja bukan kelaminnya yang berubah,hehehe. Ban baru jadian berapa hari yang lalu, jadi kata orang hubungan Ban dengan pacarnya itu bagiakan anget-anget tai kucing.

“Ban koq elu ganti target sasaran sih?” tanya Bin pada yang baru nyebur ke kolam.
“Abisnya waktu PDKT tuh orang matanya jelalatan macam elu.” Ban melototin Bin yang emang dari tadi sudah jelalatan mata, bibir dan tangan.
“Mata jelalatan bukan jaminan nggak setia juga ya. Elu juga kalau ada cowok kinclong macam dia mata elu diem tapi liatin dia terus, perasaan elu yang jelalatan.hahahaah.” Bin menimpal nggak kalah sadis, apalagi dengan ketawa yang melecehkan. Bin juga menunjuk pada cowok berotot yang dipelototin Ban. Gue tergelak melihat wajah Ban yang merah padam menahan malu kepergok Bin sedang ngeliatin cowok putih yang badannya bagus.
“Gue lagi latihan mata biar tetep fokus di dalam air,” kilah Ban segera.
“Iya tapi mata elu tetep aja fokus liatin tuh orang,” masih saja Bin menyindir dengan pedas. “Mata jelalatan itu wajar buat homo, karena emang pada dasarnya lelaki itu suka jelalatan liatin yang cantik tapi berhubung elu homo jadi suka cowok yang bagus.”

Sebenarnya gue juga merasa tersindir oleh omongan Bin. Meskipun gue sudah punya aa tapi gak apa donk mata jelalatan, yang penting hati sudah mapan di aa. Manusiawi juga kalau kita memang terpesona oleh manusia yang rupawan. Mata kalaian kalau liat cowok ganteng pasti dengan tatapan mata yang menelusuri dari kepala sampai ke selangkangan mata melotot, dilanutin lagi ke kaki.

“Ada alasan lain kenapa kamu ganti sasaran?” tanya gue menyelidik. Abisnya Ban emang tiba-tiba banget sudah dapet pacar padahal juga baru kemarin cerita anak Atama eh sekarang malah jadi anak UPN.
“Hhhhmmmmm,” Ban mencoba mengingat-ingat. “Dia kalau main egois gitu,”
“OMG sejak kapan kamu ketularan Bin?? Masih pentingin ngewek.” Gue tepok jidat, ternyata Ban nggak ada bedanya juga sama Bin. “Elu pasti mikirinya pake kepala kenti sih ya.”
Bin tergelak dengan puas, merasa dirinya menang. “Tuh kan apa kata gue.” Kali ini Bin menyeringai dengan nyinyir. “Kepuasan ngewe itu juga penting. Elu gak puas bisa ninggalin dia, gitu juga sebaliknya dia nggak puas bisa juga kabur.”
“Elu donk yang inisiatif membuat kepuasan sendiri, perlu didiskusikan elu maunya kaya gimana kalau ngewe,” Gue timpal dengan sengit.
“Tetep aja urusan ngewe bisa orang pindah ke lain hati,” Bin masih nggak mau kalah.
“Itu bukan pindah ke  lain hati, tapi pindah kenti,” gue semakin kesal saja.
“Bener jugakan syahwat itu bisa mengalihkan kita kelain orang,” Ban ikut bersuara mendukung Bin karena dia mengalami sendiri.
“Jadi kalau dia sudah bosan sama kalian, bisa saja mereka meninggalakan elu semena-mena juga,” gue membalas dengan bom nuklir, untuk menyadarkan bahwa sex adalah kesenangna sementara. Dan mulut mereka terbungkam, tidak berkutik lagi. “Bisa nggak sih nggak menghubungkan urusan ngewe dengan relationship?”

Gue masih belum paham kenapa urusan syahwat itu sangat penting bagi sebagian orang khususnya yang homo. Emang sih sebagian dari kita pasti mengikuti hasrat seksual untuk miliki dia atau paling tidak sebagai partner sex semata. Dari sexual juga kita bisa beralih ke orang lain untuk mendapatkan kepuasan lebih, begitu seturusnya pada akhirnya elu semua jadi jomblo ngenes. Laki datang dan pergi sesuka hati hanya karena kepuasan sex. Padahal elu merasa puas sex karena kamu mencintai dia begitu juga sebaliknya.

“Emang kamu percaya masih ada laki yang setia?” tanya Bin mengejek.
“Percaya,” jawab gue ragu.
“Peraya nggak percaya tapi masih banyak orang yang punya hubungan awet,” jawab Ban yakin.
“Setia itu relatif,” sambung Bin lagi, seringai senyum mengembang dari bibirnya.
“Iya relatif buat elu Bin,” gue langsung menyela. “Kalau elu sudah dapet cowok ganteng dan hebat ngewe elu bakal mati-matian buat pertahanin hubungan elu,” gue semakin sinis saja. Bin langsung terbungkam lagi, apa yang di otak dia sudah bisa gue tebak dan dia pasti akan ngomong seperti itu juga.
“Bukan gitu....” Ban langsung menengahi pembicaraan. “Relatif maksudnya yang penting kita di hati dia, he only one for me in my heart,” Ban menjelasan maksud dari kesetiaan yang relatif.
Gue langsung memutus lagi omongan Ban. “Terus kenti elu jelalatan kelain orang?”
“Ya nggak gitu juga.” Ban tergagap dituduh suka ngewe sama orang lain juga meski sudah punya pacar.
“Elu ngga usah sok naif atau munafik dech,” Bin malah menuduh gue yang kataya munafik. Gue juga nggak ngerti maksud dia bagaimana. “Elu pasti juga punya hasrat jugakan kalau liat cowok ganteng pengen ngewe sama dia,” menohok sekali omongan Bin.
“Yang pentinkan tetep setia. Gue nggak main hati sama orang lain. Gue masih tetep melayani pacar gue sebagai pendengar setia, manja, berkeluh kesah, menyemangati dia kalau dia susah,” Ban kembali menambahkan apa yang dimaksud setia menurut versinya sendiri.
“Jadi kalau pacar kalian ngewe sama orang lain ngak apa-apa?” gue tanya pada kedua homo di depan gue.
“Selama gue nggak tau nggak masalah,” jawab enteng Ban.
“Yang penting dia selalu ada buat gue, dan gue pun selalu ada buat dia,” Bin menambahkan  dengan santai.

