Monday, 23 September 2013

Cerpen : IDENTITAS


Damainnya disini bisa melepas penas sejenak menikmati semilir angin. Melihat kehidupan sisi lain dari Denpasar. Benar-benar tempat yang pas untuk refreshing. Ada pedagan asongan yang sedang mangkal menjual minuman instan. Tanpa sengaja Sandi menangkap seseorang yang terlihat “aneh” sedang termenung menatap kosong ke arah lapangan.

Ya orang itu aneh bagi Sandi atau bagi siapa saja yang melihatnya. Dia itu berpenampilan perempuan tetapi berperawakan lelaki. Orang sering menyebutnya transgener atau kata kasarnya adalah waria. Sebenarnya Sandi sendiri masih belum yakin apa yang diliatnya itu beneran transger atau memang wanita. Sekilas memang wanita karena rambutnya panjang bermakeup tetapi tidak terlalu tebal. Dia pakai tanktop dan rok sebatas lutut, disampingnya ada tas cewek.

Sandi jadi semakin lekat memperhatikannya disamping penasaran apakah dia itu cowok atau cewek jadi-jadian dia terlihat sedang sedih yang mendalam. Beberapa kali Sandi mencuri pandang. Mungkin dia merasa diperhatikan pas Sandi akan memandangnya lagi dia menengok matanya saling beradu. Sandi jadi tertangkap basah. Secara reflek Sandi jadi salah tingkah kepalanya langsung dipalingkan pura-pura sedang sibuk melihat keadaan sekitar.

Rupanya Sandi masih ingin tahu lagi tentang dia. sembunyi-sembunyi Sandi melirik  kearah orang tersebut. Meski dari jauh terlihat tetesan air mata. Ternyata benar dia sedang sedih buktinya keluar air mata. Dia jadi menengok lagi langsung ke arah Sandi. Dia malah tersenyum ramah pada Sandi. Sudah tidak bisa mengelak lagi kalau pura-pura tidak memeperhatikan. Sandi membalas dengan senyum juga.

Ada keraguan Sandi untuk menghampiri atau tidak memperdulikannya lagi. inginnya sih meninggalkan begitu saja. Tapi disisilain ada rasa kasihan untuk menemani. Kelihatannya orang baik-baik. Jika dia memang transgender berbeda dengan lainnya yang suka mangkal di jalanan, entahlah.

Sandi bangkit dari tempat duduknya sudah siap menginggalkan tempat itu. rencananya ingin memutari lapangan. Ditengah lapangan tinggal beberapa orang saja yang sedang pacaran. Sandi melangkahkan kakinya. Namun dirinya malah semakin dekat pada orang yang sedari tadi diperhatikannya.

Mungkin cewek tadi merasa ada yang mendekatinya jadinya menengok lagi ke arah Sandi. Dilemparnya senyuman kepada Sandi, tanpa canggung lagi Sandi membalas senyum. Sekarang jaraknya tinggal lebih dari satu meter. Sudah dipastikan Sandi akan menghampiri cewek tersebut.

“Hai.” Sapa Sandi pada cewek itu.
“Hai juga.” Balasnya dengan ramah. Barulah ketahuan dia memang seorang transgender karena suaranya seperi dipaksakan kemayu tetapi masih terlihat cowok. Badannya langsing mirip cewek pada umumnya dari fisik yang terlihat cowok hanya jakunnya. Untuk make up persis pada wanita lain walau nggak tebal.
“Boleh duduk sini?” Sandi langsung to the point.
“Ouh boleh, silahkan.” Cewek itu mempersilahkan Sandi sambil mengambil tasnya lalu di pangku.



MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Tuesday, 17 September 2013

Cerpen : Bus Kota

Trans Jogja

Ujian Nasional sudah ku lewati dengan mungkin baik, sebelumnya itu aku jungkir balik mengikuti serangkaian les yang membuat kepala ingin ku pisahkan saja dengan tubuh. Bersyukur semua sudah ku selesaikan. Sekarang aku baru saja sampai di Jogja akan melanjutkan pendidikan, kata orang Jogja itu tempat paling nyaman untuk belajar. Apa benar?

Kedatanganku di Jogja disambut hujan deras, tepatnya di Terminal Jombor. Aku turun dari bus sambil berlari-lari menuju halte Trans Jogja. Seharusnya Mas Yofan yang menjemput, dia adalah sepupu ku anaknya Pakde Imron. Berhubung hujan dia membatalkan rencana untuk menjemput di terminal dan aku disarankan naik Trans Jogja Jalur 2A, baru di halte tujuan dijemput olehnya. Tidak apalah lagian ini bukan pertama kali aku naik Trans Jogja, apalagi ini adalah jalur favorit ku karena akan melewati Malioboro.

Langit Jogja gelap bukan karena awan mendung tetapi memang sudah malam. Di halte yang berukuran 3x10 meter persegi dijejali banyak orang antara yang sedang berteduh dan para calon penumpang Trans Jogja. Aku membayar tiket seharaga Rp3000 untuk sekali jalan, di ruang tunggu aku duduk di kursi panjang yang kosong sedangkan orang-orang lebih memilih berdiri dan berjejal di pintu penghubung bus Trans Jogja. Aku sudah cukup capek untuk berdiri untuk ikutan berjejal dan aku juga percaya pasti dapat kebagian tempat. Lagian jam operasionalnya masih lama.

Aku menerawang rintikan hujan. Aku bahagia karena sebentar lagi menjadi mahasiswa. Lebih  membahagiakan adalah bisa keluar dari rumah yang seperti Azkaban (penjara dalam Hary Potter). Aku adalah anak bungsu yang selalu merasa terpenjara karena aturan rumah yang mengharuskan aku ini itu, salah satunya dengan jam malam. Aku ini cowok ngapain juga ada jam malam? Tentunya aku bisa jaga diri donk. Lagian tinggal di kota kecil kalau klayaban juga nggak jauh hanya sekedar nongkrong di rumah teman.

Sekarang aku bebas, aku ralat bukan sekarang tetapi bulan depan. Saat ini aku masih menjadi anak mamah karena setelah urusan di Jogja aku harus segera kembali kepangukuan mamah. Di halte ini aku membayangkan besok menjadi seorang yang bebas tidak ada lagi jam malam oleh aturan rumah karena nantinya aku tinggal di kost. Aku bisa pergi sesuka hati dan pulang larut malam bahkan pagi tidak ada yang memprotesnya. Apa itu yang ku harapkan tinggal di Jogja? Tentunya tidak hanya itu saja. Tapi apa itu tujuan ku memilih tinggal di Jogja? Mungkin.

Tetapi kenapa aku pilih Jogja? Katanya sih Jogja nyaman bahkan terlalu nyaman sampai banyak yang enggan meninggalkan Jogja setelah lulus kuliah. Jadi pertanyaan nyaman yang seperti apa ya? Aku bisa menemukan jawaban itu kalau aku sudah jadi penduduk sini kali ya. Katanya lagi sih Jogja itu serba murah, ouh ya? Apa lagi kalo makan di angkringan, lebih tambah murah lagi. Aku denger Jogja itu surganya anak muda, banyak sekali aktifitas yang berhubungn dengan anak muda. Salah satunya dugem, aku belum pernah ikutan dan aku mesti lakukan.  Bukan itu aja tetapi banyak lagi komunitas yang berhubungan dengan anak muda. Aku harus ikut salah satunya.

Lantas tujuan utama ku ke Jogja apa? Tentunya adalah ada kuliah mencari ilmu meraih cita-cita, Apa itu hanya retorika belaka? Lihat saja nanti,hahahaha. Tetapi emang benarkan mencari ilmu di bangku kuliah dan ilmu kehidupan di bangku masyarakat. Selama ini aku hanya rumah menuju sekolah lalu tempat les balik lagi ke rumah. Tidak ada waktu untuk bermasyarakat. Inilah kehidupan dari manusia individualis dan aku akan bertekat merubahnya,  Aku pernah baca jadi anak kost itu asik punya banyak teman dan bisa bersosialisasi dengan baik.

