Monday, 11 November 2013

Cerpen : NgeFly

NGE-FLY
Hancur sudah hati Yandra berkeping-keping. Bagi Yandra dunia ini sudah runtuh. Saat ini Yandra hanya tersungkur dikamar seperti mayat hidup. Tidak ada gairah untuk melanjutkan hidup. Beberapa hari lalu Yandra mendapat petaka dari kekasihnya, ketika Siwi mematahkan hatinya.

Yandra dengan Siwi sudah bertunangan. Yandra sedang menabung untuk pernikahannya kelak. Saat ini Yandra sudah mencicil rumah yang sekarang sedang di renovasi, nantinya akan ditinggali bersama Siwi. Tetapi impian itu sudah musnah. Yandra malah dicampakan begitu saja. Siwi lebih memilih pria yang baru dikenalnya dari Facebook dan lebih tragisnya lagi mereka sudah kawin siri. Hati pria mana yang tidak terluka ketika pujaan hatinya direnggut orang lain.

Rasanya ingin marah tetapi bingung mau marah siapa karena Siwi juga nggak ada dihadapannya. Yandra belum bisa menerima kenyataan ini. Sebagai pelariannya Yandra menjadi kereta api uap, mulutnya terus menghisap rokok entah sudah berapa puluh batang yang telah dihabiskan. Dikamarnya juga berantakan beberapa botol minuman berakolhol rendah.  Sekarang saat ini yang ada dibenaknya gimana cara balas dendam pada Siwi yang telah meluluh lantakan hidupnya.

Terdengar suara ketukan pintu kamar kost Yandra. Tanpa menanyakan siapa dibalik pintu itu Yandra membuka pintu, begitu pintu terbuka Yandra baru menyadari matahari sudah sembunyi di ufurk barat. Dan ternyata yang bertamu adalah Mika temannya yang nggak terlalu dekat. Yandra dengan Mika berteman alakadarnya karena hubungan kerja lebih tepatnya Mika itu seniornya di kantor.

“Eh gue denger lu lagi tepar, kenape lu?” Cerocos Mika masih di depan pintu.
“Bukan tepar sih, cuma mati ogah hidup pun segan.” Jawab Yandra mendramatisir.

Tanpa dipersilahkan masuk Mika sudah menerosol ke dalam kamar. Yandra sendiri masih di pintu. Mika langsungg duduk di sofa dekat jendela, didepannya ada meja yang berserakan botol minuman berakohol.

“Lu kenapa sampe kayak gini? Yang gue tau lu tuh anak baek-baek gak pake acara mabok gini.”
“Nggak apa, aku cuma lagi stress  aja koq.”
“Iyalah jelas stress, nggak mungkin lu kalo nggak stress kaya gini.” Cetus Mika sambil menunjuk berapa botol yang ada di depannya.”

Yandra menyusul Mika rebahan di sofa yang lumayan besar. Sebenarnya Yandra malas menerima tamu tapi Mika sudah masuk duluan dan nggak bisa dicegahnya.

“Aku habis putus sama tunangan ku.” Ucap Yandra nelangsa.
“Ouh.” Tanggapan singkat dari Mika. Tangannya menepuk-nepuk pundak Yandra sebagai tanda perihatin. “Jangan sedih donk, masih banyak cewek yang lain.”
“Banyak cewek sih tapi belum tentu aku bisa cintainyakan?” Suara Yandra ketus karena masih terasa kesal.
“Lu nggak sedang berniat jadi maho kan?hahaha.” Tawa Mika membahana dikamar. Maksudnya sih untuk menghibur Yandra.
“Sinting Lu!” Kali ini Yandra semakin murka.  Yandra menganggapnya sebagai hinaan dari pada candaan.

Mulut Mika langsung terkatup, tertawanya berhenti seketika melihat reaksi Yandra yang berlebihan. Mika tidak berkutik lagi ketika melihat muka Yandra merah padam menahan marah. Sebenarnya Mika ingin becadain Yandra lagi tetapi mengurungkan niatnya. Bisa-bisa Yandra mendaratkan bogem mentah ke wajah Mika.

“Gini ya, lu mau marah-marah nojokin tembok sampe tangan berdara-darah nggak ngaruh juga Siwi udah jalan sama cowok lain.”
“Hhmmm” Yandra menghela nafas menahan emosi. Tapi……” Katanya tak terlajutkan karena dipotong sama Mika.
“Nggak ada tapi lu itu harus move on. Nggak ada lagi lu sedih, uring-uringan gajebo. Sekarang masuki hidup baru. Lu masih untung belum merit sama dia.” Kata-kata bijak meluncur dari mulut Mika yang masih membuat Yandra bergairah kembali.

Yandra enggan mengomentari perkataan dari Mika. Memang apa yang dikatakan  Mika ada benarnya. Coba aja kalau jadi menikah sama Siwi dan dia ketahuan selingkuh, tambah remuk lagi hati dirinya. Yandra melihat botol minum keras beserakan menjadi bergindik sendiri. Dan berfikir jadi orang paling bodoh, Siwi aja nggak mikirin kenapa dirinya harus putus asa seperti ini.

Yandra beranjak dari sofa lalu membereskan botol yang begelempangan di meja dan lantai menaruhnya di pojokan kamar menjadi satu. Yandra juga memungut putung rokok yang masih berserserakan. Intinya sih Yandra membereskan kamar yang lebih dari kapal pecah karena sangat berantakan seperti halnya hati Yandra. Di sofa Mika hanya tersenyum senang Karena kata bijaknya bisa membuat Yandra tersadar.

“Abis beres-beres mandi ya, kita jalan keluar kemana gitu keq.” Miko mengajak temannya keluar dari kostan agar tidak terus terpuruk di kamar.

Hanya anggukan sebagai tanda jawaban Yandra menyetujui ajakan Miko. Mungkin sekarang ini waktunya memang untuk melupakan sejenak dari kejamnya kelakukan Siwi. Sudah dua hari Yandra mengurung diri di kamarnya selama itu pula Yandra tidak menyadari terbit dan terbenamnya matahari. Untuk urusan makanan Yandra sudah banyak stok makanan di lemari dinginnya.

Semuanya sudah beres. Kamar menjadi rapih lagi begitu pula dengan Yandra tampak lebih segar setelah mandi dan mencukur jenggotnya. Mereka sudah siap pergi, dilihatnya di jam tangan menunjukan jam 8 lebih.
“Oh ya aku ke sini pakai taksi, jalan pakai mobil kamu aja ya.”
“Ya boleh lah,” Yandra mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja. “ terus kita mau kemana nih?”  Yandra baru menyadari kalau belum ada tujuan.
“Kita makan dulu abis itu nanti ke tempat temen ku di daerah Solo Baru.” Usul Mika pada temannya.

Sekali lagi tanpa protes Yandra menurut saja. Kost Yandra yang berada di daerah Kentingan melukan mobilnya ke daerah Kota Barat yang berada di tengah Kota Solo. Yandra makan dengan lahap seperti berhari-hari nggak makan. Tapi emang bener sih dua hari Yandra hanya makan seadanya saja.

Dari Kota Barat menuju Solo Baru lumayan jauh. Tetapi untungnya nggak macet jadi terasa cepat. Daerah Solo Baru merupakan komplek perumahan besar yang berasa di pinggiran Kota Solo masuk Kabupaten Sukoharjo. Di tengah perjalanan Yandra baru menyadari belum tau maksud mau ngapain ke rumah temannya Mika.

“Mau ngapain toh kita ke rumah temen kamu?
“Dia lagi ngadain party, gue kasian sama lu aja kayaknya desperate jadinya gue ajak. Lu tuh perlu hiburan.”
“Emang party apaan?” Tanya Yandra dengan waswas karena gelagatnya mencurigakan.
“Party biasa aja koq, temen ku syukuran rumah baru.”
“Beneran cuma party biasa aja?” Yandra semakin sanksi.
“Iya.” Jawab Mika meyakinkan.

Tanpa bertanya lagi Yandra mengikuti petunjuk Mika. Sebenarnya masih ada rasa curiga ada yang tidak beres dengan gelagatnya. Pasti ini lebih dari biasanya. Ingin tidak mengikutinya tapi mental Yandra memang sedang membutuhkan hiburan.

Akhirnya sampai juga di tujuan. Yandra  memarkirkan mobilnya di depan rumah yang megah dengan pagar yang tinggi. Tampak di depan rumah tersebut juga ada beberapa mobil yang terparkir. Pikiran Yandra kembali mencurigai rumah  yang di hadapannya katanya ada pesta tetapi kenapa pintu tertutup rapat. Mika memencet intercom yang ada di tembok.

“Siapa?” Tanya seorang wanita di balik intercom.
“Baja hitam Rx.” Jawab Mika.

Begitu Mika selesai memberikan menjawab pertanyaan tadi pintu terdengar kunci otomatis yang dikenadalikan remot terbuka. Yandra semakin curiga kenapa harus memakai kode. Pasti itu bukan pesta syukuran rumah. Mungkin itu didalamnya ada kegiatan illegal.

“Emang ini rumah siapa dan ada pesta apa?”

Tanpa memberi jawaban Mika langsung menarik tangan Yandra yang masih kebingungan. Begitu melewati gerbang secara otomatis pula pintunya tertutup. Terlihat ada seorang satpam yang duduk di dalam pos satpam di samping pagar. Di kepala Yandra masih banyak pertanyaan namun percuma saja bila menanyakan pada Mika pasti dia tidak menjawabnya. Cepat atau lambat Yandra bakal menemukan jawabannya. Terdapat beberapa mobil yang terparkir rapi di carport. Pintu besar terbuka lebar, rumah bertingkat dua dan bercat biru langit itu cukup megah. Di halamannya banyak pohon yang rimbun untu menutupi kemegahan rumah di dalam pagar.

Dari luar terdengar suara tawa wanita dan alunan musik dugem. Sekarang Yandra sudah masuk kedalam rumah. Di ruang tamu tidak ada orang sama sekali tetapi suara manusia semakin terdengar jelas. Yandra semakin masuk kedalam rumah barulah Yandra menemukan orang-orang yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga sebagian duduk di area bar di pojok ruangan.

Dalam hati Yandra menghitung ada sekitar 15 orang yang ada diruangan itu kalau di tambah dirinya dan Mika jadi ada 17. Hampir semuanya terlihat lebih tua darinya sekitar umur akhir 30an ada beberapa yang lebih muda seperti masih mahasiswa. Tidak satu pun Yandra mengenal orang-orang itu.

“Hai Baja Hitam Rx,” sambut tante-tante berpakaian glamor tidak ketinggalan dengan dandanan yang menor. Tante tersebut mencium pipi kanan kiri Mika. “Kamu bawa cowok ganteng siapa ini?” Matanya melirik tajam pada diri Yandra yang bediri mematung berusaha menyesuaikan keadaan pesta ini.
“Hai tante Jolin…. Makin cantik aja nih tante, susuknya tok cer dech,heheheh.” Canda Mika sambil mencium pipi kanan dan kiri tante Jolin. “Ini aku bawa temen namanya Yandra dia lagi desperate di tinggal tunangan.”

Yandra menyalami tante Jolin seadanya. Tercium dengan jelas bau alkhol berkadar tinggi keluar dari mulut tante Joli. Wanita paruh baya ini masih terlihat  cantik dan segar.

“Ayo duduk, partynya belum mulai koq. Masih nunggu Power Ranger.”  Ucap tante Joli ramah.