Jujur aja gue sampai speachless dengerin pendapat mereka mengenai kesetiaan itu relatif. Bagi mereka cukup dengan tidak pindah kelain hati sudah cukup setia. Artinya mereka tidak mempunyai cinta kepada lain orang selain pacarnya sendiri. Sedangkan jika mereka ngewe sama lain orang dianggap masih setia karena mereka menganggap hanya membuang sperma saja, sekedar hubungan fisik tanpa ikatan batin. Itulah setia yang kesetian relatif.

Gue akui juga sih, gimanapun juga manusia biasa punya hasrat untuk ngewe sama orang ganteng. Punya kebanggaan sendiri telah menaklukkan cowok ganteng walau sekedar ngewe. Tetapi gimanapun juga rasanya ngewe ya gitu-gitu ajakan? Bukannya lebih aman ngewe sama pacar sendiri.  Ah ya sudahlah tiap orang memang punya persepsi sendiri mengenai kesetiaan.

“Berarti kalau kalian ngewe sama orang lain padahal kalian sudah punya pacar dianggapnya bukan selingkuh donk?” tanya gue untu menyakinkan diri kalau mereka masih punya otak yang waras.

Mereka menjawab dengan mantap dengan anggukan. Ok!! Otak mereka memang waras sedangkan gue yang nggak waras, bagian dari kaum minoritas yang setia itu mutlak hanya ada gue dan elu, kelamin gue hanya untuk elu begitu juga sebaliknya. Kesetiaan emang sesuatu yang absurd bagi mereka.

“Misalkan nih ya..... pacar kalian ngewe sama orang lain, terus dia malah jadian sama itu partner mereka yang baru gimana?”

Bin dan Ban nggak langsung menjawab, mereka pakai acara mikir dulu. Gue berharap sih mereka sadar bahwa kesetiaan nggak sesimpel itu yang penting ada. Aktifitas seks walaupun bagi mereka hanya sekedar sentuhan fisik, gimanapun juga dari fisik bisa ada rasa dihati.

“Ya nggak bisa gitu donk, sudah ada komitmen untuk saling setia nggak pindah kelain hati,” Ban protes dengan semangat empat lima, kalau suatu komitmen bisa menjaga suatu hubungan.
“Yang nikah aja bisa cerai apalagi yang cuma pacaran homo, bisa ditinggal gitu aja,hahahaha.” Gue tergelak puas mencibir Ban. “Komitmen hanya suatu perjanjian belaka disaat orang mulai berhubungan, nama manusia suka kebawa hawa setan mengingkari komitmen itu bila memang ada yang lebih baik dari elu. Elu juga pasti akan merasa begitu kalau hubungan elu hanya sekedar partner sex.”
“Tapi.......,” Ban masih berusaha memprotes tapi masih mikir apa yang harus dikatakan. “Namanya komitmen ya harus dipatuhi donk oleh kedua belah pihak.”
“Mau dipatuhi gimana, elu aja mengingkari sendiri dengan ngewe sama orang lain,” timpal gue dengan cepat. “Bagi gue nama ngewe tetep pakai rasa dan hati. Secara nggak sadar elu dan dia bisa saling menarik hati. Feromon elu dan dia bertebarat bisa jadi terikat. Dan elu bisa melupakan hubungan yang sudah terajalin.”
“Hhhmmm gitu ya?” tampaknya Ban sudah sedikit paham dan sadar apa yang barusan gue katakan.
“Kalau buat gue ya. Kalau dia tertarik sama orang lain ya sudah biarkan saja. Berarti dia bukan jodoh kita,” samber Bin dengan enteng.
“Maka dari itu elu nggak pernah dapetin pacar, elu terlalu menganggap sepele tentang relationship,” ucap Ban menyindir Bin, tuh kan Ban emang orang aneh sebentar waras sebentar eror pikirannya.

Bin menyembur wajah Ban dengna air yang dari mulutnya, macam dukun menyembur ke pasien. Gue yakin Bin pasti keki teman sekutunya telah berkhianat, berbalik mendukung gue. Nampaknya Ban sudah sedikit tersadarkan apa yang tadi gue ceramahin. Gue malah tergelak melihat wajah konyol Ban yang kena jigongnya Bin.

“Eh kemaren gue liat cowok jambak-jambakkan,” Bin membuat topik baru.
“Cowok koq jamabak-jambakkan?” tanya Ban heran.
“Nama juga homo, untung nggak sampai cakar-cakaran,” kelakar gue tergelak. “Emang kenapa sampai kayak gitu?”
“Biasalah, macam relaty show cowok kepergok selingkuh. Pokoknya seru banget,” Bin bercerita dengan semangat macam emak-emak sedang bergosip sama tetangga.
“Terus gimana? Apa nggak malu tuh cowok jambak-jambakkan?” tanya Ban dengan semangat pula.
“Gini ya tragisnya selingkuhanya itu sahabatnya sendiri.” Bin semakin lebay dalam memberikan informasi, gayanya sudah macam pembawa acara infotaiment. “Contohnya begini gue sama Ben pacaran, sedangkan elu Ban sahabatan sama gue, tapi Ben malah selingkuh sama elu. Buat kesel elu Ben mau aja.”
“Pasti seru banget tuh,” Ban masih terkesima. “Kasihan juga ya itu ngeliat pacarnya selingkuh sama sahabatnya sendiri. Yang jadi selingkuhan juga iblis udah tau itu cowo  pacarnya sahabat kenapa masih mau aja dideketin,” Ban jadi geram sendiri.
“Nggak bisa disalahin juga donk selingkuhannya. Namanya rejeki itu nggak boleh ditolak,” Bin menanggapi dengan enteng. “Kalau emang sama-sama berjodoh kenapa nggak.”
“Emang dasar dua orang itu kegatelan aja. Yang satu membela diri kalau itu rejekinya, satu lagi kalau ada yang lebih bagus lagi kenapa nggak,” Ban ikut mengomentari membela Bin.
“Ya nggak gitu juga donk,” gue nggak sependapat dengan Bin. “Gimanapun juga udah tau itu pacarnya temen ngapain juga ngerebut, jodoh itu sudah ada jatahnya masing-masing.”
“Gue sih ya nggak mau ngenalin lebih deket pacar gue ke kalian, khususnya ke elu Bin,” Ban menunjuk dengan tatapan galak. “Takut pacar gue bisa di garap sama elu,” canda Ban diakhir gelak. Gue juga ikut tertawa sih gara-gara ngeliat Bin yang mukanya senewen. “Tapi bentar lagi dia datang. Awas loh Bin elu jelalatan.”
“Lelaki itu pada dasarnya diciptakan untuk berpoligami, nggak bisa cuma satu saja.” Bin menimpal dengan ketus merobek pendapat gue dan Ban. “Bisa jadi emang dia jatahnya gimana?”
“Elu juga nggak usah sok munafik juga ya Ben........” Ban melirik ke arah gue dengan tatapan sengit. Gue punya firasat nggakk enak.
“Elu juga merusak hubungan orang lain, bahkan rumah tangga!!” sambung Bin dengan kata-kata yang pedas. “Nggak ada bedanya jugakan elu sebagai selingkuhan orang?!!”