Jadi mahasiswa itu bebas untuk kuliah kita sendiri yang mengatur jadwalnya. Mahasiswa itu keren bisa berdiri di mimbar tengah jalan sambil berorasi menyuarakan hati rakyat kecil karena anggota DPR atau DPRD nggak bisa di harapkan lagi. Mereka pelaku revolusi negeri ini, dan aku harus menjadi bagian itu, keren kan? Di kampus kita bisa berdiskusi memecahkan suatu masalah dengan debat terbuka sesama mahasiswa. Kelas tempat untuk belajar mencari ilmu dari buku.

Glegar suara petir mengagetkan ku dari lamunan. Bus jalur 2A sudah ada di depan, serombongan orang masuk. namun sayang ketika aku akan melangkah kaki ke dalam bus di tahan oleh kondektur yang ada didalam dengan alasan sudah penuh. Selangkah aku mundur kebelakang pintu bus tersebut tertutup secara otomatis lalu meninggalkan halte. Bus berikutnya tentu masih lama. Tetapi tidak apalah aku juga tidak terburu-buru untuk sampai di kostnya Mas Yofan. Aku duduk kembali ke tempat semula sekarang halte ini sudah lebih lengang.

Hujan masih saja deras. Dari pintu loket ada seorang pemuda mungkin berumur 23 tahun berjalan menuju tempat duduk ku. Dia duduk disebelah ku, terlihat rapih dengan kemeja di padu dengan celana jins serta sepatu kets, dia memakai tas ransel disalah satu tangannya ada sebuah buku tebal. Aku hanya menduga itu mungkin mahasiswa, aku membayangkan nanti pun aku menjadi seperti itu.

Aku rasa gregetan ingin bertanya padanya tentang menjadi mahasiswa. Dari pada diem-dieman mending ku ajak ngobrol aja kali ya lagian masih lama busnya.

“Masnya mahasiswa ya?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Ouh iya. Kenapa dek?” Jawab dia dengan sopan juga.
“Nggak apa sih cuma tanya aja. Kayaknya seru aja jadi mahasiswa.” Aku menimpali dengan alakadarnya saja memancing obrolan agar lebih panjang.
“Ouh calon mahasiswa ya adek?” Tanya dia lagi, sepertinya dia antusias untuk melanjutkan obrolan ini.
“iya kak.”  Jawab ku singkat tetapi aku langsung menambahkan lagi. “Tapi aku juga belum daftar, ini rencananya mau muter-muter terus sekalian daftar.”
“Aslinya mana dek?”
“Purwokerto mas.”
“Hayoo pasti pilih kuliah di Jogja pasti ingin jauh dari rumah ya?”

Jleb…sebuah pertanyaan yang menohok ke relung hati. Kenapa juga masnya bisa langsung tahu gitu. Apa ini orang punya indra ke enam kali ya, hebat juga bisa baca pikiran orang. Aku belum sempat jawab mas di sebelah ku udah nyerocos lagi.

“Saya juga dulu berfikir seperti itu. Udah lulus SMA pengin lanjutin kuliah di luar kota yang jauh biar bisa bebas. Tetapi sekarang baru tau betapa enaknya tinggal di rumah. Nggak ada tempat senyaman rumah.” Mas mahasiswa ini malah curhat sendiri. Belum sempat untuk menanggapi ceritanya dia malah melanjutkan ceritanya. “Jadi anak kost itu susah hidup pas-pasan kecuali kalau kita punya penghasilan lain atau anak orang tajir. Kita mesti pandai mengatur keuangan buat makan lah, transport, atau yang lainnya belum lagi biaya praktek kuliah atau tiba-tiba pengeluaran tak terduga.

“Ouh gitu ya mas.” Aku menanggapi seadanya saja memang karena nggak tau harus komentar apa.

Oke dalam benak ku harus ditambahkan lagi jadi rantau ada nggak enaknya apa lagi kalau lagi kehabisan duit. Perlu ada persiapan khusus nih pelajaran akutansi di berdayakan lagi bisa buat pembukuan pemasukan dan pengeluaran jadi kan terkontrol. Itu terlalu berlebihan melakukan seperti itu.

“Pokoknya enak di rumah dech kita mau makan tinggal makan. Jadi anak kost mau makan aja perlu keluar dulu. Makan di warung keluarin duit lagi dech. Belum lagi kalo harga makan naik tambah pusing lagi, apalagi akhir bulan keuangan udah menipis bingung makan apa.” Nada orang ini semakin memelas.

Kayaknya perlu bawa beras sekarung buat jaga-jaga kelaparan atau mie instan satu karton buat cadangan akhir bulan kalau uang bulanan sudah kritis. Perlu persiapan apa lagi ya? jalan satu-satunya adalah minta lagi dech sama orang tua tapi itu adalah senjata terakhir. Koq aku dari sekarang malah pusing mikirin keuangan ya, Keterima di kampus mana juga belum.

“Terus mas menanggulanginya gimana?” Aku bertanya untuk mendapatkan trik penghematan uang makan.
“Biasanya sih berburu teman yang sedang ulang tahun kita merayu untuk mentraktir. Terus deketin temen yang asli Jogja dia kan tinggal di rumah, kita bisa nebeng makan di rumahnya dia. Kalau saya untung punya temen kost yang kompak kita sering masak bareng bikin mie atau apa ajalah nah beli bahannya patungan. Satu lagi kalau ini harus tahan malu karena kita nebeng makan di acara kondangan orang yang nggak kita kenal. Hahahaha”Di akhir kalimat mas mahasiswa ini malah tekekeh karena perbuatan kekonyolannya sendiri. “eh bisnya dateng lanjutin di dalem aja yuk.

Aku membuntuti dia masuk ke dalam bus. Kali ini tidak perlu berdesakan karena hanya sedikit penumpang yang masuk ke dalam bus. Di dalam bus pun kosong penumpang tapi tetap saja aku tidak bisa bebas memilih tempat duduk karena aku ingin medengarkan lanjutan cerita dari mas mahasiswa yang belum ketahui namanya. Rupanya dia memilih duduk di kursi paling belakang yang menghadap ke depan. Aku sendiri duduk disebelahnya, tas ransel yang besar ku pangku agar aku bisa duduk bersender.

“Nah itu mas, aku pengin kost karena biar bisa bersosialisasi. Sapa tau dengan kost kan bisa ngobrol atau jalan bareng sama temen kost tuh.” Akhirnya aku mengutarakan niat ku untuk kost.
“Hhmmmm, nggak semua kostan bisa seperti itu tergantung orang-orangnya aja sih. Banyak juga kostan yang penghuninya sangat individual mereka hanya kenal nama tetapi nggak pernah ngumpul bareng atau jalan bareng. Biasanya yang kayak gitu kostan elit atau kostan para pekerja.”

Aduh, kalau gitu harus pinter-pinter cari kost ya biar dapet kost yang nyaman dan temen-temennya bersahabat bisa kompakan gitu. Nggak bangetkan dapet kostan yang penghuninya individual gitu, nah loh kalo sakit minta tolong siapa kalau sesama penghuni kost nggak kenal. Tetapi tergantung kita juga dink, kalau pandai bergaul pasti dapet temen yang baik mau bantuin.

“Pokoknya enak tinggal di rumah lah, di rumah itu kita bisa di jagain sama ortu.  Walau kita serinng sebel dengan peraturan ortu yang bawel ini itu tetapi kalau di cermati maksudya baik loh. Coba kalau di rantau kita sering kebablasan belum lagi kalau salah pergaulan tambah runyam.” Mas mahasiswa kembali menambahkan betapa enaknya kalau tinggal di rumah dari pada di perantauan.

“Berarti tergantung diri kita sendiri donk untuk mengontrol perilaku kita.” Aku menarik sebuah kesimpulan dari pembicaraan yang sedang berlangsung.
“Bener banget, kita harus pandai cari temen. Kita boleh saja banyak bergaul tetapi tetep harus waspada pada pergaulan dan teman. Kalau bisa cari teman yang bisa memberikan dampak positif. Teman bisa menjadi pengaruh besar dalam dunia perantauan. Kita nggak waspada bisa terjerumus.”