“Apa lagi nih tadi Baja Hitam Rx, sekarang Power Ranger, jangan-jangan ini adalah kumpulan dari para super hero.” Yandra hanya membatin membayangkan orang-orang ini sebentar lagi berubah menjadi super hero seperti yang ada di televise.

Tak lama kemudian muncul seorang pria kira-kira seumuran dengan Yandra yaitu 30an. Dia membawa koper ukuran standar. Tampilannya santai seperti habis berlibur.

“Hai ladies.” Sapa pria itu kepada kumpulan wanita yang sedang asik ngomongin berlian.
“Hai Power Ranger.” Sekali lagi tante Joli menyambut tamunya. “Ayo temen-temen sini partynya udah mau dimulai.”Orang-orang yang tadinya kumpul di mini bar dan ruang makan berkumpul di ruang keluarga. Sepertinya mereka sudah nggak sabaran pestanya segera dimulai. Yandra sendiri masih bingung bakalan ada pesta apa. Yandra sudah membayangkan bakal terjadi pesta sex.

“Kamu bawa apa aja manis?” Tanya tante Joli pada Power Ranger.
“Bawa ice cream (sabu-sabu), kancing (ekstasi), tea (ganja),  bedak etep putih (putaw/heroin), dan masih banyak lagi.”

Yandra semakin tidak paham apa yang mereka omongkan. Dalam otaknya ngapain juga di koper itu bawain es krim, kancing dan teh? Emang habis berlibur dari mana orang itu? bukannya di Solo juga banyak barang gituan. Meskipun rasa ingin tahu Yandra tidak bertanya pada Mika karena ada rasa gengs,i nanti juga tau sendiri.

Koper itu sekarang sudah terbuka. Didalamnya ada berbagai macam barang berupa botol plastik bening didalamnya terlihat butiran pil. Selain itu ada daun kering di bawahnya terdapat bubuk putih. Yandra masih belum tahu barang tersebut. Mata Yandra semakin menggeledah isi koper. Ada satu barang berbentuk botol seperti yang terdapat di laboratorium tetapi di atasnya masih ada semacam sedotan yang dari bahan gelas. Yandra hanya mengira-ngira itu adalah bong, yaitu alat yang biasa untuk menghisap sabu-sabu.

Sekarang Yandra sudah tau jawabannya semua, bahwa sekarang akan berlangsung pesta narkoba. Membayangkan itu semua perut jadi mual dan perasaan jadi bertambah nggak tenang. Jangankan pesta narkoba, melihat barang-barang haram itu aja tidak pernah. Jadi ini adalah pengalaman pertamanya. Yandra melihat orang sekitarnya matanya berbinar-binar seperti melihat perhiasan yang melimpah.

“Bagi donk seperemi ubas (seperempat sabu)nya, udah ada gejala sakaw (rasa sakit karena putus obat)nih.” Kata pemuda yang mungkin masih mahasiswa.
“Kalo gue mau nyimeng (menghisap ganja) dulu sebagai pembuakaan.” Mika ikutan meminta ganja pada Power Ranger.
“Kamu bawa pesenan aku kan lady and crack (kokain kelas satu)?” Tanya tante Joli antusias.
“Sabar donk broo. Tenang semuanya pasti kebagian.”  Ujar Power Ranger untuk menangkan manusia-manusia yang haus akan dunia halusinasi.

Yandra semakin tidak karuan rasanya terperangkap ruangan bergabung dengan orang-orang yang sebentar lagi hilang kewarasannya. Rasanya ingin cepat-cepat kabur dari sini tetapi pasti akan di cegah orang-orang itu. Bila nekat kabur pasti tidak ada jalan keluar karena rumah ini dikelilingi tembok yang tinggi.

Perlahan tapi pasti Yandra beringsut ke pinggiran sofa menjauh dari segerombolan orang yang sedang merubungi berbagai jenis barang haram. Mereka sedang sibuk dengan memilih barang pesanannya. Bisa dibayangkan mereka seakan membeli sayur dari abang penjaja sayur yang lewat depan di sebuah komplek perumahan. Keriuhan semakin menjadi karena ada beberapa barang yang lupa dibawa badar narkoba yang entah namanya siapa yang Yandra tau mereka memanggilnya Power Ranger.

“Eh masnya gak ikut milih?” Tanya wanita cantik sambil memandang Yandra yang ada bergeming di ujung sofa. Ada beberapa pasang mata ikut menolehnya tetapi cuma sebentar mereka kembali sibuk dengan barang pesanannya.Yandra hanya menggeleng tanda tidak mau ikut-ikutan. Bukan hanya tidak mengerti jenis-jenis narkoba itu tetapi perasaan takut yang besar yang membuat dirinya ikut berkerumun dengan mereka.

 Beberapa orang sudah mendapatkan barang yang diinginkan dan kembali duduk di sofa. Bong itu tergeletak di meja bersama beberapa jarum suntik, alumunium foil, korek api dan peralatan lainnya. Pesta segera dimulai.

“Eh lu mo nyabunya ngecam (nyuntik) atau mau pake bong?” Tanya Mika pada entah namanya siapa yang ada disebelahnya.
“Sek toh aku arep snip (pakai putau dihisap lewat hidung).” Balas pria tersebut.
“Mik, temen kamu koq diem aja ajak gabung donk.” Cetus tante Joli yang ada sedang melinting daun kering, Yandra menebaknya itu adalah daun ganja.
Mika berpindah tempat duduk. Sekarang dia ada disebelah Yandra. Mulut Mika mengepul asap . “Eh lu mau nyobain apa? Lu tinggal pilih aja.” Kata Mika sambil menunjuk narkoba yang tersaji di meja.

Yandra hanya menggeleng enggan ikut-ikutan pesta bejat ini. Jelas terlihat raut muka Yandra yang menahan marah. Gimana nggak marah temannya telah menyeret dirinya pada masalah besar dengan mengikut sertakan pesta narkoba. Saat ini Yandra merasa menyesal mau saja mengikuti Mika. Selain itu rasa benci Yandra menyeruak kepada temannya, yang tadi baik hati menghibur bagai malaikat sekarang nggak ada bedanya dengan iblis yang membisikan untuk berbuat jahat.

“Nih buat kamu.” Seorang wanita memberikan segelas air bening. “Biar nggak tegang dan nerveus.” Lanjut wanita tadi.

Yandra belum tau isinya apa entah itu air berakolhol atau air putih biasa. Yandra menerima begitu saja gelasnya. Kerongkongannya sudah berasa kering sekali karena Yandra sudah teralalu banyak menelan ludah gara-gara melihat kenyataan yang ada dihadapannya sangat mengerikan tetapi dirinya tidak berdaya untuk menghindar. Air yang ada digelas telah tandas diminum. Ternyata itu air putih beneran, mungkin dia orang baik yang ada disini.

Terasa segar setelah minum air, paling nggak untuk tetap berfikir sadar untuk tidak ikut-ikutan pesta terktuk itu.
“Katanya lagi sedih ya mas?” Tanya wanita itu. Yandra masih membungkam mulutnya hanya anggukan sebagai jawaban. “Cobain ini dech, biar mas bisa lupain cewek sialan itu.” Sang wanita memberikan pil kecil berwarna pink. Tapi Yandra menolaknya dengan halus.
“Wih ni obatnya manjur amat ya, liat tuh Hatori sudah mulai badai (mabok akibat narkoba).” Mika menunjuk pria bermata sipit disebrangnya.
“Dia anak baru jadi dosis sedikit aja udah langsung ngerasain nikmatnya.” Timpal tante Joli.

Yandra baru sadar teryata orang-orang itu sudah mulai mabok merasakan efek dari narkoba yang disuntik atau di hisapnya. Ada yang meracau nggak jelas ada juga yang cuma tiduran dengan nafas tersengal-sengal. Terlihat ada seorang yang meringkuk seperti orang kedinginan. Kepulan asap ganja cepat atau lambat memenuhi ruangan.

“Kamu cobain ini dech…..” Mika memberikan lintingan ganja yang sudah dilinting dan menyala di ujungnya. Yandra tau itu bekasnya Mika.
“Nggak ah, aku kan nggak ngerokok.” Tolak Yandra.
“Apa lu nggak ngerokok tadi aja putung rokok bertebaran di kamar lu.” Nada suara Mika meninggi tawarannya di tolak mentah-mentah oleh Yandra.
“Cobain aja mas dikit aja nggak apa koq. Sayang donk udah kesini nggak ikut party.” Suara lembut wanita disebelah Yandra berusaha ikut mempengaruhi.
“Iya itu coba dihisap-hisap kalau ganja nggak buat mabok koq.” Kata tante Joli yang jelas-jelas berbohong.
“Kalo pake ini lu bisa lupain Siwi, lu nggak akan inget-inget lagi brengseknya Siwi. Selinting aja dech.” Mika masih saja merongrong disebelah Yandra.

 Otak Yandra mulai bereaksi rangsangan dari orang sekitarnya. Tadinya jelas-jelas menolak sekarang sudah sedikit goyah. Dalam pikirannya kalau coba sedikit aja dan sekali pasti nggak akan nagih, lagian itu semua gratis. Dengan ini semua aku bisa melupakan semua tentang Siwi. Hilang semua momori tentang dia di otak.

“Di sini aman koq nggak bakalan di grebeg.” Ucap tante Joli. Sepertinya dia tau kekhawatiran yang melanda Yandra.
“Percaya aja sama tante Joli, dia ini yang punya rumah ini.” Power Ranger memperkuat omongan dari tante Joli.  Power Ranger juga menambahkan omongongannya lagi, “Kita sering party disini koq dan nggak akan bocor. Ini coba aja barcon (barang conoh) gratis koq. Ada Blue Ice (sabu-sabu nomer satu), Black Heart (merk ekstasi), girl (kokain), chimenk (ganja) dan masih banyak lagi. pilih aja. Pokoknya disini happy-happy saja.” Power Ranger kembali membuka kopernya yang sekarang sudah setengah kosong.

Sebenarnya Yandra nggak paham istilah-istilah itu semua kecuali satu kata yaitu chimenk. Namun sambil mendengarkan Yandra mengangguk-angguk seolah mengerti arti itu semua. Pikiran Yandra semakin kacau setelah memandang barang-barang yang ada di koper. Tanyannya sudah siap mulai mengacak-ngacak koper. Tetapi di cegah oleh Mika, dia malah memberi pil warna pink yang tadi di pegang wanita bersuara merdu itu kepada Yandra. Sekarang di tangan Yandra udah memegang pil ekstasi. Nafasnya tidak beraturan, disamping karena takut ada perasaan grogi dicampur galau. Keringat mengucur deras dari dahinya.

Di tangan kiri ada ekstasi dan tangan kanan ada segelas air putih. Mulutnya sudah ternganga siap menelan pil setan itu. Nafas Yandra masih terengah-engah dan mencoba menenangkan diri mengatur pernafasannya. Pikiran Yandra sudah teracuni oleh teman-temannya.

@@@

Kantor Polisi

Suasana kantor polisi resort Sukoharjo saat tengah malah sudah sepi hanya ada petugas yang sedang berjaga malam dan petugas yang bersiap-siap untuk patroli untuk mengamankan daerah. Di ruang jaga ada BRIPTU Lian yang sedang asik main smartphone untuk membunuh kejenuhan jaga malam. Tiba-tiba telpon pos jaga berbunyi, dengan cekatan langsung diangkat telpon tersebut.