Hati gue terhenyak dan hancur, mendadak gue jadi muram mending langsung tenggelam saja di kolam renang ini dari pada dituduh sebagai perusak rumah tangga orang. Aa Iw sudah punya istri dan anak, sedangkan gue sebagai madu. “Nggak ada beda jugakan jadi selingkuhan?” pertanyaan itu terus terngiang di otak. Gue bener-bener nggak bisa berkutik. Tapi gue bertekad untuk membela diri.

“Beda donk objekanya,” gue mulai berkilah untuk menaikkan derajat gue yang telah diinjak-injak. “Sedangkan aa itu BISEXUAL jadi wajar saja punya istri, untuk melengkapi dirinya bisex dengan punya pacar cowok juga. Lagian kan nggak ketahuan, kita DISCREET.”
“Mana ada sih selingkuh sambil koar-koar!!” Ban menusuk relung hati gue. Gue jadi kelihatan orang paling bodoh sedunia.
Buuuuurrrrrrr Bin kembali menyemburan air dari mulut ke muka gue. “Bodoh!!! Namanya selingkuh pasti diem-diem aja. Kamu ketularan Ban jadi idiot ya?”
“Nggak gitu juga. aa Iw menganggap gue sebagai yang berbeda donk. Peran gue juga di samping aa Iw bukan sebagai perempuan atau istri.” Ahhh sebenernya gue asal ngomong. “Kalau selingkuhankan punya kelamin yang sama dengan pasangan resminya. Ngapain juga cari yang sama.” gue menambahkan dengan serampangan saking jengkel dan gugup. “Peran dan aa Iw menganggap gue sebagai lelaki.”

Gue nggak ngerti apa yang barusan gue katakan. Mungkin lebih simpelnya gini. Aa Iw adalah biseksual. Dia bisa mencari seorang figur keibuan yang lemah lembut tetapi kuat dari istrinya. Sedangkan dia juga membutuhkan seroang cowok dengan peran dan figur yang berbeda. Cara memberi kasih sayang dan responnya juga akan berbeda juga. Sedangkan selinkuhan adalah kita mencari cinta yang lain dari jenis kelamin yang sama dengan pasangan resmi kita.

“Elu ngomong gitu karena untuk membela diri, Ben” Bin masih saja menyindir dengan ketus.
“Intinya adalah elu tetep jadi orang kedua dalam hubungan orang lain. Just it and end,” Ban berusaha menyudahi perdebatan, tetapi ujungnya tetep nggak enak. Gue masih tertuduh sebai pelaku selingkuhan. “Terserah elu juga kalau emang elu menganggap bukan selingkuhan karena emang pada saat aa Iw di Jogja elu sebagai pasangan resminya. Ketika dia ada kotanya sendiri elu bukan siapa-siapa dia.” Ban segera menambah lagi, “Jadi perselingkuhan itu ada dua jenis ada yang Cuma sekedar ngewe aja sudah dianggap sebagai selingkuh. Apalagi udah ngewe pakai hati juga itu selingkuh kuadrat,” Ban menyimpulkan jenis selingkuh.

Kembali lagi pada setiap orang punya definisi selingkuh dan arti setia itu berbeda-beda dan bersifat relatif. Bagi gue yang punya pacar sebagai suami orang, menggap dia setia pada jalurnya masing-masing dia nggak menduakan gue dengan lelaki lain dan dia tetap setia sebagai suami yang nggak punya lebih dari dua perempuan dikehidupannya.

“Kalau pacar elu selingkuh jangan serta merta nyalahin dia,” cetus Bin membuka topik baru.
“Pada dasarnyakan pacaran itu hubungan dua orang saling kerja sama,” gue nambahin lagi.
“Bisa saja kesalahan dari kita sendiri,” imbuh Ban. “Kita harus bisa intropeksi diri, mungkin ada perilaku kita yang nggak sesuai dengan dia jadi malah kabur ke orang lain.” Cakep banget dech pendapat Ban, kali ini bisa membuktikan dia memang pantas kuliah di PTN.
“Nah itu tau..... muaacchh kecup basah,” Bin memonyongkan bibirnya pura-pura cium Ban. “Contohnya gimana?”
“Misalnya gara-gara elu suka ngupil sembarangan pacar elu jadi ilfeel dech. Elu sendiri yang harus peka apa yang membuat pacar elu jadi selingkuh,” Bin menmberi contoh sebab perselingkuhan dari sendiri.

Perselingkuhan itu bisa saja dari internal diri sendiri. Seperti yang sudah Ban jelaskan kalau diri kita sendiri bisa memicu pasangan kita selingkuh karena kita orang yang egois atau nggak bisa kasih kenyamanan untuk dia. mungkin seperti halnya elu selingkuh ke orang lain karena pacar elu kurang beri perhatian jadi kamu cari orang lain untuk mendapatkan perhatian lebih.