Ribet juga ya jadi anak rantau kalau gitu. Semuanya sendiri dari makan, cuci baju, ngatur keuangan belum lagi pergaulan. Ich jadi serem jika nantinya jadi begundal bukannya serius belajar eh malah jadi serius main-main bisa madesu (mas depan suram) nich. Pokoknya aku harus bertekat untuk menjaga pergaulan. Kayaknya perlu berguru sama mas ini supaya di perantauan tetap pada jalan yang lurus nggak belok-belok.

Selama obrolan dari tadi aku melihat mahasiswa yang ku ajak obrol ini salah satu anak baik-baik. Aku nggak melihat tampang begundal. Lihat saja penampilannya rapih kayak gitu, bajunya bersih sepatu ketsnya tampak terawat dan wangi. Belum lagi dia bawa buku tebal seperti itu pasti dia rajin belajar dan serius untuk kuliah. Dia juga sopan sama orang, ah kalau itu mah sudah adatnya orang sini kali ya emang harus sopan. Perlu di contoh kayak gini.

“Nama mas siapa?” Setelah banyak ngobrol kesana kemari malah baru sekarang aku menanyakan nama.
“Oh ya lupa dari tadi kita belum kenalan nama. Saya Haris aslinya Palembang. Kalau kamu?”
“Aku Teo, dari Purwokerto.” Kita saling bersalaman tanda formalitas untuk berkenalan. “Mas kuliah dimana?  Ambil jurusan apa?” Serentetan pertanyaan muncul dari bibirku.
“Saya kuliah di UKDW ambil jurusan Biologi. Rencananya kamu mau ambil jurusan apa?”

Aku tidak langsung menjawabnya karena aku sendiri masih bingung ambil jurusan apa. Aku di SMA jurusan IPS pasti di tempat kuliah makin sendikit jurusan yang bisa di ambil. Dan ku pilih sekarang juga masih ada keraguan.

“Hhmm, orang tua sih nyuruh aku ambil psikologi.” Aku menjawab dengan ragu.
“Kalau pilihan kamu sendiri apa?” Tanya dia antusias sekaligus penasaran.
“Aku sih maunya sejarah atau antropologi.”  Kata ku masih dalam keraguan.
“Saran saya sih ikuti kata hati.” Hans sangat bijak menanggapi permasalahan ku.
“Kata hati ku sih ya ambil sejarah lah, sejarah itu dunia ku.” Aku menimpali dengan berapi-api.
“Ambil lah jurusan itu.”
“Tapi kan nggak boleh sama orang tua.” Aku bersedih karena pilihan ku ditentang sama orang tua.
“Yang kuliah itu kamu bukan orang tua kamu juga kan. Jadi yang merasakan nikmatnya kuliah itu kamu sendiri. Banyak juga teman saya merasa salah jurusan akhirnya mereka jadi malas-masalan kuliah karena nggak menikmati ada yang karena awalnya disuruh orang tua ada pula yang kerna hanya ikutan teman. Jadi saran saya ikuti kata hati.” Hans semakin terlihat bijak degan tutur kata lembut namun tegas.

Aku kembali berfikir untuk meninjau ulang pada pemilihan jurusan psikologi emang sing punya prospek besar tetapi bagaimana kalau aku tidak menikmati pekuliahannya pasti akan terbengkalai juga kan kalau aku jadi males. Kita akan menjadi semangat kerana kemauan kita terhadap ilmu yang dipelajari. Ah lagian sejarahwan juga masih sedikit pasti prospeknya banyak juga toh. Pertama aku aku harus memberikan pengertian ke orang tua bahwa aku mau kuliah kalau jurusan sejarah atau antropologi. Bener juga mereka nggak bisa memaksa kehendaknya sendiri walau mereka yang membayar kuliah tapi inilah jalan hidup ku, nantinya juga kan buat masa depan ku sendiri.

Sekarang bus Trans Jogja sedang menyusuri jalan Mangkubumi artinya sudah masuk pusat Kota Jogja. Lampu jalan yang terang menghiasi jalanan yang lengang, banyak pengendara motor yang memilih berteduh di emperan toko yang sudah tutup. Saat ini masih saja hujan mengguyur Kota Jogja. Tujuan masih jauh di jalan Veteran.  Dari obrolan dengan Mas Hans dapat kesimpulan meraih cita-cita itu harus dari sendiri dan bukan orang lain yang mengontrol orang lain. Gemerlapnnya kota besar harus diwaspadai jangan sampai kita terlena oleh hiburan yang mengiringi kota ini. Hidup diperantauan juga harus cermat dalam mengatur keuangan dan pergaulan belum lagi permasalahan di dunia kampus. Ah ternyata lebih complicated dari pada yang ku bayangkan. Tetapi hidup ini adalah pilihan, dan aku ingin terus maju meraih cita-cita aku.

Terderngar suara handphone aku pikir itu punya ku tetapi ternyata punya Mas Hans. Mas Hans segera merogoh saku celananya untuk mengambil handphone, lalu langsung di angkatnya. Tanpa sengaja aku medengar ucapan Mas Hans.

“Halo, Oh elu Can. Gue masih di Trans Jogja nih. Kenapa?” Hans diam sesaat karena mendengarkan lawan bicaranya. “Ouh gitu pastinya donk gue ikutan partynya nanti di Bosche, pasti seru donk DJnya gokil. Gue berangkat sama anak-anak dari Kafe Mirota. Lu ikutan gabung aja sini.” Hans kembali diam memberi kesempatan orang dibalik telpon itu berbicara. “ Ya udah deh nanti kita ketemu di sana aja, see you.”

Hati ku mencelos aku pikir Mas Hans ini mahasiswa baik-baik. Mungkin inilah mahasiswa yang baik dalam berkamuflase. Dari luar tampang mahasiswa rajin dan tidak suka pesta ternyata di kehdipuan lainnya dia sebagai party goers. Ah ada-ada saja.






Trans Jakarta.

Saat ini aku berada di Ibu Kota Indonesia yaitu Jakarta. Setelah menamatkan kuliah jurusan Antropologi aku mengadu nasib di Jakarta. Disini 40% perederan uang Indonesia, dan aku berharap mendapatkan pundi itu untuk masa depan. Aku cukup bangga bisa bekerja disalah satu gedung elite Jalan Sudirman, pusat dari kehidupan keuangan Indonesia karena banyak perusahaan multi nasional dan internasional yang berkantor disini.

Malam ini sebelum pulang ke kost di daerah Gajah Mada aku makan dulu di Plaza Semanggi. Kebetulan ada teman yang sedang ulang tahun dan mentraktir makan, apasalahnya juga ikutan gabung lumayan dapat makan malam gratis. Aku disini tidak memakai kendaraan pribadi karena malas harus ikutan terjebak pada arus macet. Aku lebih suka menggunakan angkutan umum khususnya Trans Jakarta, yang mempunyai jalur sendiri jadi lumayan lancar walau terkadang ikutan kejebak macet karena ulah para pengendara kendaraan pribadi yang seenaknya menyerobot jalur Trans Jakarta.

Aku berjalan menyusuri trotoar menuju halte Bendungan Hilir yang berada di depan Universitas Atma Jaya. Di trotoar ini sebagian penduduk  Jakarta mengadu nasib menjadi pedagang kaki lima. Sebenarnya sangat menyebalkan karena mengganggu pejalan kaki tetapi kadang dibutuhkan juga kala kita haus mereka menyediakan minuman botol kemasan. Nggak bermasalah  juga selama masih menyediakan lahan untuk pejalan kaki. Pedagang kaki lima ini semakin banyak di jembatan penyebrangan yang mereka jajakan juga beraneka ragam mulai dari aksoris handphone sampai perkakas alat rumah tangga. Yang ini sebenernya mengganggu karena pejalan kaki jadi sangat terganggu sebagian besar tempat untuk area lapak mereka.