“Selamat malam, dengan BRIPTU Lian di Polres Sukoharjo dapat saya bantu.” Salam dari BRIPTU Lian untuk menjawab telpon. Lalu hening sejenak mendengarkan lawan bicaranya. “Ouh begitu jadi pesta narkoba di tetangga bapak di daerah Solo Baru di blok sekian. Nanti kita langsung tangani. Terima kasih bapak informasinya.”

Begitu menutup telpon BRIPTU Lian langsung melaporkan kejadian keatasannya. Mendapat laporan seperti itu Kapolres Sukoharjo tidak langsung bertindak gegabah langsung menggrebegnya namun mengirim polisi intel untuk mengamati terlebih dahulu.

@@@

Satu persatu manusia-manusia itu tumbang dalam pengaruh narkoba. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih tersedar tetapi efek narkoba itu sudah mulai bekerja. Tinggal Yandra sama yang masih segar karena belum ada narkkoba yang merasuk ketubuhnya. Mika yang ada sebelahnya saat ini sedang menghisap sabu-sabu dari bong.

“Koq cuma dipegang aja? Ayo telen.” Wanita disebelah Yandra masih saja berusaha menghasut.

Yandra memejamkan mata dan tanpa keraguan pil ekstasi yang dipegangnya langsung ditelan. Iblis-iblis itu bersorak seperti mendapat kemenangan begitu Yandra memasukan pil kemulut. Satu manusia telah berhasil menjadi budak narkoba. Mika yang ada disebelahnya langsung memeluk sebagai tanda sekarang sudah menjadi CS (rekan sesame pengguna narkoba). Di tempat yang agak jauh tante Joli tertawa terbahak-bahak tanda kepuasan.

Pikiran Yandra mungkin sudah buntu karena tekanan dari orang-orang sekitar dan masalah yang membelitnya membuat gelap mata. Dirinya hanya berfikir dengan menelan pil setan itu masalah akan segera hilang dan bayangan Siwi tidak menghantuinya lagi. Yandra sudah termakan oleh bujukan rayu para iblis.

Yandra mematung disofa itu nggak tau harus ngapain. Otaknya kembali bekerja menuju kewarasan. Ada rasanya penyesalan kenapa bisa sampai menelan pil setan. Dirinya terus merenung membayangkan akibat dari ketagihan narkoba. Melihat keadaan di depan mata Yandra jadi bergindik sendiri melihat sesuatu yang menyeramkan.

Orang-orang yang ada didepannya seperti zombie. Mata mereka kosong dan nanar, ada lingkaran hitam kata orang itu adalah mata panda. Mereka yang sedang meracau adalah sudah memasuki dunia halusinasi, apa yang ada di imajinasinya seperti ada didepan mata. Jika dibayangkan mereka seperti orang gila. Botol minuman keras, alumunium foil, lintingan daun ganja berserakan di meja dan lantai.

“Aku tidak mau menjadi orang-orang bodoh seperti itu.” Yandra hanya membatin. Mereka adalah memang orang-orang bodoh merusak masa depannya dan  mereka orang-orang yang tersesat, sebagai pelarian mereka mengkonsumsi narkoba. Dengan narkoba mereka bisa berhalusinasi merasa dirinya orang paling bahagia sedunia. Tetapi sayang kebahagiaan itu hanya sesaat setelah itu hidup mereka merana kembali.

Saat ini Yandra berfikir lebih keras lagi gimana caranya agar ekstasi tidak bekerja diitubuhnya, harus segara mungkin dikeluarkan. Mata Yandra berkeliaran melihat lebih detail isi rumah. Akhirnya Yandra mendapatkan ide segar dan semoga ektasi yang baru telannya belum bereaksi.

@@@

Mendapat pengaduan ada pesta narkoba, jajaran kepolisian Kabupaten Sukoharjo langsung bertindak cepat. Solo Baru berada di wilayah Kecamatan Grogol merupakan daerah kekuasaan Sukoharjo. Sura-surat untuk proses penggrebegan segera diproses. Satu kompi kepolisian segera dibentuk. Sepertinya akan ada pesta tersendiri untuk para polisi membekuk para pecandu narkoba. Intel mereka segera dikirim kelapangan.

@@@

Yandra berjalan menuju dapur, biasanya di dapur ada kamar mandi. Sengaja Yandra tidak memakai kamar mandi ruang tengah karena takut kedengaran orang-orang disekitar. Secepat mmungkin Yandra melancarkan misi ini. Saat sedang celingak-celinguk datang Mika yang sudah mulai teler.

“Ngapain lu yan kesini?” Tanya Mika penasaran.
“Mau ke toilet, yang didepan kayaknya dipake. Jadi aku cari dibelakang.” Jawab Yandra berbohong.
“Ouh gitu.” Mika mengambil gelas didapur lalu pergi meninggalkan Yandra.

Fuih, Yandra bernafas lega hampir saja misinya gagal. Yandra berusaha tenang agar tidak ketahuan yang lainnya. Kamar mandi ada dipojok ruangan, tanpa pikir panjang langsung masuk dari pada nanti ketahuan. Di dalam kamar mandi dua jari tangan kanan dimasukan kedalam mulut dan disogok kedalam. Suah dua kali sogokan tapi belum ada tanda-tanda mau muntah. Sekali lagi Yandra sogok jarinya lebih dalam. Kali ini sudah bereaksi perutnya mual. Semakin semangat lagi Yandra menyogok jarinya ke tenggorokan. Berhasil, Yandra mengeluarkan isi perutnya. Rasa waswas kembali menggelayut memperhatikan apa saja yang keluar dari tubuhnya.

Matanya semakin melotot memperhatikan lubang closet yang menjijikan karena makanan yang sedang diproses di lambung di keluarkan. Menggunakan sikat gigi entah punya siapa Yandra melawan rasa jijiknya untuk mengorek-ngorek muntahan. Apa yang diharapkan belum di temuinya. Keringat dingin kembali mengucur tanda khawatir. Yandra terus mengubek-ngubeknya sampai ingin muntah lagi karena mencium aroma yang menjijikan. Rasa mual itu tak tertahankan lagi dan memutah lagi. Saat muntah itulah Yandra merasa sangat senang karena pil pink itu masih utuh berbentuk bulat locat dari mulutnya menuju lubang closet.

Kebahagian itu hanya sementara karena Yandra harus memikirkan gimana caranya biar bisa keluar dari rumah ini. Yandra kembali ke ruangan pesta terkutuk itu, duduk disamping Mika yang duduk tanpa suara dengan tatapan mata kosong. Disebelahnya wanita cantik itu sedang meracau entah apa yang dikatakan sekilas seperti sedang memaki suaminya yang selingkuh.

Rencana kedua harus segera dimulai sudah tidak ada alasan lagi berlama-lama disini. Saat ini sudah jam 1 dinihari. Yandra memainkan smartphonenya untuk meng-sms siapa saja yang bisa membantunya. Sudah lima orang di sms tetapi tidak ada respon, mungkin mereka seudah tidur. Tidak mungkin untuk menelponnya karena mereka akan curiga.

@@@

Polisi itu sudah mendaptkan surat tugas untuk pengamatan. Ada dua orang petugas yang akan segera melaksanan pekerjaannya. Mereka berpakaian seperti orang sipil tidak ada penampakan sebagai seorang polisi. Tugas mereka untuk menyamar dan mengamati suasana tempat yang akan digrebeg. Dari Kapolres Sukahorjo agak jauh untuk mencapai tujuan di Solo Baru.”

@@@

Harapan itu semakin tipis, sudah 10 orang belum merespon. Semakin banyak lagi Yadra mengirim sms, keringat dingin bercucuran dan terus berdoa mengharapkan keajaiban. Sudahlah pasrah menunggu pesta usai dan tidak terjadi apa-apa, Yandra duduk lemas memikirkan nasibnya. Tanpa diduga smarthphonnya berdering dengan lantang sampai Mika dan wanita disebelahnya tersadar. Sengaja Yandra tidak langsung mengangkatnya agar semua orang memperhatikannya. Sudah beberapa orang melihat Yandra. Saatnya sekarang untuk mengangkat telpon itu.

“Ya halo, kenapa dek?” Yandra sengaja bersuara keras dan diam sejenak mendengar suara dibalik telpon. “Apa!!! Mamah masuk rumah sakit? Parah nggak?” Sengaja suara Yandra dibuat histeris. Mika dan tante Joli tampak memperhatikanYandra. “Iya dek, kaka langsung ke rumah sakit sekarang. Tenang ya dek.” Begitu mengakhiri kalimat Yandra membereskan barang yang di bawanya.

“Tante Joli, maaf nih saya harus pulang segera karena mamah masuk rumah sakit.” Yandra mencoba pamit pada sang tuan rumah.
“Nggak bisa ditunda? Bentar lagi kamu fly loh bisa bahaya. Tunggu efeknya hilang aja” Tante Joli berusah menahan Yandra sepertinya ada rasa curiga.
“Maaf tante nggak bisa, ini mamah udah masuk UGD. Kasian adek cuma sendirian.” Yandra berkilah.
“Ya udah jagain mamah dulu. Hati-hati ya.” Akhirnya tante Joli luluh juga.
“Eh Mik, kamu mau ikut gak?” Tanya Yandra yang sebenarnya suatu ajakan untuk segera dari tempat ini.
“Nggak ah ogah dirumah sakit sumpek gitu.” Mika menampik ajakan Yandra.

Segera Yandra keluar dari rumah itu. Sebenarnya nggak tega meninggalkan Mika sendirian disitu, tetapi Yandra juga tidak mau memaksa malah nantinya tante Joli tambah besar rasa curiganya. Gerbang kebebasan sudah didepan mata.

@@@

Dua polisi intel itu sudah masuk komplek perumahan. Komplek ini begitu besar sampai harus menelusuri jalan-jalan yang menyesatkan karena banyak jalan buntu. Sebenarnya sudah dekat sakali sama rumah yang dituju. Akhirnya ketemu juga blok yang dituju. Mobil yang ditunggangi polisi ini berjalan lambat mencari rumah tempat pesta narkoba.

@@@

Yandra sudah ada didalam mobil dan siap melaju. Lega juga sudah terbebas dari rumah sialan itu. Sudah agak jauh dari rumah Yandra mengendarai mobilnya. Dibalik spion terlihat ada mobil yang berjalan lambat dan selisih beberapa meter dari rumah tante Joli mobil itu berhenti. Ada rasa curiga terhadap mobil itu, Yandra buru-buru meninggalkan komplek perumahan. Sekarang Yandra menuju rumah sakit yang ada di Kota Solo untuk meyakinkan sandiwaranya benar-benar terjadi. Hal ini untuk antisipasi barang kali ada orang yang menguntit Yandra atas suruhan tante Joli.

 Tak terasa sekarang sudah jam 4 pagi. Malam penuh petualangan bagi Yandra berawal dari gejolak batin tentang asmaranya, pergi bersama teman yang palig brengsek sedunia yang mau menjerumuskan dirinya ke lingkaran setan. Apalagi sampai terperangkap di rumah terkutuk tempat pesta narkoba. Rasanya jauh lebih lega ketika Yandra sudah berada di kamar kostnya.