“Terus gimana donk biar pasangan tetap setia sama kita?” tanya Ban meminta petunjuk. Maklum saja dia baru punya pacar, masih perlu saran dari orang-orang yang minim pengetahuan dalam relationship.
“Pertama!!” Bin langsung menyerobot. Gue menerka pasti dia bakal kasih saran yang nggak bener dan nggak jauh dari selangkangan. “Elu kasih saja “service” terbaikmu dijamin dech dia bakal klepek-klepek sama elu.”  Tuhkan bener Bin kasih saran yang ngaco.
Service apaan? Ngewek?” tanya gue memastikan kembali, sebenarnya sudah pasti service urusan selangkangan. “Elu tuh ya yang dipakai kepala kenti mulu, nggak pernah jauh dari ngewe.” Kali ini gue gantian yang nyembur muka Bin biar dia segera sadar dan sembuh dari kengacoannya.
“Ah bosen Bin..... gue pacaran bukan buat ngewek aja,” Ban mendengus kesal dikasih saran yang nggak bener oleh sahabatnya.
“Tapi dari ngewe, lelaki itu bisa bertekuk lutut,” ucapan Bin terputus gara-gara mulutnya dibungkam oleh Ban yang sudah jengah dengan nasehat Bin yang ngaco. Bisa juga Ban juga capek mendebat karena gimanapun juga kepala Bin isinya ngewe saja.
“Orang akan setia karena sudah merasa nyaman,” gue mulai tausyiah. “Kalu elu sudah nyaman nggak akan pindah. Seperti elu dapet kost yang udah nyaman ngga akan pindah-pindah.”
“Gue kan nggak ngekost,” Ban menanggapi dengan enteng dengan tampang lempeng.
“Itu cuma perumpaaan aja kali,” balas Bin gemes sambil menciprati air ke Ban. 
“Kita bisa merasa nyama karena saling menyayangi. Dari sayang akan timbul cinta,” tandas gue.
“Biar dia tetep cinta sama elu gampang caranya,” Bin kembali bersuara.
“Gimana?” tanya Ban penasaran. “Nggak usah bawa selangkangan.” Ban memperingatkan Bin agar nggak ngaco lagi.
“Elu tinggal pasang susuk pesona, susuk welas asih dan pelet,” Bin tergelak puas ngerjain Ban. Gue juga ikut tertawa karena ngeliat tampang Ban yang keki banget.
“Sialaaaaan” Ban terus menciprati Bin sampai gelagapan. Gue semakin tergelak melihat kelakuan kekanak-anakan mereka. “Terus apaan yang bisa membuat pasangan kita nyaman?”
“Ya itu elu sendiri yang tau, gimana cara agar pacar nyaman sama kita. Elu pasti sudah tau donk waktu pdkt seluk beluk dia gimana agar dia nggak marah, nggak ngambek. Pinter-pinter elu sendiri saja,” ceramah gue masih berlanjut.

Kenyamanan itu relatif. Setiap orang punya batasan sendiri untuk mendapat kenyamanan terhadap pasangannya. Contohnya gue ngerasa nyaman sama aa Iw karena dia bisa menjadi pendengar setia, dia juga bisa kasih solusi yang tepat. Sedangkan aa Iw nyaman sama gue karena bisa menjadi teman curhat yang enak dan gue nggak pernah ngambekkan dan nggak pernah mempermasalahkan status suami. Elu sendiri yang harus peka gimana cara pacar bisa nyaman  sama elu.

“Gue sih nggak percaya homo itu bisa setia,” Bin tiba-tiba ngoceh sendiri. “Coba aja elu liat sendiri banyakkan temen kita yang selingkuh.
“Elu aja yang kurang melek pergaulan,” sergah gue dengan galak. “Elu mainnya sama homo aja sih ya. Di dunia penormalan banyak juga yang selingkuh.”
“Lagian banyak juga koq temen kita yang awet pacaran,” Ban kembali membela gue.
“Semua lelaki itu sama, nggak puas dengan satu orang saja, pasti masih ada hasrat untuk coba sana sini,” Bin nggak memperdulian omongan Ban. dia masih nyerocos sendiri “Intinya ketika elu mulai berhubungan sama orang lain, elu juga harus sudah siap suatu saat akan berpisah dengan dia.”
“Pokoknya elu sendiri yang jaga baik hubungan itu, bagaimana bisa menyenangkan hati pasangan elu,” gue menutup diskusi.

Ungkapan homo itu nggak ada yang setia buat gue itu salah, karena dunia homo juga seperti dunia hetero dimana hubungan itu penuh dinamika. Kadang dari kita sendiri yang menyudutkan homo itu nggak ada yang setia, karena kita terlalu sibuk bergaul dengan homo. Di dunia heteropun banyak kasus perselingkuhan entah dari pihak cowok atau cewek.

Menjaga hubungan itu bagaikan seni. Elu bisa memperindah dengan keromantisan. Elu bisa meredam emosi untuk rasa egois. Elu juga menahan diri untuk tidak berbuat aneh-aneh. Pasangan elu juga berperan gimana nggak buat elu kecewa, baper dan kegundahan lainnya. Elu dan dan pasangan elu kerjasama untuk terus mempertahankan dan memberi kenyamanan dalam berhubungan.

“Hai Yud..... sini aja,” Ban menyapa cowok ganteng, berkulit sawo matang, perawakan macho, tampi masih kelihatan MenLi .
“Hai....” balas Yud kepada Ban. dia juga sempat senyum ke gue.
“Eh kenalin ini pacar gue,” ucap Ban sumeringah. Mungkin ada sedikit bangga memperkenalkan pacar ganteng ke teman-temannya.
Entah sebab apa Bin langsung menarik gue menjauh dari kedua orang yang baru jadian, “Ben. Tadi malem gue ngewe sama pacarnya Ban.”
Gubrag!! Gue terhuyung saking kagetnya dan hampir terjerembab di kolam. “Gila lu tega banget, sumpah ini kelewatan!!” gue donk langsung naik pitam, sebegitu binalnya Bin garap pacar orang.
“Gue juga kaget banget pas tadi liat dia, sumpah!! Tadi malem gue nggak ngerti dia pacarnya Ban.”

Jagalah pasangan elu baik-baik. Karena orang terdekat elu bisa saja orang paling berpeluang menghancurkan hubungan elu sama pacar.

TELAH TERBIT BUKU TEMA GAY BERJUDUL KAMUFLASE DI JUAL SECARA ON LINE UNTUK PEMESANAN KLIK SINI. TEMUKAN IDENTITAS MU DENGAN KAMUFLASE 

Tuesday, 11 August 2015

Gay PDKT


Gue seneng banget bisa balik lagi ke Jogja, setelah satu bulan di rumah. Gue bisa bebas lagi di Jogja, gak peduli dengan jam malam yang biasa diterapkan di rumah. Apalagi harus bikin laporan mau kemana kalau gue pergi, bagaikan bonyok sebagai mandor sedangkan gue narapidananya. Gue juga kangen banget sama kedua sahabat yang sama aja homonya kaya gue, yaitu Ban dan Bin. I realy miss they are, tanpa mereka hidup gue hampa (majas hiperbola).

Meski gue baru aja nyampe tapi gue gak capek sama sekali, karena sepanjang perjalanan gue bisa pinjem bahu mas-mas yang ada di sebelah waktu di bus. Gue nggak ngerti mas itu emang baik ngeliat tampang gue yang imut pas tidur pules banget atau dia juga sebenernya homo yang ngarep ditidurin gue? Entahlah gue nggak mikirin, yang penting gue sudah dapet nomer HPnya. Jangan  pada ngiri ya :p.