Dari jembatan penyebrangan terliahat dengan jelas antrian di loket masuk halte. Ini memang jam pulang kerja jadi wajar saja antriannya mengular panjang belum lagi di halte pasti suda berjubel orang menunggu kedatangan Trans Jakarta. Sudah menjadi keseharian penduduk Jakarta yang siap sedia bertarung memperubutkan tempat nggak melulu di Trans Jakarta tetapi di kehidupan lain juga berebut memperoleh pekerjaan, yang sudah bekerja berebut memperoleh jabatan penting dan seterusnya. Bahkan ada pula yang sampai berebut tempat buka lapak di jembatan penyebrangan. Semuanya itu demi mengisi perut agar terus hidup. Sebegitu beratnya kah perebutan di Jakarta?

Dalam otak ku mereka semua hanya mengisi peluang-peluang yang tersedia. Tidak perlu membutuhkan kepintaran yang ber-IQ super untuk medapatkan itu. Tidak perlu juga bersekolah dengan nilai fantastis. Lalu apa yang dibutuhkannya? Kecerdikan dan keberuntungan. Kita memang harus cerdik mencari peluang dengan memutar otak mencari peluang tersebut dengan inovasi atau menciptkan hal baru. Keberuntunganlah selanjutnya sesuatu yang tidak terduga itu bukan datang dari sendiri tetapi campur tangan Tuhan juga.

Akhirnya aku sampai pada antrian yang cukup panjang. Tahap kesabaran awal untuk menunggu. Seperti halnya menuggu pekerjaan datang. Kita sudah berusaha mengirim lamaran ke berbagai tempat tetapi tidak kunjung datang panggilan tersebut. Dan pada akhirnya apakah kita akan terus menunggu pada jalur yang sama atau berpindah jalur, pada akal yang tidak sehat akan pindah jalur dengan cara curang yaitu menyerobot atau bisa saja dengan menyogok.

Tetapi kita masih punya pilihan lain kita bisa pindah halte untuk tapi belum tentu peluangnya dihalte lain lebih besar, semuanya random dan hanya menebak syukur kalau kosong nah loh kalau lebih penuh sama aja bohong malah peluangnya lebih tipis untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Ada cara ekstrim lagi yaitu banting setir kita tidak perlu mengantri di loket tetapi kita bisa langsung naik yaitu dengan naik metromini atau kopaja atau yang lainnya. Kita hanya perlu menunggu saja kedatangan angkutan tersebut. Tetapi setelah naik kita masih perlu berjuang dengan berjubelan belum lagi banyak copet dan tidak ada aturan untuk berlalu lintas. Jika disamakan dengan pekerjaan. Kita akan mendapatkan dengan mudah dan cepat tetapi banyak hantaman berbagai macam rupa meskipun itu berbahaya untuk diri kita sendiri. Belum lagi kejadian tidak teduga kita bisa saja dalam sekejap harta hilang oleh para copet. Mereka kasat mata tetapi mematikan.

Aku sendirri hanya pasrah dalam antrian ini dan sabar. Pada waktunya juga akan sampai kalau sabar dan sudah pasti antriannya terus bergerak. Aku melihat wajah orang-orang yang sedang mengantri begitu datar tanpa ekspresi. Terpancar kebosanan di mukanya. Apa mungkin ekspresi itu melekat di wajah ku? Aku tidak ada bedanya dengan mereka.

Bagaimana tidak bosan kalau setiap hari melakukan rutinitas yang sama dan seperti itu saja, dari yang berbulan-bulan sampai yang bertahun-tahun. rutinitas itu bangun pagi mempersiapkan pergulatan dunia kerja yang keras. Berdesakan di jalanan menuju tempat kerja, pagi-pagi sudah menjadi gila menghadapi kemacetan parah. Siang harinnya bergumul dengan kertas pekerjaan yang semakin membuat stress membuat laporan. Kita hanya istirahat sejenak untuk memulihkan stamina pada jam makan siang. Tapi apa mental kita ikut pulih? Belum tentu. Malamnya yah seperti saat ini juga. Pulang dari tempat kerja dengan kelelahan. Sudah tidak ada lagi waktu untuk bersosialisasi. Pada akhirnya kita adalah sebuah robot melakukan hal sama terus menerus.

Aku terbebas antrian loket tetapi masih menunggu kedatangan bus, dan sekali lagi aku juga mengantri agar lebih tertib waktu masuk bus. Memang semuanya harus perlu antri untuk lebih teratur tidak perlu saling serobot karena pada akhirnya kita akan mendapat bagian. Kita bisa belajar saling menghormati kita disini mempunyai kepentingan yang sama menaiki transportasi yang sama pula untuk mencapai sebuah tujuan.

Lihat saja aku terjebak pada manusia-manusia individualis mereka sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada senyum ke sesama manusia di sebelah atau atau sekitarnya. Mungkin bisa dianggap gila bila tersenyum kepada orang yang tidak dikenalnya. Itulah salah satu karakter individualis. Mata mereka tertuju pada satu layar kecil berkuuran 3 inci, ya mereka sibuk dengan smartphone yang ada di genggaman tangannya.

Bermacam mimic yang terbingkai di wajah mereka kadang mereka tertawa sendiri, marah, atau bahkan menangis. Apakah mereka sudah gila? Sama saja halnya dianggap gila kala kita tersenyum pada orang yang tidak dikenalnya. Semua orang punya dunianya sendiri disini, jadi antara orang waras dan yang tidak waras menjadi abu-abu.

Kita menjadi orang individual karena sudah tidak ada waktu lagi untuk mementingkan orang lain, bahkan keluarga sendiri. Kita hidup untuk diri sendiri disini, setiap hari sudah dipusingkan oleh pekerjaan. Selesai bekerja rasanya ingin cepat-cepat sampai rumah lalu tidur dan setiap hari pun sama seperti itu.
Waktu bersosialisasi kita hanya waktu jam pulang kerja itu pun dilakukan di kendaraan umum. Bukan bercakap-cakap pada orang yang kita temui tetapi bercengkrama dengan orang yang sedang entah ada dimana, menggunakan smartphone beragam fasilitias pesan singkat yang instan. Sembari menunggu kedatangan Trans Jakarta kita membunuh kebosanan dengan bersosialisasi instan. Karena kewarasan ini sudah pudar terjadilah emsional yang berlebihan menangis, menertawakan, memarahi kotak kecil tersebut. Gila!!!

Bus Trans Jakarta sudah terlihat, dan petugas halte juga sedang memberikan pengumuman bahwa Trans Jakarta jurusan Kota akan segera datang. Orang-orang secara kompak memasukan smartphone ke dalam tas atau saku celana. Antrian kembali menjadi rapih sudah siap untuk perebutan bisa masuk ke dalam bus. Aku sendiri memilih antrian pintu masuk belakang bus karena yang depan khusus untuk wanita atau wanita jadi-jadian. Pintu tengah dan belakang untuk umum.

Begitu bus sudah sampai halte ketiga pintunya berbarengan terubuka. Calon penumpang tidak langsung masuk karena memberikan kesempatan pada orang yang turun dari bus terlebih dahulu. Begitu orang yang sudah turun semua barulah orang-orang merangsek masuk. bus yang tadinya sudah penuh bertambah berjubel dengan penumpang baru. Jadi sudah dipastikan tidak ada lagi tempat duduk yang kosong.

Mau tak mau aku berdiri pasrah lagi pada keadaan. Untung tak berapa lama aku berdiri karena ada penumpang yang turun di halte Karet. Dengan sigap dan cekatan begitu orang itu berdiri meninggalkan kursinya aku langsung menggantikannya. Akhirnya dapat tempat duduk yang empuk juga. Kadang dari pertama masuk sampai keluar bus aku terus berdiri karena kalah dalam perebutan menduduki singgasana. Dalam pekerjaan juga tidak jauh beda berbagai cara untuk memperoleh kedudukan bisa saling sikut yang di sebelahnya atau dengan sabar menunggu giliran.