Sampai kamar Yandra merebahkan diri di sofa untuk menghilangkan rasa lelah sejenak. Diambilnya remot televisi yang ada disebelah, dari remotnya itu mengganti-ganti saluran terlevisi yang dianggapnya menarik. Sampailah pada siaran berita televisi lokal. Awalnya Yandra hanya melihat sekilas tayanngan tersebut, tetapi betapa terkejutnya ketika melihat tagline Breaking News Penggerebekan Pesta Narkoba Di Daerah Solo Baru. secara seksama Yandra melihat adegan dramatisir polisi merangsek kedalam rumah yang dipenuhi orang-orang sedang teler.
Betapa pilunya ketika Yandra melihat Mika yang setengah mabok digiring ke teras rumah berjejer dengan para pengguna lainnya. Namun ada yang janggal kemana perginya wanita cantik itu yang tadi memberinya pil ekstasi? Sekujur tubuh Yandra lemas seketika membayangkan bila dirinya ada disitu di tonton jutaan orang mau ditaruh mana muka ini untuk menahan malu. Nggak bisa dibayangkan bila dirinya di jebloskan kedalam penjara. Yandra terus membayangkan bila dirinya kehilangan karir kerja yang selama ini sudah dirintis dari awal. Belum lagi mengalami kejamnya hidup di penjara. Masa depan pasti akan suram.
Ada rasa berasalah kenapa tadi tidak memaksa Mika untuk pergi dari situ. Sudahlah yang penting sekarang dirinya tidak ikut dalam penggrebean tersebut. Sekedar berjaga-jaga Yandra menelpon pengacaranya bila ada panggilan polisi untuk meminta keterangan atau menjadi saksi. Dari pengacara tersebut Yandra disarankan untuk membakar baju yang baru dipakai serta membotak rambut kepalanya karena bisa aja asap ganja menempel pada tubuhnya.


Malan ini Yandra mendapat banyak pelajaran yaitu janga terlalu mempercayai teman. Bisa saja teman yang kita anggap baik malah menjerumuskan pada hal negative. Jauhi narkoba jangan sekali-kali menyentuh barang haram tersebut apapun bentuknya bisa saja jadi pecandu. Bila ada masalah narkoba bukanlah jalan keluar tetapi mintalah bimbingan orang tua atau psikolog karena merka adalah orang yang bijak membantu kita keluar dari masalah yang lebih terpenting dekatkan diri kita pada Tuhan. Yandra tak lupa mengucapkan terima kasih pada Siwi yang telah menolongnya. 

telah terbit buku bagus yang berjudul #Kamuflase, untuk pemesanan klik sini dijamin gak rugi dech kalau udah baca. TEMUKAN IDENTITASMU DENGAN KAMUFLASE

Sunday, 3 November 2013

Cerbung Chapter 4 : Dia, Speachless (Part 12)

Setelah mandi aku mendapati dia duduk dipinggir jendela. Kebiasaannya tidak berubah, entah kenapa dia bisa suka banget duduk di pinggir jendela. Aku jadi penasaran juga

“Hmmm kenapa kamu suka sekali duduk di pinggir jendela?” Tanya ku sambil menghampiri dia.
“Ouh sudah selesai,” ternyata dia tidak menyadari kedatangan ku dari tadi. “Awalnya sih waktu masih jaman sekolah liat jendela mengharapkan kamu ada di depan rumah. Kamar ku kan bisa langsung liat depan.”
“Gitu toh….jadi GR nih,hehehehe.”
“Abis kamu selalu ngangenin.” Kata dia tidak ketinggalan dengan senyum yang menggemaskan. “Jalan yuk, kemana gitu keq masa aku udah di Bali di anggurin.”
“Hayuk kita bernosatalgia seperti dulu hari terakhir kita ketemu.”  Aku mengungkapkan sebuah ide padannya.
“Terserah aja dech aku ngikut aja. Hari terakhir pas SMA dulu? Aku udah lupa.”
“Beneran lupa? Kamu senderan di pundak ku terus nangis-nangis,hahahah.” Aku bencandain dia.

Dia hanya tersipu malu. Mungkin sekarang dia sudah bisa mengingatnya lagi. aku harap sih dia ingat. Aku sendiri tidak akan pernah lupa kejadian itu. Karena itu kenangan terakhir bersama dia sebelum hari ini. Masih teringat dengan jelas hangatnya tubuh dia ketika memeluku dan terlihat betapa derasnya air mata yang tumpah dari matanya saat ketika akan berpisah. Semaki nyata aku memang tidak pernah bisa melupakan dia.

Aku ingin hari ini lebih terkenang dari pada terakhir kita bertemu. Aku berharap hari ini ada kejadian luar biasa. Sebenarnya kedatangan dia hari ini tiba-tiba sudah lebih dari luar biasa. Sampai saat ini aku masih mengira sekarang adalah mimpi. Tapi setelah mendapat pelukan dari dia baru terasa ini bukan mimpi. Saat ini dia sedang memeluk ku dari belakang karena kita menuju Toya Bungkah yang ada di Kintamani dengan mengendarai motor. Semakin keatas semakin erat pelukannya karena hawanya menjadi dingin.

Tanpa terasa sudah 45 menit perjalanan. Sekarang sudah sampai di daerah Kintamani tepat ditepian tebing kaldera Gunung Batur. Dibawah ada danau Batur dan disebrang kita ada Gunung Batur, Toya Bungkah sendiri ditepian danau tepat dibawah gunung. Sesampainya dibawah Aku memilih salah satu pemandian air panas disitu. Kali ini terpaksa aku dan dia berendam di kolam umum tepat di pinggir danau. Tiada henti dia terkagum-kagum oleh eloknya pemandangan.

Kita berendam dibawah pancuran air hangat dia ada sebelah ku. Kini dia tidak seculun dulu potongan rambutnya pendek dan jabrik. Sekarang dia terlihat lebih maskulin dengan kumis tipis serta jenggotnya. Aku baru menyadari ternyata kita sudah sama-sama dewasa.

“Hei,” aku memanggil dia. “Koq sekarang kamu ganteng?” Aku memujinya.
“Iya donk, kan buat orang terspesial.” Balas dia dengan senyum misteri.
“Siapa orang itu?” Tanyaku penasaran.
“Rahasia.” Ucap dia sambil meninggalkan ku. Dia menuju kolam yang tepat dibibir danau.

Aku hanya terdiam masih mencerna apa yang barusan dia katakan tadi. aku mengambil kesimpulan dia sedang menyukai seseorang atau bahkan mencintainya. Otak ku masih berputar siapa yang dia sukai apakah wanita atau pria mungkin bisa saja itu aku? Aku mencoba menenangkan diri dulu aku tidak ingin jadi GR-an.

Dari kejauhan aku melihat dia tersenyum misteri kepada ku. Aku hanya membalas senyum seadanya saja karena kepala ini masih berkutat dengan pernyataan dari dia. Semakin ku memandang dia ada rasa ingin tahu siapa yang dia sukai. Aku mendekatinya lagi tujuan utama ku untuk menyangakan siapa yang dia sukai.

Aku sudah tepat disampingnya. Dia membalikan badan memandang tenangnya air danau dan dari kejauahan menjulang tinggi tebing dinding kaldera. Aku sendiri bersandar di tepian kolam. Kenapa bibir ini menjadi jadi kelu ketika ingin menanyakan suatu hal yang penting. Ada perasaan yang mengganjal. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa yang orang dia sukai bukan aku.

Di bawah permukaan air tiba-tiba tangan ku merasakan genggaman dari tangan dia. Hawa hangat menjalar ke atas otak ku yang sedang beku mimikirkan isi hatiya. Sepertinya dia tau aku sedang bingung.

“Sudah jangan kamu pikirkan siapa yang aku suka.” Dia mengatakan itu dengan pelan mencoba menangkan aku.
Aku menolehnya tersenyum. “Jahat saja kalau sampai kamu nggak menceritakan siapa orang yang kamu sukai. Aku kan sahabat mu.”
“Hei kenapa kamu yang jadi ngambekan?” Dahi dia mengernyit melihat sikap ku yang menjadi seperti anak kecil. “Yang berhak ngambek dan merajukkan itu aku.”

Secara reflek dia memeluk ku. Tubuh ini menjadi kaku mendapat kejutan seperti itu. bebarapa pasang mata melihat kita dengan aneh tapi dia tidak memperdulikannya. Aku juga tidak sanggup untuk menepis pelukan itu karena aku menikmatinya.

“Aku kangen kamu banget.” Bisik dia pelan di telinga ku.
Aku membalas pelukannya. “Aku juga kangen kamu koq.” Jawab ku seadanya.

Dia melepas pelukan tetapi tangannya masih menggenggam tanga ku. Aku sendiri canggung dan tidak tahu mau berbuat apa dan mesti ngomong apa. Meskti sekarang sudah lebih tenang setelah mendapat kejutan pelukan darinya.

“Ich bohong masa kangen sama aku?” Kata ku dingin pura-pura tidak mempercayainya.
“Kalau nggak kangen kamu, mana mungkin aku saat ini ada disamping mu.” Dia membalasnya dengan ketus. Tangannya masih memegangi ku.
“Kan hampir tiap hari kita skype.”
“Tapi kan skype aku nggak bisa merasakan pelukan dari mu.”

Aku merangkul dia. terlihat mimik senang di wajahnya. Ternyata sifat manja ini memang belum pudar darinya. Dalam rangkulan ku kepala menyender di bahu.

“Emag di Jogja kamu nggak meluk orang lain? Pacar gitu misalnya.”
“Kan kamu tau nggak punya pacar.”
“Terus orang yang kamu suka itu?”
“Nanti aja aku jelasin. Sekarang ini aku hanya ingin bersama mu. Ok?”

Aku tidak berkutik lagi ketika dia mengatakan seperti itu. Sebenarnya aku masih penasaran siapa orang yang maksudnya. Tapi aku tidak ingin merusak hari yang indah ini dengan perdebatan yang. Selepas itu kita hanya ngobrolin kegiatan keseharian kita. Meski sudah saling tahu karena hampir setiap saat kita juga berkomunikasi lewat telpon, sms atau pesan instan.
“Udah hampir sore cabut yuk aku ingin liat sunset.”
“Ouh iya kamu kan paling suka liat sunset. Tapi kamu jangan nangis-nangis lagi ya,hehhehe.”

Kita beranjak dari pemandian itu jam 3 sore semoga masih bisa melihat sunset di pantai Kuta. Sebenarnya aku ingin mengajaknya di pantai Balangan yang tempatnya lebih bagus tetapi terlalu jauh hampir dipastikan malah nggak kebagian sunset.

Sekarang sudah ada di pantai Kuta. Terlihat banyak sekali turis bule dan lokal yang sedang menantikan sunset. Ada sebagian pengunjung yang mandi-mandian di tepian laut. Sedang aku memelih duduk diatas empuknya pasir berwarna krem. Dia sendiri ada disamping ku menikmati matahari yang perlahan pasti pasti menuju garis horizontal. Tangannya masih ku genggam dengan erat.

“Kenapa kamu pegang tangan ku terus dari tadi?” Suara dia terdengar lirih namun bernada senang.
“Aku mau menjaga kamu terus.” Aku membalas apa adanya remasan tangan ku semakin kuat.
“Gombal ah,ahahahah.” Dia menanggapi pernyataan ku yang dianggapnya bercanda. “Aku udah gede nggak perlu dijagain.”
“Kan aku udah janji sama kamu. Aku jagain kamu sampai kapan pun. Mumpung sekarang lagi ketemu aku jaga kamu dengan menggandeng tangan kamu.” Aku sedikit agak jengkel karena tadi dianggapnya tidak serius.