Pas gue sampai kost ternyata sudah ada Ban dan Bin bikin acara penyambutan. Gue yakin mereka sebenernya gak iklas menyambut gue, karena ada seringai jahat dibalik senyum mereka. Gue cuek aja walau mereka ada maunya, bisa ada umur ketemu sama mereka lagi sudah bikin gue happy sekaligus sengsara.

“Heh!! Ben,” Bin manggil gue dengan kasar. “Mana telor asin pesenan gue?”
“Gue aja belum duduk, udah nagih aja,” balas gue dengan sengit. “Bukannya punya lu itu udah asin?” Gue nunjuk arah selangkangan Bin yang pakai celana pendek ketat. Awalnya gue ngira Bin pakai hotpants.
“Asin banget,” celetuk Ban dengan polos.
“Berarti elu udah pernah ya?” tanya gue sambil menaruh tas. Gue sempat ngelirik Ban, mukanya lempeng banget.
“Udah,” jawab Ban segera. “Asin banget malah!” tambah Ban yang masih lurus tampangnya. Sedangkan Bin maah merah padam.
“Bego lu Ban, bongkar aib orang. Elu ngerasain pas gue lagi keringetan sih” Tangan Bin menoyor kepala Ban, biar sadar dari kepolosoannya.
“Lah.... emang gitukan?” Eaaahhh Ban masih tetep aja bego.hahahaha. inilah yang gue suka dari kedua sahabat gue yang satu terlalu polos yang satu lagi kegatelan, semuanya diembat.

Acara pertama adalah bagi oleh-oleh utuk kedua sahabat gue. Bin paling demen sama telor asin, dan nyata jugakan telor kembarnya jadi asin beneran. Eh nggak tau dink, gue belum pernah nyobain. Hanya orang-orang yang pernah jilatin aja yang tau rasanya telor kembar Bin,hehehhe.

Dari pertama dateng gue liat Ban tampaknya lagi happy. Biasanya dia keliatan seneng karena abis dapet jatah ngewe entah dari siapa atau punya gebetan baru yanng bisa diprospek buat jadi pacar. Tapi nasibnya Ban selalu sial cuma sampai tahap prospek, gak ada kemajuan untuk dijadian client tetap atau pacar,hehehhe. Gue nggak tau siapa yang salah apakah Ban atau gebetannya yang udah nyia-nyiain kepolosan sahabat gue.

“Elu lagi seneng kenapa Ban?” tanya gue langsung to the point.
“Dia dapet cem-ceman baru lagi,” samber Bin dengan nada menyindir, tapi ditelinga gue sebagai ungkapan cemburu. “Anak Babarsari,” tambah Bin sambil mengelos.
“Bukan cem-ceman,” cetus Ban dengan ketus sambil merobek bungkusan pilus. “Calon BF,” lanjut Ban. “Tolong bedakan antara calon pacar sama cem-ceman!!”

Biar gue jelasin dulu. Cem-caman adalah orang yang kita taksir dan berusaha untuk didekati. Cem-cemann masih bersifat belum pasti. Bisa dikatakan hampir sama dengan gebetan hampa. Orang yang punya prospek untuk sesaat saja, kalau dia nggak ada prospek yang menggiurkan bakal ditinggalin begitu saja. Sedangkan calon pacar adalah orang cowok yang sudah lama kita kenal dan ada akitifitas pendekatan untuk jauh lebih mengenal untuk rencana untuk menjadi pacar, kalo jadian.

“Gue lagi pendekatan aja sama anak Babarsari, kuliah di Atma,” lanjut Ban sambil makan pilus. “Tapi gue bingung cara PDKT gimana?”
“Elu bisa jadi temen diskusi apa saja yang asik, karena otak anak kuliahan sedang berkembang menuju kedewasaan untuk meraih kehidupan yang layak dan sudah peka terhadap isu kemasyarakatan. Elu bisa jadi temen yang seru buat hang out atau melakukan kekonyolan, karena mereka masih punya sifat kekanakkan yang butuh permainan,” tandas gue dalam ceramah tips dalam pendakatan.
“Ben, gue envy dech salam elu bisa dapetin gadun macam aa Iw. Elu pakai dukun mana bisa pelet dia?” tanya Bin frustasi. Melihat kelanggengan gue dengan aa Iw. “Gue pengen dapet gadun.”
Gue melempar berapa butir pilus ke muka Bin. “Sembarang gue pake pelet. Gue cuma pakai susuk Ki Sancang yang suka nongol di TL Twitter,” kelakar gue sambil tergelak renyah, diikuti oleh dua homo yang lagi pada frustasi dalam pendekatan.
“Gini ya para emak-emak yang HBL (Haus Belaian Lelaki). Kalau elu nyemplung ke empang yang elu dapetin ikan lele, tapi kalau elu nyemplung ke kolam ikan elupun bisa dapetin ikan Koi,” ujar gue memulai penjelasan dengan sebuah perumpaan, dugaan gue bener, mereka nggak paham. Dahi mereka mengernyit sambil membayangan memegang dua ikan. “Jadi gini, kalau elu mau dapetin gadun elu datengnya bukan ke play group tapi tempat yang biasa didatengin sega atau gadun. Elu pengen dapetin brondong, jangan jadi orang bodoh mengunjungi kantor.”

Tentukan dulu sasaran yang elu mau untuk mencari calon pacar. Misal elu pengen dapetin brondong datangilah tempat tongkrongan anak sekolah. Elu pengen punya pacar sega atau gadunpun harus seuai dengan tempatnya dimana mereka suka ngumpul dan rumpik bareng. Sebenernya lewat sosmedpun sudah bisa elu tinggal mainin jempol.

“Terus elu koq bisa dapeting aa Iw gimana caranya?” tanya Ban masih penasaran. “Elu enak dapet gadun tajir.”
“Gue juga nggak ngerti kenapa,” kata gue sambil mikir-mikir lagi. “Gue juga nggak minta apa-apa sama dia kali. Elu mau deketin gadun, jangan langsung nodong minta dibeliin itu atau apalah, yang ada gadun itu takut ngirain elu seabagai rampok. Pelan-pelan aja, dia akan ngasih elu sendiri kalau dia sudah sudah percaya sama elu. Kalau kata gue sih, mau dapetin gadun elu cukup jadi pendengar setia, gadun nggak mau dinasehatin kerena ego mereka sudah merasa paling benar. Elu mau ngewe sama dia, tapi jangan terlalu agresif, mereka suka melayani memberi kepuasan pasangannya.” Gue memberi tips gimana pendekatan sama sega atau gadun. “Satu lagi, mereka lebih suka di rumah, menghabiskan waktu di kamar sambil bercengkrama dan cuddling.”
“Kalau mau dapeti brondong gimana?” tanya Bin dengan semangat.
“Berondongkan biasanya manja ya, elu tinggal kasih kehangatan sama mereka. Elu cukup jadi orang yang bisa mengayomi dia, tinggal kasih sedikit perhatian sudah klepek-klepek. Mau tambah ampuh lagi, tiap bulan elu kasih jatah pulsa.hahahah.” Kali ini gue berbagi tips cara mendapatkan berondong. “Elu juga harus sabar ngadepin emosi mereka yang labil nggak karuan.”