Begitu sudah mapan dan nyaman. Aku mengeluarkan buku Negarakertagama. Baru berapa baris tiba-tiba disamping ku ada yang mengomentari, dia seorang lelaki tampaknya seumuran dengan ku. Ternyata masih ada makhluk sosial di bus ini, mau bercengkrama dengan orang yang nggak di kenalnya.
“Wih bacaanya kayak professor sejarah.”  Kata dia sambil menengok sampul buku dengan memajukan kepalanya.
Aku memangkat buku ini. tersembul kepala dia di hadapan ku. “Buat pengingat jaman kuliah dulu.”
“Ouh dulu ambil sejarah ya? Terus sekarang kerjanya apa?” Rupanya dia antusias untuk KEPO.
“Iya dulu ambil sejarah. Sekarang jadi editor.” Jawab ku singkat menandakan aku malas untuk obrolan lebih lanjut.
Dia kembali menegakan tubuhnya namun kepala masih memalingkan kepada ku, sepertinya dia ingin melanjutkan obrolan lagi. “Wah sayang banget tuh udah kuliah capek-capek kerjaan nggak sesuai sama jurusnnya.”

Deg  aku jadi teringat beberapa tahun lalu. Ketika perdebatan degan orang tua. Ayah menghendaki aku untuk masuk jurusan psikologi sedangkan ibu menyuruhku ambil jurusan Ekonomi. Aku ngotot ingin mempelajari ilmu sejarah. Akhirnya aku menang, bisa belajar ilmbu sejarah sekaligus menjadi lulusan terbaik. Tetapi angan-angan ku menjadi sejarahwan makin menjauh karena tidak lowongan kerja untuk penuntut ilmu sejarah. Jadi aku bekerja untuk sesuap nasi dan kebutuhan lainnya.
“Iya sih sayang, tapi mau gimana lagi adanya kerjaan ini. Semoga sih nggak selamanya dan segera dapat pekerjaan yang sesuai dengan ilmu ku.” AKu menanggapi celotehan dia yang menusuk hati, sekalian menghibur diri sendiri.
“Nyesel nggak sih mas ambil jurusan itu?” Pertanyaan dia sederhana tetapi semakin menohok.
“Nggak lah, lah wong waktu kuliah aku happy koq. Lagian dengan ambil jurusan ini aku jadi semakin bangga menjadi orang Indonesia. Lalu sekarang aku juga enjoy dengan kerjaan ku.” Aku menjawab dengan sedikit gusar.
“Sebenarnya aku juga sama kayak mas. Kuliah jurusan apa kerjanya bidangnya jauh banget.” Dia malah curhat sendiri. “Kadang nyesel sih kenapa dulu nurut sama orang tua ambil jurusan Hukum. Padahal aku pengin Ekonomi.”
“Toh sekarang mas kerja di bidang ekonomi kan? Harusnya seneng donk.” Kata ku ketus.
“Iya sih seneng tetapi aku bisa naik jabatan karena kendala ilmu dan ijazah.” Ada nada kesedihan dibalik ucapannya.
“Nikmati saja lah mas. Sekarang udah berasa cukup kan?” Aku mencoba menghibur dia.
Sekilas senyumnya mengembang dibalik tubuh yang lelah setelah berkutat dengan pekerjaan. Tampaknya dia seorang yang haus akan sosialisasi. Gerak gerinya ingin melanjutkan suatu obrolan lain. Aku yang tadinya males-malesan menanggapi sekarang ikut antusias karena aku sendiri sudah lama tidak mengobrol dengan seseorang diluar pekerjaan.

“Asli Jakarta mas?” Tanya ku megganti topik awal pembicaraan.
“Bukan, gue pendatang koq. Aslinya pedalaman Kalimantan. Kalo loe sendiri?” Jawab dia semagat. Hubungan ini semakin menghangat dia sudah menunjukan sebagai “orang Jakarta” dengan perkataan loe dan gue.
“Pendatang juga, Asli Jateng. Kenapa nggak balik ke Kalimantan aja?” Tanya ku menelisik.
“Balik lagi ke sana artinya gue jadi orang pedalaman lagi. Meski gue tinggal di kota Kabupaten tapi tetep aja di keliling hutan. Enakan di sini,hehehhe”
“Ouh gitu, udah betah ya disini berarti?”
“Iyalah, gue disini udah lama juga. Ogah balik lagi.” Dia menyeringai, aku sendiri nggak mengerti maksud dari seringai itu.

Ternyata Jakarta yang kejam ini masih ada orang yang betah, bukan satu orang saja tapi jutaan. Padahal sebagian mereka hidup tidak layak. Jakarta memang memikat tubuh  para  pendatang hingga enggan kembali ke asalnya untuk membangun daerah. Atau pembangunan ini tidak merata sehingga lapangan kerja hanya tersedia di kota besar, khususnya Jakarta. Aku jadi penasaran kena dia betah tinggal di Jakarta.

“Kenapa betah disini mas? Padahal macet.”
“Disini cari duit gampang, banyak peluang. Gajinya gede dan apa-apa murah. Dibading sama daerah gue cari duit susah udah gitu mahalnya selangit belum lagi kadang ada yang pake Ringgit.” Ada suatu kegetiran di suaranya. “Loe sendiri betah nggak?”

Aku bingung untuk menjawabnya. “Nggak tau ya, aku baru disini juga sih.” Jawab ku jujur.
“Meskipun baru tapikan loe udah bisa ngerasain juga kan tingal di sini?” Dia terus mendesak ku.
“Iya sih. Kalau sekarang ya belum ngerasa betah juga. Gila macetnya bikin stress, belum lagi tempat ku tinggal rasanya nggak bisa gerak bebas. Belum lagi banjir bisa jadi waterpark raksasa.” Aku menumpahkan tetek bengek masalah yang hampir semua dialami penduduk kota ini.
“Ah itu mah biasa aja, lama-lama loe juga terbiasa koq. Tapi loe sendiri suka kan tinggal disini?”

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan dia, karena aku belum menemukan alasan yang tepat kenapa aku suka kota ini. Kota ini memang indah dengan seribu macam wajahnya. Gedung pencakar langit di kawasan Sudirman-Tamrin megah menandakan betapa makmurnya kota ini. tetapi coba tengok di balik gedung itu. Ternyata itu hanyalah sebuah kamuflase masih banyak rakyat jelata yang belum sejahtera.

“Gue suka kota ini karena megah, semuanya ada, kota paling lengkap seindonesia, orangnya juga asik-asik nggak rese kecuali FPI ya.” Dia menjabarkan semua alasan kenapa suka dengan Jakarta. “Oh ya loe tinggal dimana?”
“Di Gajah Mada situ.”
“Wi sama donk, sebelah mananya?”
“Deket sama halte Mangga Besar.”
“Ouh, gue Sawah Besar. Boleh minta pin loe gak?”

Aku kasih sederan nomer pin Blackberry yang kupunya. Nggak ada salahnya juga kan kasih nomer siapa tahu emang bisa buat jadi temen apalagi kostnya dia juga dekat dengan ku. Mendapatkan teman yang benar-benar baik susah. Lebih gampang lagi mendapatkan teman yang brengsek. Dan anggap saja tidak ada kawan disini karena semua punya peluang jahat.

“Eh gue udah mau sampe nih, kapan-kapan hangout bareng ya. thanks.” Dia berpamitan dan meninggalkan tempat duduknya berjalan menuju pintu keluar.


Aku hanya mengangguk. Dan membiarakan dia pergi begitu saja. Syukur kalau dia memang beneran ngajak jalan bareng. Tetapi aku juga nggak berharap apa-apa. Halte Sawah Besar sudah dilewati halte berikutnya aku harus turun.

Wednesday, 28 August 2013

Cerbung Chapter 4: Dia, Kejutan (Part 11)

Aku terbangun karena medengar suara mencurigakan, mata ku berkeliaran ke berbagai sudut kamar seperti halnya kamera CCTV.  Ternyata tidak ada apa-apa mungkin itu halusinasiku. Lebih baik melanjutkan tidur lagi saja. Sebelum ku pejamkan mata ternyata sudah jam 6 pagi tetapi langit masih gelap saja. Hawa dinggin juga menggigit kulit. “andai ada dia pasti terasa hangat bila dipeluk,” aku hanya menggumam harapan hampa.

MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Thursday, 22 August 2013

Cerpen : Reuni

Matahari baru saja terbenam. Bu Alya  masih saja sibuk membereskan rumah, padahal masih terhitung rapih karena dia tinggal hanya berdua dengan anak bungsunya yaitu Gio. Sebentar lagi teman-temannya Gio akan berdatangan. Sekarang adalah hari istimewa untuk Gio, tentunya Bu Alya akan memberikan yang terbaik untk anaknya.

Setelah berkliling rumah memastikan semunya telah rapih Bu Alya masuk ke kamar Gio yang berada di samping ruang keluarga. Bu Alya masih mendapati Gio berbaring dikasur yang dibalut sprei putih bersih. Kamarnya rapih banget untuk ukuran kamar cowok. Cat warna biru menyelubungi tembok kamar. Di samping ranjang ada dua kursi.

“Gio….bangun, bentar lagi teman-teman mu dateng.” Bu Alya membangunkan Gio dengan sentuhan lembut di pipinya. Namun Gio masih memejamkan matanya.
“Gio siap-siap ya pake baju yang keren, rambutnya di rapiin.” Ucap Bu Alya sambil berdiri memandang Gio yang berbaring di kasur.
“Gio betah amat tidur, pokoknya nanti kalo temen Gio dateng harus bangun ya.” Bu Alya masih berusaha membujuk anaknya untuk bangun. Tapi Gio tetap bergeming.

Bu Alya menghela nafas lalu keluar dari kamar. Gio sendiri masih tertidur pulas. Bu Alya sangat sayang pada anaknya, tidak mau membangunkan secara paksa. Bu Alya membiarkan anaknya untuk terbangun sendiri secara suka rela. Gio sendiri paling sebel kalau tidurnya terganggu dan pasti marah-marah tetapi itu dulu. Sekarang Gio masih saja tertidur.

Di ruang makan Bu Alya menyiapkan piring dan lauk pauk untuk santap makan malam teman-teman Gio. Mungkin ada sekitar 10 orang  yang akan datang.  Mereka semuanya adalah sahabat Gio waktu di Jogja.  Tidak semunya juga teman kuliah ada yang tema bermain. Sudah sekitar 9 tahun mereka bersahabat dari dulu sampai sekarang masih dekat. Bisa jadi ini adalah persahabat sejati antara Gio dengan temannya.

Baru saja Bu Alya duduk di sofa depan tv terdengar suara bel tanda ada tamu berbunyi. Bu Alya langsung ke ruang tamu. sebelum membuka pintu melongok dulu di jendela melihat siapa tamu yang datang. Di balik pintu tersebut ada dua perempuan satu anak kecil dan dua pria. Diperkirakan usia mereka sama dengan Gio.

Bu Alya membuka pintu untuk menyambut kedatangan mereka.
“Teman-temannya Gio ya?” Bu Alya menebak untuk memastikan karena dirinya belum pernah bertemu dengan mereka.
“Iya bu, kita temen Gio,” kata cewek berjilbab pink baju gaul ala hijabers.  “Nama saya Dia, ini ada Nin.” Dia bersalaman pada Bu Alya. Setelah itu dilanjutkan Nin yang bersalaman. “Ini ada Mas Tri suami Nin dan ini Wahyu temen deket saya.” Dia menunjuk kearah cowok di samping Nin sebagai Tri lalu menengok pria yang ada disebelahnya sebagai Wahyu.

Wajah sumringah terpancar dari wajah Bu Alya karena teman Gio sudah mulai berdatangan. Ada satu rombongan lagi datang dari belakang yang akan segera muncul. Para rombongan yang sudah datang menengok ke belakang. Ada satu wanita yang menggendong anaknya di ikuti 3 pria.

“Oh itu Purbo sama Mas Wahyu suaminya, yang dua lagi Aga sama Yudi.” Dia menambahkan nama orang yang baru pada dateng. Mereka juga segera bersalaman dengan Bu Alya.

Setelah bersalaman Bu Alya mengajak para rombongan masuk ke dalam. “Ayo masuk jangan dipintu saja. Langsung saja ke kamarnya Gio. Dari tadi Gio sudah nunggu tuh.” Bu Alya memimpin rombongan menuju kamar Gio.

“Hai Gio…..ini loh Tia ponakan mu dari Batam dateng.”  Kata Purbo seraya melambaikan tangan Tia yang dipegannya.
“Gio ganteng….” Sapa Dia. “Ini aku bawa calon suami, Alhamdulilah udah dapet restu dari Umi.”
“Cin….aku juga dateng bawa Ifah, udah gede loh.” Nin mendekat ke arah Gio sambil menggiring anaknya yang berumur 7 tahun. “Ifah juga sering tanyain kapan om Gio maen ke Lombok lagi.”
“Gio,” Aga dan Yudi melambaikan tangan pada Gio.

Gio tidak menghiraukan kedatangan mereka. Masih saja Gio berbaring di kasurnya, tidur dengan pulas dan tidak ada tanda menunjukan akan bangun. Matanya terpejam dalam damai. Hari ini tepat satu tahun Gio tertidur koma setelah kecelakaan yang menimpanya. Ada kerusakan di otak kecil, hanya keajaiban yang bisa membangkitkannya lagi.

“Gio apakabar?” Tanya Nin, “kita tuh kangen banget sama kamu. Cepet bangun ya.”
“Oh ya tampan, katanya kamu pengen liat calon ku? ini loh aku udah bawain khusus buat kamu. Bulan depan kita merit tapi di Jakarta” Dia lebih sering memanggil Gio dengan sebutan tampan.
“Gio kapan kita jalan tengah malem lagi? Dulu kita kan sering kelaparan tengah malem terus kita ke burjo. Oh ya aku sekarang udah pindah ke Balikpapan” Kata Aga sambil menggenggam tangan Gio yang hangat.
“Ada salam dari Wid sama Arya. Wid gak bisa dateng soalnya abis melahirkan. Anaknya lucu banget loh kayak bapaknya. Kalo Arya nggak bisa dateng katanya sih ya lagi lamaran. Entah dilamar sama cowok yang mana,hahahaha” Nin meberikan informasi sambil bercanda.
“What Arya mau nikah?” Yudi langsung kaget mendengar informasi itu. sebenenya yang lain juga ikut kaget teapi Yudi yang punya reaksi lebih cepat. “Jadi merit sama penyanyi dangdut itu?”
“Nggak tau juga sih ya yang mana.” Nin menaikankan bahu.
“Ada yang cemburu nih,hahahha.” Timpal Purbo sambil melirik Dia. Semuanya juga langsung tertawa.

Muka Dia langsung memerah karena malu. “Yang jangan cemburu loh ya. Itu cerita masa lalu. Dulu khilaf, ampun dech. Lagian diakan cowok yang suka cowok.” Dia membela diri dihadapan calon suaminya.
“Begini loh ceritanya dulu waktu kuliah Nin sama Dia sempat suka sama Arya. Tapi untung nggak sampe jambak-jambakan untuk rebutan. Pada akhirnya mereka tau kalau Arya sudah punya pacar cowok.” Purbo menambahkan cerita masa lalu ke tiga sahabatnya.

Purbo, Nin, Dia dan Yudi adalah sahabat Gio kuliah waktu sama-sama belajar Ilmu Komunikasi di Jogja. Sedangkan Yudi dengan Aga mereka sahabatan sejak SMA di Jogja. Gio juga mengenal Aga sejak SMA perkenalannya waktu itu ada lomba teater nasional. Pas Gio kuliah di Jogja jadilah persahabatan dengan Aga semakin dekat. Bisa dikatakan Aga adalah sahabat terdekat dari Gio selama diperantauan.