Dia melepas genggaman tangan. Tetapi tangannya berganti melingkarkan kebadan ku yang sama artinya setengah memeluk.
“Itu yang aku rindukan dari mu. Setiap ada disisi kamu, aku selalu merasa aman.” Dia menengok pada ke hadapan ku. “Selama di Jogja aku merasa hampa karena nggak ada njaggain aku. Biasanya kamu selalu ada disisi ku.”

Hanya helaan nafas yang bisa kulakukan setelah mendengar tanggapan dari dia. Apa itu tandanya dia mencintai ku atau mengharapkan aku jadi “pelindungnya”?. Aku masih belum mengerti arti pesan yang dia sampaikan.

“Maaf aku tidak menepati janji ku pada mu. Aku malah meninggalakan mu di Jogja sedang kan aku lari disini.” Aku tertenduk menyesali tidak ada disampingnya.
“Nggak perlu minta maaf. Aku sadar koq kita kan punya kehidupan masing-masing. Disini kamu kuliah mencari masa depan mu aku juga di Jogja mencari masa depan ku.” Kata-kata yang meluncur dari mulutnya sungguh bijak memuat ku agak tenang sedikit. Dia berhenti sejenak tetapi matanya masih menatap ku dengan sendu. “Walau kamu nggak disamping ku tapi, aku merasa setiap malam kamu ada dihadapan ku.”
“Iyalah setiap malam kita skype, menceritakan keseharian kita. Hahahaha.”
“Mungkin itu juga kali ya aku nggak merasa kesepian karena kamu masih selalu ada untuk ku.”

Aku tidak tahan tatapan dia. Rasanya aku ingin menciumnya. Tetapi aku mengurungkan melakukan itu karena terlalu ramai disini. Meskipun aku yakin mereka tida yang menghiraukannya. Tetapi sama aja ini adalah tempat umum.

“Aku masih heran kenapa ya kita masih tetap dekat dan setiap hari berkomunikasi. Padahal aku juga sudah kehilangan kontak dengna teman dekat ku yang lain.” Aku mencoba mengalihkan perhatian pikiran ku yang ingin mencium dia.
“Iya juga ya. mungkin sebenarnya kita sudah saling memiliki. Jadi rasanya sehari saja nggak ketemu rasanya nggak enak seperti ada yang hilang.” Dia mencoba menjelaskan menurut logika pikiriannya.
“Hhhmmm saling memiliki.” Aku berhenti sejeak mencari kata selanjutnya yang tepat. “Kayak pacaran aja saling memiliki.” Kata ku ngasal.
“Emang selama ini kita nggak pacaran?” Dia tersentak kaget dan cemberut. Mulai dech sifat anak kecilnya kumat.
“Lah kan waktu itu kamu yang nolak aku waktu nembak kamu.”
“Iya sih…… Terus sekarang kamu mau nggak jadi pacar ku?” Tanya dia dengan memandangku penuh harap.


Seketika itu pikiran ku blank. Aku belum menyiapkan jawaban pertanyaan mendadak ini. kenapa dia tiba-tiba mengatakan itu, maksudnya apa? Aku speacless.

Thursday, 24 October 2013

BELAJAR DARI YANG LALU

FAILED

Lagi dan lagi aku curhat, ya mungkin inilah tempat pelampianku. jujur aja ya aku lebih kadang eh bukan kadang tetapi sering nggak mudeng dengan bahasa lisan jadi orang mau ngejelasin apa nggak mudeng ya bolehlah dikatakan IQ jongkok.hehehehehe. Aku malah lebih mudengan dengan bahasa tulis yang tercetak di kertas atau rangkaian hurus yang ada dilayar hp atau laptop. Bukan itu yang aku mau curhatin.

Aku telah mengambil suatu kesimpulan bahwa naskah ku yang pertama itu GAGAL. suatu kata yang sangat menyesak hati bagi siapa saja yang membacanya. Kenapa aku anggap itu suatu kegagalan? Secara nggak sengaja aku iseng browsing lewat om Google. Pasti udah pada tau donk siapa itu si om, seorang yang pastinya bisa diandalkan dalam kepraktisan untuk mencari berbagai hal artikel, gambar, software bajakan, film sampai cari alamat pun bisa. Singkat cerita ternyata sudah buanyak dan segambreng cerita yang ada di naskah pertama ku. Respon pertama ku adalah lemes, aku nggak ngerti itu suatu yang sia-sia 6 bulan lebih aku ngerjain dan secara nggak langsung hasilnya sudah kulihat.

HOPELESS

Pikiran ini kacau. Apa yang ku harapkan terbang dan membias di angan-angan. Apa yang mungkin apa yanng kutulis ku renungkan dan imajinasi yang ku tuangkan dalam huruf itu sia-sia. Pantesan aja udah sekian banyak penerbit yang ku sambangi nggak ada respon, entah itu naskah nyampe atau nggak intinya kabar itu senyap. Barusan ku "pamerin" ke temen untuk di komentari, dan seketika itu juga ku dapati komentar yang silent dari penerbit. Secara nggak langasung itu adalah jawaban.

RIVIEW

Setelah kulihat-lihat emang biasa ajah naskah ku sama aja yang sudah ada jadi nggak ada istimewanya lagi meskipun beda orang tetapi tetepa aja ceritanya itu. Mungkin bisa jadi aku telat merespon yang peluang itu. Meski itu karya original ku tetapi tetap saja aku telat. Dan aku sadari aku telat terlambat untuk memulai impian ini. Meski kata orang nggak ada yang telat itu hanyalah omong kosong.

Dont Give Up

Udah nggak ada waktu lagi untuk berkeluh kesah, menyesali yang udah terjadi dan meratapi kegetiran suatu kenyataan. Bener kata orang belajar sesungguhnya adalah di kehidupan nyata untuk memakanai alur hidup. Naskah yang pertama adalah ujian pertama dari kegagalan untuk sebuah mimpi yang NGGAK BOLEH PADAM. Aku menggap yang kemaren adalah latihan ku untuk menulis secara baik dan benar dan itu ternyata sangat susah. Pelajaran yang kedua adalah sesuatu yang sama itu nggak ada surprisenya walau berbeda penyajian. Harus membuat sesuatu yang benar-benar baru padahal Bumi ini sudah berputar jutaan tahun tetapi pasti ada peluangnya untuk mendapatkan yang baru. kunci utamanya DONT GIVE UP

Monday, 23 September 2013

Cerpen : IDENTITAS


Damainnya disini bisa melepas penas sejenak menikmati semilir angin. Melihat kehidupan sisi lain dari Denpasar. Benar-benar tempat yang pas untuk refreshing. Ada pedagan asongan yang sedang mangkal menjual minuman instan. Tanpa sengaja Sandi menangkap seseorang yang terlihat “aneh” sedang termenung menatap kosong ke arah lapangan.

Ya orang itu aneh bagi Sandi atau bagi siapa saja yang melihatnya. Dia itu berpenampilan perempuan tetapi berperawakan lelaki. Orang sering menyebutnya transgener atau kata kasarnya adalah waria. Sebenarnya Sandi sendiri masih belum yakin apa yang diliatnya itu beneran transger atau memang wanita. Sekilas memang wanita karena rambutnya panjang bermakeup tetapi tidak terlalu tebal. Dia pakai tanktop dan rok sebatas lutut, disampingnya ada tas cewek.

Sandi jadi semakin lekat memperhatikannya disamping penasaran apakah dia itu cowok atau cewek jadi-jadian dia terlihat sedang sedih yang mendalam. Beberapa kali Sandi mencuri pandang. Mungkin dia merasa diperhatikan pas Sandi akan memandangnya lagi dia menengok matanya saling beradu. Sandi jadi tertangkap basah. Secara reflek Sandi jadi salah tingkah kepalanya langsung dipalingkan pura-pura sedang sibuk melihat keadaan sekitar.

Rupanya Sandi masih ingin tahu lagi tentang dia. sembunyi-sembunyi Sandi melirik  kearah orang tersebut. Meski dari jauh terlihat tetesan air mata. Ternyata benar dia sedang sedih buktinya keluar air mata. Dia jadi menengok lagi langsung ke arah Sandi. Dia malah tersenyum ramah pada Sandi. Sudah tidak bisa mengelak lagi kalau pura-pura tidak memeperhatikan. Sandi membalas dengan senyum juga.

Ada keraguan Sandi untuk menghampiri atau tidak memperdulikannya lagi. inginnya sih meninggalkan begitu saja. Tapi disisilain ada rasa kasihan untuk menemani. Kelihatannya orang baik-baik. Jika dia memang transgender berbeda dengan lainnya yang suka mangkal di jalanan, entahlah.

Sandi bangkit dari tempat duduknya sudah siap menginggalkan tempat itu. rencananya ingin memutari lapangan. Ditengah lapangan tinggal beberapa orang saja yang sedang pacaran. Sandi melangkahkan kakinya. Namun dirinya malah semakin dekat pada orang yang sedari tadi diperhatikannya.

Mungkin cewek tadi merasa ada yang mendekatinya jadinya menengok lagi ke arah Sandi. Dilemparnya senyuman kepada Sandi, tanpa canggung lagi Sandi membalas senyum. Sekarang jaraknya tinggal lebih dari satu meter. Sudah dipastikan Sandi akan menghampiri cewek tersebut.

“Hai.” Sapa Sandi pada cewek itu.
“Hai juga.” Balasnya dengan ramah. Barulah ketahuan dia memang seorang transgender karena suaranya seperi dipaksakan kemayu tetapi masih terlihat cowok. Badannya langsing mirip cewek pada umumnya dari fisik yang terlihat cowok hanya jakunnya. Untuk make up persis pada wanita lain walau nggak tebal.
“Boleh duduk sini?” Sandi langsung to the point.
“Ouh boleh, silahkan.” Cewek itu mempersilahkan Sandi sambil mengambil tasnya lalu di pangku.



MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Tuesday, 17 September 2013

Cerpen : Bus Kota

Trans Jogja

Ujian Nasional sudah ku lewati dengan mungkin baik, sebelumnya itu aku jungkir balik mengikuti serangkaian les yang membuat kepala ingin ku pisahkan saja dengan tubuh. Bersyukur semua sudah ku selesaikan. Sekarang aku baru saja sampai di Jogja akan melanjutkan pendidikan, kata orang Jogja itu tempat paling nyaman untuk belajar. Apa benar?

Kedatanganku di Jogja disambut hujan deras, tepatnya di Terminal Jombor. Aku turun dari bus sambil berlari-lari menuju halte Trans Jogja. Seharusnya Mas Yofan yang menjemput, dia adalah sepupu ku anaknya Pakde Imron. Berhubung hujan dia membatalkan rencana untuk menjemput di terminal dan aku disarankan naik Trans Jogja Jalur 2A, baru di halte tujuan dijemput olehnya. Tidak apalah lagian ini bukan pertama kali aku naik Trans Jogja, apalagi ini adalah jalur favorit ku karena akan melewati Malioboro.

Langit Jogja gelap bukan karena awan mendung tetapi memang sudah malam. Di halte yang berukuran 3x10 meter persegi dijejali banyak orang antara yang sedang berteduh dan para calon penumpang Trans Jogja. Aku membayar tiket seharaga Rp3000 untuk sekali jalan, di ruang tunggu aku duduk di kursi panjang yang kosong sedangkan orang-orang lebih memilih berdiri dan berjejal di pintu penghubung bus Trans Jogja. Aku sudah cukup capek untuk berdiri untuk ikutan berjejal dan aku juga percaya pasti dapat kebagian tempat. Lagian jam operasionalnya masih lama.