Setelah dapatin sasaran elu bisa menyesuaikan sifat dan aktifitas mereka bagaimana. Elu bisa berabagai macam trik untuk mendapatkan gadun atau berondong. Nggak semua trik itu manjur tergantung elu menjalani, yang penting elu bisa tau celah dimana titik kelemahannya. Misalkan elu dapet gadun yang royal, puji-puji aja terus, semakin dipuji semakin bangga dan dia bakal suka sama elu. Misalkan berondong gebetan elu manja, elu tinggal elus-elus macam ngelus kucing.

“Terus pendekatan elu sama dia sudah sampai mana?” tanya gue dengan antusias. Gue ngeliat mata Ban berinar-binar, tampaknya gebetan dia orang yang patut diperjuangkan.
“Baru sampai kasur,” sela Bin dengan tampang mesum.
“Enak aja, gue nggak segatel itu kali.” Kali ini Ban yang menonyor kepalaBin.
Gue cengengesan ngeliat polah mereka. “Ohh nggak di kasur tapi mainnya di dalem mobil ya?” canda gue diiringi gelak dari Bin.
“Ah sama aja kalian berdua..... omes (otak mesum).” Bibir Ban adi mau diledekin kita. “Gue aja lagi bingung cara pendekatan yang baik dan benar itu gimana?” tanya Ban yang sedang frustasi ngadepin masalah cowok. Tapi kayaknya Ban pun ragu bertanya pada kita yang suka jawab dengan asal.

Gue jadi seneng nih bakal ada diskusi yang menarik soal PDKT, biarpun gue nggak pengalaman soal PDKT, sebagai sahabat baik pasti memberi arahan yang baik dan benar. Gimana buat bisa PDKT lah homo-homo yang deketin gue koq, hahahha,upz gue nggak sombong ya tapi keadaannya seperti itu. Gue ngelirik Bin yang sudah siap memberi wejangan, tapi gue curiga seringainya mengandung gelagat tidak enak.

“Pertama elu kenali dia lebih dalam terlebih dahulu,” Bin langsung mengambil alih diskusi.
“Lahkan sudah kenalan.” Dahi Ban mengeryit tanda nggak paham omongan Bin.
“Maksud gue, kenal lebih dalam. Cari informasi umumnya, tempat tanggal lahir, tinggal dimana, IPKnya berapa, berapa uang bulanan yang dia dapat,” Bin mencerocos dengan cepat sambil merenggut pilus.
“Elu mau jadi petugas sensus,” sela gue geleng-geleng kepala, tuhkan bener Bin mulai ngaco.
“Ya udah dech. Gini ya yang penting elu harus tau dulu dia Top atau Bot, gaya ngewenya gimana, dia tipe egois apa bukan.” Diakhir kalimat Bin mengibaskan poninya yang dicat biru terang. Oke, sekarang gue tau, Bin punya penampilan baru yang menambah keyakinan gue kalau Bin spesies homo alay nyentrik.
“Elu mau cari pacar atau partner ngewek toh, Bin?” tanya gue agak kesal, petunjuk Bin menyesatkan Ban.
Please donk ah....listen me!” Bin jadi kesal diperotes mulu. Bin juga mengacung telunjuk agar nggak ada  yang nyela.
“Info yang kayak gitu itu penting banget ya. Pacar sama dengan partner ngewe kita. Lucu donk pas udah jadian giliran mau ngewe eh rebutan nungging. Nggak bangetkan elu semua pakai dildo double dick.” Bin semakin girang mengibas poni, sebagai tanda kemenangan.
“Pantesan ya elu tuh jomblo ngenes. Taunya ngewek doank!!” semprot gue dengan sinis.
“Emang sih pacar itu partner ngewe kita. Tapi bukan ngewe melulu juga,” Ban ikut bersuara juga.
“Ngewe itu penting juga!!” Bin nggak mau kalah. “Banyak kasus perceraian gara-gara nggak puas ngewe. Apalagi dunia homo Indonesia nggak ada ikatan nikah. Dia gak puas elu ditinggalin gitu aja. Dia atau elu puas bisa reapet order.” Bin menuntaskan omongan sambil melempar pilus ke gue dan Bin, tatapannya mengintimidasi. “Elu juga jadian sama aa Iw sebelumnya ngewek dulukan?” Bin menang telak!!!
“Tapi gue jadian sama aa Iw bukan karena ngewenya aja, ada sesuatu yang lain juga.” Gue berang sama omongan Bin yang menyudutkan gue. “Gue juga perlu pendekatan dulu seblum jadi pacar. Gue cari tau seluk beluk, sifat dia gimana, dan yang utama cara memeperlakukan gue. Toh gue sama aa Iw  LDR nggak bisa setiap saat ngewe.”
“Jadi elu nyari pacar buat ngewe doank?” Kali ini Ban yang menyudutkan Bin. Gue suka banget dengan tampang Ban yang lurus aja, tanpa dosa nanya gitu.
“Pantesan elu nggak pernah awet pacaran. Cuma ngewe sih,” tambah gue lagi. Bin semakin mengkerut saja, mojok sambil menghdap tembok. Gue pikir dia lagi merajuk, ternyata lagi berburu oleh-oleh yang gue bawa. Dia emang selalu main kabur aja kalau lagi dinyinyirin.

Gue seneng Ban mendukung gue. Kita punya pacar bukan hanya untuk ngewe tetapi lebih dari itu. Elu nyari pacar Cuma buat ngewe dijamin nggak awet, karena diapun akan memperlakukan elu sebagai pelepas libido saja. Ngewe emang penting, tetapi elu dapet kepuasan setelah elu sudah bisa menyesuaikan gaya ngewenya dia, begitu juga sebaliknya dia bakal mengimbangi libido syahwat elu. Urusan ngewe itu bisa berkembang dan berubah terus sesuai mood dan variasi yang elu inginkan.