“Dulu tuh ya Gio yang sering nemenin aku facial di mall berjam-jam mana ada pacar ku mau gitu.” Nin mulai menceritakan kenangan dulu sambil melirik suaminya. “Dia juga yang bantuin ngerjain skripsi ku sampai pol, berkat dia aku bisa wisuda nyusul kalian. Pernah semalam suntuk dia di rumah bantuin ngerjain skripsi.”





@@@

Waktu itu Gio baru saja sampai di kostnya daerah Kusumanegara di Jogja. Rasa lelah menghampiri sekujur tubuhnya. Untuk mandi pun males banget untuk bangkit dan berjalan ke kamar mandi yang ada Gio terkapar dikasurnya melepas rasa capek sembari ditemani lagu-lagu Mandarin. Hari ini adalah deadline jadi seharian di kantor menyelesaikan artikel dan memang harus standby barangkali ada liputan dadakan.

Terdengar ada suara dari handphonenya tanda ada telpon masuk. terpaksa Gio bangkit dari tempat duduknya mengambil handphone yang ada ditasnya. Di layar terlihat tulisan Nin, tandanya Nin yang telpon padannya.

“Moshi moshi.” Gio menjawab telpon dari Nin dengan menggunakan bahasa Jepang. “Lagi nyante aja. Kenapa Nin?” Gio bertanya maksud Nin tumben telpon jam segini. Biasannya kan jam segini Nin sedang asik main sama anaknya. “Ouh gitu…..ya udah setengah jam lagi aku nyampe. Aku mau mandi dulu.”

Begitu selesai menutup telpon mau nggak mau Gio beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Tadi Nin telpon minta dibantuin skripsinya. Diantara sahabat yang lainnya hanya Nin yang belum lulus karena berapa waktu lalu terhambat mengandung dan melahirkan anaknya. Demi sahabat Gio melawan rasa lelahnya. Kasihan juga Nin repot dengan skripsi sekaligus mengurus anaknya yang baru lahir.

Gio meluncur ke rumah Nin yang jaraknya lumayan jauh karena rumah Nin ada di pinggiran Kota Jogja. Sekitar setengah jam baru nyampe rumah Nin. Pintu rumah sudah terbuka terlihat dari teras sudah banyak buku dan lembar fotokopian berserakan di lantai. Nin juga sedang menggendong buah hatinya, sedangkan Tri sedang nonton tv.

“Assalamualaikum Bun,” Gio mengetuk pintu dan memanggil Nin dengan sebutan Bun alias bunda, panggilan Ifah kepada Nin.
“Maap ya ngerepotin kamu lagi,hehehehe. Pusing banget nih sama skripsi padahal ya tinggal kesimpulan doank.” Nin menyambut kedatangan Gio dengan curhatan tentang skripsinya.

Langsung saja Gio masuk kedalam rumah dan memungut bendelan kertas yang terususun rapi, itulah skripisi yang membuat sebagian besar mahasiswa menjadi gila seketika. Gio membuka skripsi Nin di bab 4 yang memuat kesimpulan. Nin duduk disamping Gio ikutan serius.

“Aku nggak tau mau gimana lagi udah sering revisi tapi tetep aja dianggap salah.” Keluh Nin dengan nada memelas.
Gio tidak langsung menjawabnya karena masih baca apa yang telah di ketik sama Nin. “Gini loh Bun….. kesimpulan mu itu belum lengkap. Disini kamu cuma memaparkan hasilnya aja. Harus ditulis juga rumusan masalah dan metode penilitiannya juga.
“Ouh gitu ya.” Nin hanya manggut-manggut. “Oh ya di meja makan ada cap cay makan gih.” Nin juga mempersilahkan Gio makan. Kebetulan banget Gio belum makan malam.

Sembari Gio makan, Nin mengetik ulang skripsinya. Gio mau membantu Nin karena dirinya juga pernah merasakan hal yang sama ketika menyelesaikan skripsi. Betapa stresnya menghadapi dosen yang bawel, pusingnya merangkai kata ilmiah, belum lagi mengeluarkan banyak biaya. Tidak jarang ada mahasiswa terpaksa melewatkan wisuda karena tidak bisa menyelesaikan skripsi.

“Kenapa sih harus ada skripsi?” Tanya Nin dengan nada mengeluh, matanya masih memandang layar netbook yang ada di hadapannya.
“Ya itulah masterpiece-nya mahasiswa, bukti kita intelektual.” Jawab Gio sekenanya.
“Tapi buat pusing tau,” Nin malah tambah mengedumel.
“Sabar bun… kita semua juga udah pernah melewati. Keep smile donk biar hasilnya juga membahagiakan juga.” Gio berusaha memberi semangat biar Nin ngerjain skripsi dengan tenang. “Kamu masih mending Nin, dulu aku penelitiannya di Brebes sana, jadi kalo data kurang cocok balik lagi ke sana.”
Nin kembali berkutat dengan ketikan skripsinya dan Gio melanjutkan aktifitas menikmati cap cay. Gio jadi mengenang dulu waktu masih ngerjakan skripsi harus bolak balik ambil data. Belum lagi instansi yang buat di teliti ribet banget semakin menderita kala bimbingan banyak banget revisi. Ya begitulah namanya skripsi.

Semalam suntuk itu Gio menghabiskan waktu di rumah kontrakan Nin. Menenami Nin ngerjajain skripsi ya sekalian yang ngecek ketikan Nin juga sih. Perlu beberapa kali revisi tulisan dan pencocokan data dengan detail sampai dirasa sudah benar. Gio sendiri terpaksa menginap karena pulang lebih dari tengah malam sudah rawan rampok di daerah Ring Road.

@@@

“Paginya itu aku bimbingan, Alhamdulillah langsung di ACC n di suruh daftar pendadaran,” Nin menutup kisahnya.

Sebenarnya masih banya lagi cerita diantara Nin dan Gio yang temen lain belum diketahui tapi tidak enak saja Nin untuk memborong cerita. Nin mencoba menahan tangis antara sedih dan senang karena berkat sahabatnya bisa ikutan wisuda.

“Sebenernya paling seneng kalo di Gio bisa nemenin belanja.” Kata Purbo.
“Bener banget dia bisa jadi setan, ngerayu kita untuk beli banyak baju,” timpal Nin.
“Wid tuh yang sering jadi korban.” Dia ikut menambahkan.

Semuanya diam sejenak memandang Gio yang terbujur di kasur. Purbo memijit tangan Gio meskipun hangat badannya tetapi seperti tidak ada kehidupan. Terlihat dadanya saja yang kembag kepis yang menandakan Gio masih hidup. Ada juga sih tanda kehidupan lainnya yaitu layar monitor yang memantau kondisi Gio.

“Pah masih inget gak waktu anak kita lahir yang nemenin juga Gio ka?” Tanya Purbo pada Wahyu yang berdiri disampingnya, sambil memandang Kei yang sedang bermain dengan Ifah.

@@@

Kejadiannya itu sudah 3 tahun lalu. Waktu itu Gio masih sedang bekerja padahal sudah lebih dari jam 10 malam. Ini adalah kerjaan mendadak, dan itu paling di sebelin sama Gio harusnya sudah bisa istirahat malah masih bekerja. Malam itu harus mengejar berita yang dipersembahkan buat penggemar Afgan. Sudah dua jam menunggu tetapi belum ada tanda tuh artis nongol.

Udah suntuk banget nunggu tanpa kejelasan kayak gini mending tidur aja. Ya beginilah resiko jadi wartawan. Gio cengok sendirian dia belakang gedung duduk dilantai seorang diri sambil bersandar pada tembok. Untuk menghilangkan rasa bosan Gio main game yang ada di handphone. Lagi asik main ada telpon, dilihat dari namanya Purbo.

“Yap yap.” Gio menjawab telpon dari Purbo. “Oh Mas Wahyu, ada apa mas?” ternyata yang telpon Mas Wahyu tetapi pakai handphonenya Purbo. Gio terdiam mendengarkan suara Mas Wahyu ngomong dari balik telpon. “Ouh gitu…. Nanti aku langsung ke situ dech, ini masih ada kerjaan.” Percakapan telah usai Gio menaruh handphonenya disaku celananya lagi.