Aku menerawang rintikan hujan. Aku bahagia karena sebentar lagi menjadi mahasiswa. Lebih  membahagiakan adalah bisa keluar dari rumah yang seperti Azkaban (penjara dalam Hary Potter). Aku adalah anak bungsu yang selalu merasa terpenjara karena aturan rumah yang mengharuskan aku ini itu, salah satunya dengan jam malam. Aku ini cowok ngapain juga ada jam malam? Tentunya aku bisa jaga diri donk. Lagian tinggal di kota kecil kalau klayaban juga nggak jauh hanya sekedar nongkrong di rumah teman.

Sekarang aku bebas, aku ralat bukan sekarang tetapi bulan depan. Saat ini aku masih menjadi anak mamah karena setelah urusan di Jogja aku harus segera kembali kepangukuan mamah. Di halte ini aku membayangkan besok menjadi seorang yang bebas tidak ada lagi jam malam oleh aturan rumah karena nantinya aku tinggal di kost. Aku bisa pergi sesuka hati dan pulang larut malam bahkan pagi tidak ada yang memprotesnya. Apa itu yang ku harapkan tinggal di Jogja? Tentunya tidak hanya itu saja. Tapi apa itu tujuan ku memilih tinggal di Jogja? Mungkin.

Tetapi kenapa aku pilih Jogja? Katanya sih Jogja nyaman bahkan terlalu nyaman sampai banyak yang enggan meninggalkan Jogja setelah lulus kuliah. Jadi pertanyaan nyaman yang seperti apa ya? Aku bisa menemukan jawaban itu kalau aku sudah jadi penduduk sini kali ya. Katanya lagi sih Jogja itu serba murah, ouh ya? Apa lagi kalo makan di angkringan, lebih tambah murah lagi. Aku denger Jogja itu surganya anak muda, banyak sekali aktifitas yang berhubungn dengan anak muda. Salah satunya dugem, aku belum pernah ikutan dan aku mesti lakukan.  Bukan itu aja tetapi banyak lagi komunitas yang berhubungan dengan anak muda. Aku harus ikut salah satunya.

Lantas tujuan utama ku ke Jogja apa? Tentunya adalah ada kuliah mencari ilmu meraih cita-cita, Apa itu hanya retorika belaka? Lihat saja nanti,hahahaha. Tetapi emang benarkan mencari ilmu di bangku kuliah dan ilmu kehidupan di bangku masyarakat. Selama ini aku hanya rumah menuju sekolah lalu tempat les balik lagi ke rumah. Tidak ada waktu untuk bermasyarakat. Inilah kehidupan dari manusia individualis dan aku akan bertekat merubahnya,  Aku pernah baca jadi anak kost itu asik punya banyak teman dan bisa bersosialisasi dengan baik.

Jadi mahasiswa itu bebas untuk kuliah kita sendiri yang mengatur jadwalnya. Mahasiswa itu keren bisa berdiri di mimbar tengah jalan sambil berorasi menyuarakan hati rakyat kecil karena anggota DPR atau DPRD nggak bisa di harapkan lagi. Mereka pelaku revolusi negeri ini, dan aku harus menjadi bagian itu, keren kan? Di kampus kita bisa berdiskusi memecahkan suatu masalah dengan debat terbuka sesama mahasiswa. Kelas tempat untuk belajar mencari ilmu dari buku.

Glegar suara petir mengagetkan ku dari lamunan. Bus jalur 2A sudah ada di depan, serombongan orang masuk. namun sayang ketika aku akan melangkah kaki ke dalam bus di tahan oleh kondektur yang ada didalam dengan alasan sudah penuh. Selangkah aku mundur kebelakang pintu bus tersebut tertutup secara otomatis lalu meninggalkan halte. Bus berikutnya tentu masih lama. Tetapi tidak apalah aku juga tidak terburu-buru untuk sampai di kostnya Mas Yofan. Aku duduk kembali ke tempat semula sekarang halte ini sudah lebih lengang.

Hujan masih saja deras. Dari pintu loket ada seorang pemuda mungkin berumur 23 tahun berjalan menuju tempat duduk ku. Dia duduk disebelah ku, terlihat rapih dengan kemeja di padu dengan celana jins serta sepatu kets, dia memakai tas ransel disalah satu tangannya ada sebuah buku tebal. Aku hanya menduga itu mungkin mahasiswa, aku membayangkan nanti pun aku menjadi seperti itu.

Aku rasa gregetan ingin bertanya padanya tentang menjadi mahasiswa. Dari pada diem-dieman mending ku ajak ngobrol aja kali ya lagian masih lama busnya.

“Masnya mahasiswa ya?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Ouh iya. Kenapa dek?” Jawab dia dengan sopan juga.
“Nggak apa sih cuma tanya aja. Kayaknya seru aja jadi mahasiswa.” Aku menimpali dengan alakadarnya saja memancing obrolan agar lebih panjang.
“Ouh calon mahasiswa ya adek?” Tanya dia lagi, sepertinya dia antusias untuk melanjutkan obrolan ini.
“iya kak.”  Jawab ku singkat tetapi aku langsung menambahkan lagi. “Tapi aku juga belum daftar, ini rencananya mau muter-muter terus sekalian daftar.”
“Aslinya mana dek?”
“Purwokerto mas.”
“Hayoo pasti pilih kuliah di Jogja pasti ingin jauh dari rumah ya?”

Jleb…sebuah pertanyaan yang menohok ke relung hati. Kenapa juga masnya bisa langsung tahu gitu. Apa ini orang punya indra ke enam kali ya, hebat juga bisa baca pikiran orang. Aku belum sempat jawab mas di sebelah ku udah nyerocos lagi.

“Saya juga dulu berfikir seperti itu. Udah lulus SMA pengin lanjutin kuliah di luar kota yang jauh biar bisa bebas. Tetapi sekarang baru tau betapa enaknya tinggal di rumah. Nggak ada tempat senyaman rumah.” Mas mahasiswa ini malah curhat sendiri. Belum sempat untuk menanggapi ceritanya dia malah melanjutkan ceritanya. “Jadi anak kost itu susah hidup pas-pasan kecuali kalau kita punya penghasilan lain atau anak orang tajir. Kita mesti pandai mengatur keuangan buat makan lah, transport, atau yang lainnya belum lagi biaya praktek kuliah atau tiba-tiba pengeluaran tak terduga.

“Ouh gitu ya mas.” Aku menanggapi seadanya saja memang karena nggak tau harus komentar apa.

Oke dalam benak ku harus ditambahkan lagi jadi rantau ada nggak enaknya apa lagi kalau lagi kehabisan duit. Perlu ada persiapan khusus nih pelajaran akutansi di berdayakan lagi bisa buat pembukuan pemasukan dan pengeluaran jadi kan terkontrol. Itu terlalu berlebihan melakukan seperti itu.

“Pokoknya enak di rumah dech kita mau makan tinggal makan. Jadi anak kost mau makan aja perlu keluar dulu. Makan di warung keluarin duit lagi dech. Belum lagi kalo harga makan naik tambah pusing lagi, apalagi akhir bulan keuangan udah menipis bingung makan apa.” Nada orang ini semakin memelas.

Kayaknya perlu bawa beras sekarung buat jaga-jaga kelaparan atau mie instan satu karton buat cadangan akhir bulan kalau uang bulanan sudah kritis. Perlu persiapan apa lagi ya? jalan satu-satunya adalah minta lagi dech sama orang tua tapi itu adalah senjata terakhir. Koq aku dari sekarang malah pusing mikirin keuangan ya, Keterima di kampus mana juga belum.

“Terus mas menanggulanginya gimana?” Aku bertanya untuk mendapatkan trik penghematan uang makan.
“Biasanya sih berburu teman yang sedang ulang tahun kita merayu untuk mentraktir. Terus deketin temen yang asli Jogja dia kan tinggal di rumah, kita bisa nebeng makan di rumahnya dia. Kalau saya untung punya temen kost yang kompak kita sering masak bareng bikin mie atau apa ajalah nah beli bahannya patungan. Satu lagi kalau ini harus tahan malu karena kita nebeng makan di acara kondangan orang yang nggak kita kenal. Hahahaha”Di akhir kalimat mas mahasiswa ini malah tekekeh karena perbuatan kekonyolannya sendiri. “eh bisnya dateng lanjutin di dalem aja yuk.

Aku membuntuti dia masuk ke dalam bus. Kali ini tidak perlu berdesakan karena hanya sedikit penumpang yang masuk ke dalam bus. Di dalam bus pun kosong penumpang tapi tetap saja aku tidak bisa bebas memilih tempat duduk karena aku ingin medengarkan lanjutan cerita dari mas mahasiswa yang belum ketahui namanya. Rupanya dia memilih duduk di kursi paling belakang yang menghadap ke depan. Aku sendiri duduk disebelahnya, tas ransel yang besar ku pangku agar aku bisa duduk bersender.

“Nah itu mas, aku pengin kost karena biar bisa bersosialisasi. Sapa tau dengan kost kan bisa ngobrol atau jalan bareng sama temen kost tuh.” Akhirnya aku mengutarakan niat ku untuk kost.
“Hhmmmm, nggak semua kostan bisa seperti itu tergantung orang-orangnya aja sih. Banyak juga kostan yang penghuninya sangat individual mereka hanya kenal nama tetapi nggak pernah ngumpul bareng atau jalan bareng. Biasanya yang kayak gitu kostan elit atau kostan para pekerja.”

Aduh, kalau gitu harus pinter-pinter cari kost ya biar dapet kost yang nyaman dan temen-temennya bersahabat bisa kompakan gitu. Nggak bangetkan dapet kostan yang penghuninya individual gitu, nah loh kalo sakit minta tolong siapa kalau sesama penghuni kost nggak kenal. Tetapi tergantung kita juga dink, kalau pandai bergaul pasti dapet temen yang baik mau bantuin.

“Pokoknya enak tinggal di rumah lah, di rumah itu kita bisa di jagain sama ortu.  Walau kita serinng sebel dengan peraturan ortu yang bawel ini itu tetapi kalau di cermati maksudya baik loh. Coba kalau di rantau kita sering kebablasan belum lagi kalau salah pergaulan tambah runyam.” Mas mahasiswa kembali menambahkan betapa enaknya kalau tinggal di rumah dari pada di perantauan.

“Berarti tergantung diri kita sendiri donk untuk mengontrol perilaku kita.” Aku menarik sebuah kesimpulan dari pembicaraan yang sedang berlangsung.
“Bener banget, kita harus pandai cari temen. Kita boleh saja banyak bergaul tetapi tetep harus waspada pada pergaulan dan teman. Kalau bisa cari teman yang bisa memberikan dampak positif. Teman bisa menjadi pengaruh besar dalam dunia perantauan. Kita nggak waspada bisa terjerumus.”

Ribet juga ya jadi anak rantau kalau gitu. Semuanya sendiri dari makan, cuci baju, ngatur keuangan belum lagi pergaulan. Ich jadi serem jika nantinya jadi begundal bukannya serius belajar eh malah jadi serius main-main bisa madesu (mas depan suram) nich. Pokoknya aku harus bertekat untuk menjaga pergaulan. Kayaknya perlu berguru sama mas ini supaya di perantauan tetap pada jalan yang lurus nggak belok-belok.