“Ada benernya apa yang diomongin Bin,” ucap gue memecah keheningan akibat yang lain sibuk ngunyang pilus. Bin langsung bergairah dan mepetin gue dengan girang, gue sampai takut sendiri jikalau Bin mau perkosa gue, nggak ketinggalan gaya andalan dia yang baru, mengibaskan poni.
“Tuhkan bener apa kata gue, makanya pikir dulu kalau ngomong. Elu mesti tadi mikirnya dari kepala kenti ya?” Jiah..... Bin malah ngatain gue. Dia ngira gue berubah pikiran mendukung dia.
“Elu tuh yang tadi mikir pake kepala kenti jadi lebih mengutamakan ngewe,” Ban membalikkan smash dengan kata-kata yang pedes. Wah sekarang Ban sudah jago ngebom Bin.
“Maksud gue itu, kenali dia dulu sebelum jadi pacar,” lanjut gue tanpa menghiraukan kelakuan dua temen homo yang siap berperang kata-kata.
“Guekan udah kenalan,” Ban balik lagi ke posisi orang polos tanpa dosa.
“Gini ya Banci....!!!” gue jadi gregetan sendiri.
“Elu Bencong.......!!!” balas Ban dan Bin kompak.
Ok. Gue frustasi, gimana bisa kelar jelasin kalau pada ledek-ledekkan. “Elu perlu lebih banyak tau siapa dia, lebih utama kepribadian dia dan keseharaian dia kayak gimana.”
“Jadi gue harus, sering-sering tanya dia donk?” Ban sedikit paham tapi caranya yang salah.
“Elu bego atau dongo sih?” saking gregetannya Bin, menampar Ban dengan poni biru yang cetar membahana. “Pakai sosmed donk, sosor meled.”
“Apaan tuh sosor meled?” tanya gue bingung dapet istilah baru. Gue yakin artinya pasti nggak bener.
“Sosor itu cium-ciumin aja abis itu lidahnya meled sambil jilat,” Bin menjelaskan dengan tampang super mesum. 
“Itu forplay sebelum ngewe kali, buat memulai oral,” timpal Ban, yang ajaib bisa tau teknik ngewe juga. gue aja kagak ngerti.
Back to topic yang ibu-ibu homo.” Gue garuk kepala yang sudah botak gara-gara kebanyakan stres bersahabat dengan dua homo mesum dan telmi. “Bener kata Bin. Kita kenal lebih jauh lewat sosmednya. Apa yang saja yang dishared di time line Twitter, FB, Path, IG, Manjam, PR, Line, WhatsApp. Elu bisa liat sebagian kepribadia dia disitu semua. Apa dia suka maki-maki, apa dia Gay Rasis terhadap gay yang lain. Mungkin juga dia suka menggalau haru biru ngungkapin baru saja dideketin sama elu, gara-garau elu terlalu agresif.”
“Dari situ elu bisa dapet pertimbangan apakah dia cowok baik-baik atau begajulan atau mesum,” kali ini Bin nambahin dengan pemikiran yang waras. “Elu nggak mau jugakan dapet pacar yang posesif, kemana-mana elu dikuntit sama dia, hidup elu berasa diteror. Apalagi sekarang banyak psikopat, ngewi sambil main cambuk-cambukkan dan tetesin lilin.” Bin terkekeh ala mak lampir bergaya menakutin Ban.
“Itu BDSM Bincung......bukan psikopat,” gue terkekeh, ngeliat Ban yang sudah takut duluan.
“Kayak gue donk cowok baik-baik. Selalu kasih service yang terbaik buat calon pasangan gue.” Otak Bin sudah kembali normal, balik lagi kemesumannya.

Kalau elu sudah punya target cowok bisa prospek jadi pacar, elu harus kenali kepribadian dia. Nggak perlu tanya jawab ala interview mbak Mata Najwa yang ada tuh gebetan elu kabur duluan karena merasa diintrogasi. Elu bisa liat apa yang ada di dalam sosmed dia. Kalau ternyata dia homo Gay Discreet

 elu harus ekstra energi buat ngulik, karena hanya dengan bercengkrama elu bisa liat kepribadia dia. Elu nggak peka sama psikologi orang mending nggak usah coba-coba pendekatan sama orang discreet bakal repot sendiri.

Fungsi lainnya stalking di sosmed adalah tau siapa orang-orang disekitar dia. Elu juga bisa lihat dari komentar yang mereka tulis, dari situ elu bisa menilai kalau gebetan elu orang yang friendly beneran atau pura-pura. Pertahatikan baik-baik time line dia pasti ada seorang mantan yang ikut ngomentarin juga, elu bisa liat apakah gebetan elu masih punya rasa ke mantannya atau malah jambak-jambakkan. Jika dirasa sudah beres, gebetan elu orang yang aman dan baik lanjutkan langkah berikutnya.

 “Terus ngapain lagi abis itu?” tanya Ban yang ingin petunjuk lebih banyak.
“Elu pahami dan coba menyesuaikan sifat dia serta kasih perhatian,” Bin kembali lagi pada otak yang nggak waras. “Misalkan sifat dia mesum, elu harus agresif juga di kasur,” Otak Bin emang nggak udah disetting buat mesum. “Dia orang suka marah-marah, elu jadi es batu yang siap mendingkan emosi dia. Dia orangnya suka menggalau, elu harus jadi orang tegas untuk menuntun dia ke jalan yang benar, elu dan dia sama-sama galau dan bingun sholat Istikharoh berjamaah minta petunjuk sama Tuhan.”
Tangan gue langsung nempel ke jidat memastikan lagi panas atau adem, tumben banget diakhir pidato kata-kata dia begitu manis. “Oh.... elu lagi lagi gak gila,” gue tergelak. Sekarang giliran gue yang jadi gila.
“Dia tuh orangnya perhatian sama gue......” ucap Ban yang masih mengambang.
“Tapi.......” gue dan Ban melanjutkan omongan Ban.
“Tapi dia tuh suka ngatur-ngatur,” Ban mengeluhkan sikap gebetannya.
“Dia suka ngantur-ngatur kalau emang demi kebaikan ya jalani. Kalau elu nggak sreg jelaskan dengan logika yang benar. Orang macam dia itu keras kepala dan butuh penjelasan yang logis. “Intinya adalah elu harus bisa menyimbangkan. Dia suka ngatur-ngatur tapi ternyata dia pelupa, elu bisa pengingatnya. Apa yang jadi kekurangan dia, elu yang melengkapi. Kecuali buat ngelengkapin tunggakan bayar kost dia, elu jangan mau!!”
“Kalau dia manja, elu bisa kasih perhatian ekstra dan jadi orang yang mengayomi,” tambah Bin yang masih dalam posisi nggak waras.
“Dia orang yang mandiri dan cuek, elu tetap kasih perhatian tapi jangan harap elu diperhatikan dengan kata-kata. Orang kayak gitu perhatian lewat tindakan, bukan kata-kata.”