Selama obrolan dari tadi aku melihat mahasiswa yang ku ajak obrol ini salah satu anak baik-baik. Aku nggak melihat tampang begundal. Lihat saja penampilannya rapih kayak gitu, bajunya bersih sepatu ketsnya tampak terawat dan wangi. Belum lagi dia bawa buku tebal seperti itu pasti dia rajin belajar dan serius untuk kuliah. Dia juga sopan sama orang, ah kalau itu mah sudah adatnya orang sini kali ya emang harus sopan. Perlu di contoh kayak gini.

“Nama mas siapa?” Setelah banyak ngobrol kesana kemari malah baru sekarang aku menanyakan nama.
“Oh ya lupa dari tadi kita belum kenalan nama. Saya Haris aslinya Palembang. Kalau kamu?”
“Aku Teo, dari Purwokerto.” Kita saling bersalaman tanda formalitas untuk berkenalan. “Mas kuliah dimana?  Ambil jurusan apa?” Serentetan pertanyaan muncul dari bibirku.
“Saya kuliah di UKDW ambil jurusan Biologi. Rencananya kamu mau ambil jurusan apa?”

Aku tidak langsung menjawabnya karena aku sendiri masih bingung ambil jurusan apa. Aku di SMA jurusan IPS pasti di tempat kuliah makin sendikit jurusan yang bisa di ambil. Dan ku pilih sekarang juga masih ada keraguan.

“Hhmm, orang tua sih nyuruh aku ambil psikologi.” Aku menjawab dengan ragu.
“Kalau pilihan kamu sendiri apa?” Tanya dia antusias sekaligus penasaran.
“Aku sih maunya sejarah atau antropologi.”  Kata ku masih dalam keraguan.
“Saran saya sih ikuti kata hati.” Hans sangat bijak menanggapi permasalahan ku.
“Kata hati ku sih ya ambil sejarah lah, sejarah itu dunia ku.” Aku menimpali dengan berapi-api.
“Ambil lah jurusan itu.”
“Tapi kan nggak boleh sama orang tua.” Aku bersedih karena pilihan ku ditentang sama orang tua.
“Yang kuliah itu kamu bukan orang tua kamu juga kan. Jadi yang merasakan nikmatnya kuliah itu kamu sendiri. Banyak juga teman saya merasa salah jurusan akhirnya mereka jadi malas-masalan kuliah karena nggak menikmati ada yang karena awalnya disuruh orang tua ada pula yang kerna hanya ikutan teman. Jadi saran saya ikuti kata hati.” Hans semakin terlihat bijak degan tutur kata lembut namun tegas.

Aku kembali berfikir untuk meninjau ulang pada pemilihan jurusan psikologi emang sing punya prospek besar tetapi bagaimana kalau aku tidak menikmati pekuliahannya pasti akan terbengkalai juga kan kalau aku jadi males. Kita akan menjadi semangat kerana kemauan kita terhadap ilmu yang dipelajari. Ah lagian sejarahwan juga masih sedikit pasti prospeknya banyak juga toh. Pertama aku aku harus memberikan pengertian ke orang tua bahwa aku mau kuliah kalau jurusan sejarah atau antropologi. Bener juga mereka nggak bisa memaksa kehendaknya sendiri walau mereka yang membayar kuliah tapi inilah jalan hidup ku, nantinya juga kan buat masa depan ku sendiri.

Sekarang bus Trans Jogja sedang menyusuri jalan Mangkubumi artinya sudah masuk pusat Kota Jogja. Lampu jalan yang terang menghiasi jalanan yang lengang, banyak pengendara motor yang memilih berteduh di emperan toko yang sudah tutup. Saat ini masih saja hujan mengguyur Kota Jogja. Tujuan masih jauh di jalan Veteran.  Dari obrolan dengan Mas Hans dapat kesimpulan meraih cita-cita itu harus dari sendiri dan bukan orang lain yang mengontrol orang lain. Gemerlapnnya kota besar harus diwaspadai jangan sampai kita terlena oleh hiburan yang mengiringi kota ini. Hidup diperantauan juga harus cermat dalam mengatur keuangan dan pergaulan belum lagi permasalahan di dunia kampus. Ah ternyata lebih complicated dari pada yang ku bayangkan. Tetapi hidup ini adalah pilihan, dan aku ingin terus maju meraih cita-cita aku.

Terderngar suara handphone aku pikir itu punya ku tetapi ternyata punya Mas Hans. Mas Hans segera merogoh saku celananya untuk mengambil handphone, lalu langsung di angkatnya. Tanpa sengaja aku medengar ucapan Mas Hans.

“Halo, Oh elu Can. Gue masih di Trans Jogja nih. Kenapa?” Hans diam sesaat karena mendengarkan lawan bicaranya. “Ouh gitu pastinya donk gue ikutan partynya nanti di Bosche, pasti seru donk DJnya gokil. Gue berangkat sama anak-anak dari Kafe Mirota. Lu ikutan gabung aja sini.” Hans kembali diam memberi kesempatan orang dibalik telpon itu berbicara. “ Ya udah deh nanti kita ketemu di sana aja, see you.”

Hati ku mencelos aku pikir Mas Hans ini mahasiswa baik-baik. Mungkin inilah mahasiswa yang baik dalam berkamuflase. Dari luar tampang mahasiswa rajin dan tidak suka pesta ternyata di kehdipuan lainnya dia sebagai party goers. Ah ada-ada saja.






Trans Jakarta.

Saat ini aku berada di Ibu Kota Indonesia yaitu Jakarta. Setelah menamatkan kuliah jurusan Antropologi aku mengadu nasib di Jakarta. Disini 40% perederan uang Indonesia, dan aku berharap mendapatkan pundi itu untuk masa depan. Aku cukup bangga bisa bekerja disalah satu gedung elite Jalan Sudirman, pusat dari kehidupan keuangan Indonesia karena banyak perusahaan multi nasional dan internasional yang berkantor disini.

Malam ini sebelum pulang ke kost di daerah Gajah Mada aku makan dulu di Plaza Semanggi. Kebetulan ada teman yang sedang ulang tahun dan mentraktir makan, apasalahnya juga ikutan gabung lumayan dapat makan malam gratis. Aku disini tidak memakai kendaraan pribadi karena malas harus ikutan terjebak pada arus macet. Aku lebih suka menggunakan angkutan umum khususnya Trans Jakarta, yang mempunyai jalur sendiri jadi lumayan lancar walau terkadang ikutan kejebak macet karena ulah para pengendara kendaraan pribadi yang seenaknya menyerobot jalur Trans Jakarta.

Aku berjalan menyusuri trotoar menuju halte Bendungan Hilir yang berada di depan Universitas Atma Jaya. Di trotoar ini sebagian penduduk  Jakarta mengadu nasib menjadi pedagang kaki lima. Sebenarnya sangat menyebalkan karena mengganggu pejalan kaki tetapi kadang dibutuhkan juga kala kita haus mereka menyediakan minuman botol kemasan. Nggak bermasalah  juga selama masih menyediakan lahan untuk pejalan kaki. Pedagang kaki lima ini semakin banyak di jembatan penyebrangan yang mereka jajakan juga beraneka ragam mulai dari aksoris handphone sampai perkakas alat rumah tangga. Yang ini sebenernya mengganggu karena pejalan kaki jadi sangat terganggu sebagian besar tempat untuk area lapak mereka.

Dari jembatan penyebrangan terliahat dengan jelas antrian di loket masuk halte. Ini memang jam pulang kerja jadi wajar saja antriannya mengular panjang belum lagi di halte pasti suda berjubel orang menunggu kedatangan Trans Jakarta. Sudah menjadi keseharian penduduk Jakarta yang siap sedia bertarung memperubutkan tempat nggak melulu di Trans Jakarta tetapi di kehidupan lain juga berebut memperoleh pekerjaan, yang sudah bekerja berebut memperoleh jabatan penting dan seterusnya. Bahkan ada pula yang sampai berebut tempat buka lapak di jembatan penyebrangan. Semuanya itu demi mengisi perut agar terus hidup. Sebegitu beratnya kah perebutan di Jakarta?

Dalam otak ku mereka semua hanya mengisi peluang-peluang yang tersedia. Tidak perlu membutuhkan kepintaran yang ber-IQ super untuk medapatkan itu. Tidak perlu juga bersekolah dengan nilai fantastis. Lalu apa yang dibutuhkannya? Kecerdikan dan keberuntungan. Kita memang harus cerdik mencari peluang dengan memutar otak mencari peluang tersebut dengan inovasi atau menciptkan hal baru. Keberuntunganlah selanjutnya sesuatu yang tidak terduga itu bukan datang dari sendiri tetapi campur tangan Tuhan juga.

Akhirnya aku sampai pada antrian yang cukup panjang. Tahap kesabaran awal untuk menunggu. Seperti halnya menuggu pekerjaan datang. Kita sudah berusaha mengirim lamaran ke berbagai tempat tetapi tidak kunjung datang panggilan tersebut. Dan pada akhirnya apakah kita akan terus menunggu pada jalur yang sama atau berpindah jalur, pada akal yang tidak sehat akan pindah jalur dengan cara curang yaitu menyerobot atau bisa saja dengan menyogok.

Tetapi kita masih punya pilihan lain kita bisa pindah halte untuk tapi belum tentu peluangnya dihalte lain lebih besar, semuanya random dan hanya menebak syukur kalau kosong nah loh kalau lebih penuh sama aja bohong malah peluangnya lebih tipis untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Ada cara ekstrim lagi yaitu banting setir kita tidak perlu mengantri di loket tetapi kita bisa langsung naik yaitu dengan naik metromini atau kopaja atau yang lainnya. Kita hanya perlu menunggu saja kedatangan angkutan tersebut. Tetapi setelah naik kita masih perlu berjuang dengan berjubelan belum lagi banyak copet dan tidak ada aturan untuk berlalu lintas. Jika disamakan dengan pekerjaan. Kita akan mendapatkan dengan mudah dan cepat tetapi banyak hantaman berbagai macam rupa meskipun itu berbahaya untuk diri kita sendiri. Belum lagi kejadian tidak teduga kita bisa saja dalam sekejap harta hilang oleh para copet. Mereka kasat mata tetapi mematikan.

Aku sendirri hanya pasrah dalam antrian ini dan sabar. Pada waktunya juga akan sampai kalau sabar dan sudah pasti antriannya terus bergerak. Aku melihat wajah orang-orang yang sedang mengantri begitu datar tanpa ekspresi. Terpancar kebosanan di mukanya. Apa mungkin ekspresi itu melekat di wajah ku? Aku tidak ada bedanya dengan mereka.

Bagaimana tidak bosan kalau setiap hari melakukan rutinitas yang sama dan seperti itu saja, dari yang berbulan-bulan sampai yang bertahun-tahun. rutinitas itu bangun pagi mempersiapkan pergulatan dunia kerja yang keras. Berdesakan di jalanan menuju tempat kerja, pagi-pagi sudah menjadi gila menghadapi kemacetan parah. Siang harinnya bergumul dengan kertas pekerjaan yang semakin membuat stress membuat laporan. Kita hanya istirahat sejenak untuk memulihkan stamina pada jam makan siang. Tapi apa mental kita ikut pulih? Belum tentu. Malamnya yah seperti saat ini juga. Pulang dari tempat kerja dengan kelelahan. Sudah tidak ada lagi waktu untuk bersosialisasi. Pada akhirnya kita adalah sebuah robot melakukan hal sama terus menerus.

Aku terbebas antrian loket tetapi masih menunggu kedatangan bus, dan sekali lagi aku juga mengantri agar lebih tertib waktu masuk bus. Memang semuanya harus perlu antri untuk lebih teratur tidak perlu saling serobot karena pada akhirnya kita akan mendapat bagian. Kita bisa belajar saling menghormati kita disini mempunyai kepentingan yang sama menaiki transportasi yang sama pula untuk mencapai sebuah tujuan.

Lihat saja aku terjebak pada manusia-manusia individualis mereka sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada senyum ke sesama manusia di sebelah atau atau sekitarnya. Mungkin bisa dianggap gila bila tersenyum kepada orang yang tidak dikenalnya. Itulah salah satu karakter individualis. Mata mereka tertuju pada satu layar kecil berkuuran 3 inci, ya mereka sibuk dengan smartphone yang ada di genggaman tangannya.

Bermacam mimic yang terbingkai di wajah mereka kadang mereka tertawa sendiri, marah, atau bahkan menangis. Apakah mereka sudah gila? Sama saja halnya dianggap gila kala kita tersenyum pada orang yang tidak dikenalnya. Semua orang punya dunianya sendiri disini, jadi antara orang waras dan yang tidak waras menjadi abu-abu.

Kita menjadi orang individual karena sudah tidak ada waktu lagi untuk mementingkan orang lain, bahkan keluarga sendiri. Kita hidup untuk diri sendiri disini, setiap hari sudah dipusingkan oleh pekerjaan. Selesai bekerja rasanya ingin cepat-cepat sampai rumah lalu tidur dan setiap hari pun sama seperti itu.
Waktu bersosialisasi kita hanya waktu jam pulang kerja itu pun dilakukan di kendaraan umum. Bukan bercakap-cakap pada orang yang kita temui tetapi bercengkrama dengan orang yang sedang entah ada dimana, menggunakan smartphone beragam fasilitias pesan singkat yang instan. Sembari menunggu kedatangan Trans Jakarta kita membunuh kebosanan dengan bersosialisasi instan. Karena kewarasan ini sudah pudar terjadilah emsional yang berlebihan menangis, menertawakan, memarahi kotak kecil tersebut. Gila!!!

Bus Trans Jakarta sudah terlihat, dan petugas halte juga sedang memberikan pengumuman bahwa Trans Jakarta jurusan Kota akan segera datang. Orang-orang secara kompak memasukan smartphone ke dalam tas atau saku celana. Antrian kembali menjadi rapih sudah siap untuk perebutan bisa masuk ke dalam bus. Aku sendiri memilih antrian pintu masuk belakang bus karena yang depan khusus untuk wanita atau wanita jadi-jadian. Pintu tengah dan belakang untuk umum.

Begitu bus sudah sampai halte ketiga pintunya berbarengan terubuka. Calon penumpang tidak langsung masuk karena memberikan kesempatan pada orang yang turun dari bus terlebih dahulu. Begitu orang yang sudah turun semua barulah orang-orang merangsek masuk. bus yang tadinya sudah penuh bertambah berjubel dengan penumpang baru. Jadi sudah dipastikan tidak ada lagi tempat duduk yang kosong.

Mau tak mau aku berdiri pasrah lagi pada keadaan. Untung tak berapa lama aku berdiri karena ada penumpang yang turun di halte Karet. Dengan sigap dan cekatan begitu orang itu berdiri meninggalkan kursinya aku langsung menggantikannya. Akhirnya dapat tempat duduk yang empuk juga. Kadang dari pertama masuk sampai keluar bus aku terus berdiri karena kalah dalam perebutan menduduki singgasana. Dalam pekerjaan juga tidak jauh beda berbagai cara untuk memperoleh kedudukan bisa saling sikut yang di sebelahnya atau dengan sabar menunggu giliran.

Begitu sudah mapan dan nyaman. Aku mengeluarkan buku Negarakertagama. Baru berapa baris tiba-tiba disamping ku ada yang mengomentari, dia seorang lelaki tampaknya seumuran dengan ku. Ternyata masih ada makhluk sosial di bus ini, mau bercengkrama dengan orang yang nggak di kenalnya.
“Wih bacaanya kayak professor sejarah.”  Kata dia sambil menengok sampul buku dengan memajukan kepalanya.
Aku memangkat buku ini. tersembul kepala dia di hadapan ku. “Buat pengingat jaman kuliah dulu.”
“Ouh dulu ambil sejarah ya? Terus sekarang kerjanya apa?” Rupanya dia antusias untuk KEPO.
“Iya dulu ambil sejarah. Sekarang jadi editor.” Jawab ku singkat menandakan aku malas untuk obrolan lebih lanjut.
Dia kembali menegakan tubuhnya namun kepala masih memalingkan kepada ku, sepertinya dia ingin melanjutkan obrolan lagi. “Wah sayang banget tuh udah kuliah capek-capek kerjaan nggak sesuai sama jurusnnya.”

Deg  aku jadi teringat beberapa tahun lalu. Ketika perdebatan degan orang tua. Ayah menghendaki aku untuk masuk jurusan psikologi sedangkan ibu menyuruhku ambil jurusan Ekonomi. Aku ngotot ingin mempelajari ilmu sejarah. Akhirnya aku menang, bisa belajar ilmbu sejarah sekaligus menjadi lulusan terbaik. Tetapi angan-angan ku menjadi sejarahwan makin menjauh karena tidak lowongan kerja untuk penuntut ilmu sejarah. Jadi aku bekerja untuk sesuap nasi dan kebutuhan lainnya.
“Iya sih sayang, tapi mau gimana lagi adanya kerjaan ini. Semoga sih nggak selamanya dan segera dapat pekerjaan yang sesuai dengan ilmu ku.” AKu menanggapi celotehan dia yang menusuk hati, sekalian menghibur diri sendiri.
“Nyesel nggak sih mas ambil jurusan itu?” Pertanyaan dia sederhana tetapi semakin menohok.
“Nggak lah, lah wong waktu kuliah aku happy koq. Lagian dengan ambil jurusan ini aku jadi semakin bangga menjadi orang Indonesia. Lalu sekarang aku juga enjoy dengan kerjaan ku.” Aku menjawab dengan sedikit gusar.
“Sebenarnya aku juga sama kayak mas. Kuliah jurusan apa kerjanya bidangnya jauh banget.” Dia malah curhat sendiri. “Kadang nyesel sih kenapa dulu nurut sama orang tua ambil jurusan Hukum. Padahal aku pengin Ekonomi.”
“Toh sekarang mas kerja di bidang ekonomi kan? Harusnya seneng donk.” Kata ku ketus.
“Iya sih seneng tetapi aku bisa naik jabatan karena kendala ilmu dan ijazah.” Ada nada kesedihan dibalik ucapannya.
“Nikmati saja lah mas. Sekarang udah berasa cukup kan?” Aku mencoba menghibur dia.
Sekilas senyumnya mengembang dibalik tubuh yang lelah setelah berkutat dengan pekerjaan. Tampaknya dia seorang yang haus akan sosialisasi. Gerak gerinya ingin melanjutkan suatu obrolan lain. Aku yang tadinya males-malesan menanggapi sekarang ikut antusias karena aku sendiri sudah lama tidak mengobrol dengan seseorang diluar pekerjaan.

“Asli Jakarta mas?” Tanya ku megganti topik awal pembicaraan.
“Bukan, gue pendatang koq. Aslinya pedalaman Kalimantan. Kalo loe sendiri?” Jawab dia semagat. Hubungan ini semakin menghangat dia sudah menunjukan sebagai “orang Jakarta” dengan perkataan loe dan gue.
“Pendatang juga, Asli Jateng. Kenapa nggak balik ke Kalimantan aja?” Tanya ku menelisik.
“Balik lagi ke sana artinya gue jadi orang pedalaman lagi. Meski gue tinggal di kota Kabupaten tapi tetep aja di keliling hutan. Enakan di sini,hehehhe”
“Ouh gitu, udah betah ya disini berarti?”
“Iyalah, gue disini udah lama juga. Ogah balik lagi.” Dia menyeringai, aku sendiri nggak mengerti maksud dari seringai itu.

Ternyata Jakarta yang kejam ini masih ada orang yang betah, bukan satu orang saja tapi jutaan. Padahal sebagian mereka hidup tidak layak. Jakarta memang memikat tubuh  para  pendatang hingga enggan kembali ke asalnya untuk membangun daerah. Atau pembangunan ini tidak merata sehingga lapangan kerja hanya tersedia di kota besar, khususnya Jakarta. Aku jadi penasaran kena dia betah tinggal di Jakarta.

“Kenapa betah disini mas? Padahal macet.”
“Disini cari duit gampang, banyak peluang. Gajinya gede dan apa-apa murah. Dibading sama daerah gue cari duit susah udah gitu mahalnya selangit belum lagi kadang ada yang pake Ringgit.” Ada suatu kegetiran di suaranya. “Loe sendiri betah nggak?”

Aku bingung untuk menjawabnya. “Nggak tau ya, aku baru disini juga sih.” Jawab ku jujur.
“Meskipun baru tapikan loe udah bisa ngerasain juga kan tingal di sini?” Dia terus mendesak ku.
“Iya sih. Kalau sekarang ya belum ngerasa betah juga. Gila macetnya bikin stress, belum lagi tempat ku tinggal rasanya nggak bisa gerak bebas. Belum lagi banjir bisa jadi waterpark raksasa.” Aku menumpahkan tetek bengek masalah yang hampir semua dialami penduduk kota ini.
“Ah itu mah biasa aja, lama-lama loe juga terbiasa koq. Tapi loe sendiri suka kan tinggal disini?”

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan dia, karena aku belum menemukan alasan yang tepat kenapa aku suka kota ini. Kota ini memang indah dengan seribu macam wajahnya. Gedung pencakar langit di kawasan Sudirman-Tamrin megah menandakan betapa makmurnya kota ini. tetapi coba tengok di balik gedung itu. Ternyata itu hanyalah sebuah kamuflase masih banyak rakyat jelata yang belum sejahtera.

“Gue suka kota ini karena megah, semuanya ada, kota paling lengkap seindonesia, orangnya juga asik-asik nggak rese kecuali FPI ya.” Dia menjabarkan semua alasan kenapa suka dengan Jakarta. “Oh ya loe tinggal dimana?”
“Di Gajah Mada situ.”
“Wi sama donk, sebelah mananya?”
“Deket sama halte Mangga Besar.”
“Ouh, gue Sawah Besar. Boleh minta pin loe gak?”

Aku kasih sederan nomer pin Blackberry yang kupunya. Nggak ada salahnya juga kan kasih nomer siapa tahu emang bisa buat jadi temen apalagi kostnya dia juga dekat dengan ku. Mendapatkan teman yang benar-benar baik susah. Lebih gampang lagi mendapatkan teman yang brengsek. Dan anggap saja tidak ada kawan disini karena semua punya peluang jahat.

“Eh gue udah mau sampe nih, kapan-kapan hangout bareng ya. thanks.” Dia berpamitan dan meninggalkan tempat duduknya berjalan menuju pintu keluar.


Aku hanya mengangguk. Dan membiarakan dia pergi begitu saja. Syukur kalau dia memang beneran ngajak jalan bareng. Tetapi aku juga nggak berharap apa-apa. Halte Sawah Besar sudah dilewati halte berikutnya aku harus turun.