Elu harus jadi orang yang penyeimbang buat dia dari awal, jadi dia bakal terkesima sama elu. Dia sudah terpesona sama perlakuan elu ke dia. Dia pun bakalan ada rasa ketertarikan lebih jauh untuk melanjutkan hubungan. Perhatian adalah pendekatan yang ampuh, meski terlihat sepele sebenarnya dampaknya besar banget. Dia bisa merasa disayangi sama elu dari merasa disayang akan tumbuh cinta.

Menjadi penyimbang maksudnya adalah biar elu jadi memahami ritme emosi dia. Elu bisa tau apa yang dia butuhkan dan elu bantu sebisa mungkin. Bantuan nggak mesti material tetapi dengan kasih saran atau cukup jadi pendengar setia. Dari penyeimbang itu, dia bakal menimbang apakah elu layak atau nggak disisinya bisa berjalan bareng dengan nyaman.

Dari sosmedpun dia sering berkeluh kesah, elu tinggal komentarin agar dia terus bersemangat atau memberikan solusi. Elu bisa jadi kawan curhat, itu yang penting karena elu bisa memberi perhatian ekstra disini. Buatlah nasehat yang bijak untuk dia.

“Bin kenapa elu sekarang jadi kakek tuir berjambul biru?” tanya gue mempelesetkan dari kakak tua berjambul kuning, untuk menyindir Bin yang berpenampilan baru.
“Dia dapet cem-ceman baru,” celetuk Ban nyinyir. “Cem-cemannya itu anak empat el empat ye, dibaca ALAY!!”
“Bin....Bin....” Gue geleng kepala, mendengar kekonyolan Bin dari Ban.
“Gue kan udah bilang, elu udah lebay nggak usah jadi alay, yang ada elu jadi alayers kuadrat.” Ban menunjuk Bin apalagi nadanya menyindir.
“Gue kayak gini emang gue yang mau koq. Sekali-kali boleh donk merubah penampilan,” Bin berkilah bahwa gayanya sekarang karena keinginan dia sendiri.
“Elu yang mau karena menunjukkan bahwa elu suka sama diakan?” tuduh gue semena-mena.  “Elu perlu cukup menjadi diri sendiri,”
“Elu nggak capek bergaya seperti itu terus?” tanya Ban iba, melihat Bin yang memaksakan diri menjadi seperti gebetannya.
“Gini ya sahabat homo yang gue sayang.” Mata gue pelototin ke Bin dan Ban agar lebih kosentrasi perhatiin gue. “Kalian cukup menjadi diri sendiri. Nggak perlu menjadi seperti seperti dia juga. Tunjukkan pesona dirimu sendiri, biarkan dia melihat kalian dari sisi sebenarnya, bukan fake kayak gini.”
“Tapi gue emang nyaman kayak gini,” Bin maksa bahwa gayanya emang sudah yang pas buat dirinya, tapi ngomongnya tersendat seperti orang lagi merancang pidato.
“Bin, elu nggak perlu memaksa menjadi seperti yang dia suka. Kalau dia suka kayak gitu, elu cukup mendukung aja. Gini dech, misalkan someday elu capek dengan gaya seperti itu, terus elu kembali ke asal memperlihatkan diri sebenarnya elu, yang ada dia kecewa dan ninggalin elu. Dia pikir, elu itu fake.” Gue ngomong dengan intonasi agak tinggi, karena gue sayang sama Bin biar sadar apa yang dilakukan itu nggak bener.
Tangan Ban menepuk punggug Bin dengan lembut agar Bin ngga merasa sedang dinasehati opa-opa sok bijak. “Disaat kita pendekatan, kita cenderung menjadi fake.  Kita juga bisa akan menjadi sok manis. kita juga bisa menjadi suka apa yang dia sukai juga, dan menjadi kepalsuan lainnya.” Timpal Ban untuk membela Bin yang sedang merajuk. Gue heran juga tumben banget Ban jadi cerdas dalam hal hubungan antar manusia. Ah pasti itu ketularan Bin otaknya jadi miring semua.
“Mereka biasanya hanya jaim (jaga imej) saja, menutupi agar gebetannya terkesan. Bukan berarti mereka berubah menjadi orang lain,” balas gue mempertahankan argumen kalau itu yang benar.

Elu termasuk gue pun hanya perlu menjadi diri sendiri dihadapan gebetan apalagi sudah menjadi pacar. Pada awalnyapun gue juga jaim di depan aa Iw, gue berusaha nggak teledor, bersikap nggak jorok, berpura-pura menyukai walau sebenernya pengen muntah, tapi lama-lama gue juga capek. Bisa aja orang tertarik sama elu karena apa adanya elu, dia terkesan dengan kejeniusan otak elu, atau bisa juga dia kagum sama elu karena ternyata elu itu orang yang rajin ibadah meskipun elu suka ngupil sembarang. Dia suka sama elu dari cara elu memperlakukkan orang.

Pendekatan itu sebenarnya hal yang gampang, bagaiman mana caranya agar gebetan elu bisa lebih tertarik dan yakin kalau elu adalah orang yang tepat buat dijadiin pacar. Pendekatan bisa menjadi hal ribet kerena elu sendiri yang terlalu memaksa menjadi “orang lain” agar dia terkesan sama elu. Percaya diri aja, dengan elu menjadi diri elu sendiri. Orang lain terkesan sama kita karena mereka melihat diri kita yang tulus untuk menyayangi dia dan bisa menjadi partner yang tepat untuk sharing dalam segala hal. Selamat mencobaya gay’s.

Gue segera bergegas keluar karena ada yang mengetuk kamar kost. Gue kaget aja, ternyata aa Iw sudah ada di hadapan gue.
“Koq, aa Iw sudah disini?” tanya gue heran.
“Udah nggak tahan kangen sama dedek,” aa Iw ngecup pipi gue.
“Kangen atau minta jatah?” sindir Bin dengan nada nyinyir.
Gue mendorong kedua sahabat gue agar segera keluar dari kamar. “Sudah ah kalian pulang saja sana, gue mau cuddling dulu.”
"Pengeeeeeeeeeen," rengek Bin

BERSAMBUNG

TELAH TERBIT BUKU BERTEMA LGBT, DI JUAL SECARA ON LINE KLIK SINI UNTUK MEMBELINYA. TEMUKAN IDENTITASMU DENGAN KAMUFLASE