Mendengar berita itu GIo semakin tidak sabar untuk cepat-cepat meneyelesaikan tugas yang menyebalkan ini. Tadi Mas Wahyu mengabarkan Purbo akan melahirkan tetapi lewat operasi caecar. Itu adalah berita yang menyenangkan sekaligus menyedihkan, gimana nggak seneng kalau akan punya keponakan lagi tetapi sedihnya melihat sahabatnya dioperasi caecar. Kalau bukan karena kerjaan ini penting mungkin Gio sudah meninggalkannya.

Untung tidak lama setelah menutup telpon Afgan beserta rombongannya datang. Buru-buru Gio mengejarnya untuk interview. Ternyata nasib tidak beruntung berpihak pada Gio karena dari pihak Afgan nggak mau di wanwancarai. Gio mencoba melobi pada managernya tetapi tetap saja nggak dibolehin. Sebenarnya ada keberuntungan juga karena Gio tidak perlu berlama-lama lagi di tempat itu.

Gio bergegas ke rumah sakit internasional yang ada di ring road utara. Tidak terlalu jauh sih dari tempat Gio liputan tetapi hawa dingin menusuk sekali. Gio juga khawatir keadaan Purbo pasti sedang terguncang kalau proses melahirkannya dengan caecar. Apalagi jauh dari orang tua dan saudara. Purbo juga ada-ada aja dari Batam udah hamil 8 bulan perjalanan jauh pakai mobil ke Jogja. Purbo emang ingin anaknya lahir di Jogja.

Sekarang sudah sampai di rumah sakit. Gio tergesa-gesa berlari kecil menuju ruang operasi. Berharap masih bisa ketemu Purbo sebelum menjalani operasi. Doa Gio terkabul Purbo masih berada di selasar menuju ruang operasi di sebelahnya ada Mas Wahyu. Gio menambalah kecepatan berlarinya untuk menghampiri Purbo.

“Sory telat. Yang sabar ya……semangat. Aku disini terus koq sampai kamu lahiran.” Ucap Gio terengah-engah sambil memegang tangan Purbo untuk menguatkannya.

Di depan pintu operasi langkahnya terhenti karena dilarang masuk termasuk Mas Wahyu. Terlihat dari kejauahan dibalik pintu kaca wajah khawatir bercampur sedih dari wajah Purbo. Disitu dokter dan suster sedang menyiapkan operasi. Mas Wahyu sendiri berdiri menempel pada pintu kaca.  Begitu dokter dan suster siap Purbo dibawa keruangan selanjutnya ruangan operasi sebenarnya.

Gio dan Mas Wahyu di antar suster menuju ruang tunggu operasi yang letaknya tidak jauh mungkinn hanya bersebelahan dengan ruang operasi. Ruangan itu hanya berukuran 3x3 meter. Rumah sakit itu terasa sunyi sekali hanya ada Gio dan Mas Wahyu.

“Koq jadinya  operasi sih mas?” Tanya Gio penasaran.
“Tadi kita abis jalan-jalan muter kota aja. Terus kan lewat rumah sakit bersalin tempat periksa kandungan, iseng aja masuk situ. Eh pas di periksa ternyata air ketubannya sudah sedikit padahal perkiraan tiga hari lagi.” Mas Wahyu menjelaskan.
“Untung ya walau tadi iseng bisa ketahuan lebih cepet, jadi bisa langsung ditangani.” Gio menanggapi. “Sabar ya mas. Walau operasi yang penting ibu sama anak slamet semua.” Gio mencoba membuat tegar hati Mas Wahyu.

Selama menunggu itu Mas Wahu bolak balik menuju pintu ruang operasi. Wajarlah seorang suami yang menantikan calon anaknya. Seharusnya bisa menemani proses persalinan tetapi apa daya karena operasi tidak bisa melakukannya.  Dengan harap-harap cemas Mas Wahyu tidak pernah melepas pandangannya kea rah ruang operasi.  Gio sendiri hanya termenung di ruang tunggu sambil maen game handphone.

Sudah 20 menit proses operasi berlangsung, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Wajah khawatir Mas Wahyu berubah menjadi kebahagiaan, senyum mengembang dari bibirnya. Tidak lama kemudian ada seorang suster keluar dari ruang operasi menghampiri Mas Wahyu yang ada didepan pintu. Tidak sengaja Gio mendengar perkataan suster.

“Selamat ya sudah menjadi bapak. Alhamdulillah anaknya sehat sama ibunya selamat. Tadi lahir jam 23:58. Oh ya silahkan masuk pak barang kali anaknya mau di adzanin.”

Mas Wahyu dan suster masuk kedalam ruang operasi. Sayup-sayup terdengar adzan. Gio bersyukur semuanya selamat. Meskipun bukan ponakan kandung tetapi Gio cukup senang karena punya ponakan baru lagi. Ini adalah pertama kali Gio menunggu orang lahiran ada berbagai perasaan mengahampirinya dari perasaan sedih karena melihat sahabatnya di operasi, khawatir juga. Ada pula perasaan senang semuanya bercampur.

Begitu Mas Wahyu keluar Gio langsung memberi selamat sekalian pamit pulang karena sudah larut malam yang penting kan anaknya sudah lahir. Bisa besok setelah pulang kerja mampir lagi. Lagian nungguin Purbo juga masih lama dia juga pasti ingin istirahat lebih dulu.

@@@

“Om Gio ini Tia sekarang udah besar. Om Gio bangun yaa…” Kata Tia disebelah telinga Gio. Namun tetap saja tidak ada respon dari Gio.
“Coba kalo nggak ada Gio pasti saya sudah stress, karena Gio jadi tenang ada yang nemenin.” Mas Wahyu menambahkan cerita dari Purbo.

Bu Alya masuk ke kamar. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Telihat Bu Alya sangat senang karena Gio ada yang menemani terlebih lagi mereka adalah sahabat terdekatnya.

“Itu makan malam sudah siap, ayo di makan.” Bu Alya mengajak para rombongan makan malam.

Di meja makan sudah terihadang soto tauco khas Tegal. Ada juga sepiring tahu aci Benjaran, tidak ketinggalan mendoannya. Sirup dingin teko gelas juga sudah siap minum. Para rombongan ini sudah tidak sabar menyantapnya mereka dari tadi siang belum makan karena masih dalam perjalanan.

“Bu, kita boleh makan di kamar tidak sekalian nemenin Gio?” Dia meminta ijin pada Bu Alya.
“Ouh boleh sekali, udah lama juga Gio nggak makan rame-rame.” Bu Alya mempersilahkan teman-teman Gio makan di kamar.

Setelah ambil makanan mereka masuk ke kamar lagi menyantap soto tauco.

“Eh inget nggak? Kalau kita minta rekomendasi makan pasti kita tanya Gio.” Kata Yudi sambil melahap soto.
“Bener banget, Gio tuh paling tau tempat makan. Padahal dia badan kecil tapi suka makan dan menjelajah warung apa aja.” Aga ikut nimbrung. “Dulu tuh aku nggak ngerti makanan enak di Jogja karena aku kan bukan anak kost.  Terus Gio sering ngajakin wisata kuliner jadi tambah ngerti dech.”
“Kalau mau nongkrong pasti tanya Gio dulu. Kalau nongkrong nggak ada Gio juga nggak enak.” Kata Nin di akhiri dengan nada sedih. “Dulu makan di kantin terus kalau aku nggak habis pasti dia yang ngabisin makan ku.”
“Ngomong-ngomong soal makan gwe punya cerita konyol sama Gio. Kejadiannya waktu kalian sudah pada mudik liburan semester.” Dia menyela omongan Nin dan mulai bercerita.”

@@@

Waktu itu susana kost Gio sudah sepi karena sebagian besar sudah pulang liburan semester. Gio juga berencana mudik tetapi besok. Kalau malam gini biasanya cari makan bersama teman kostnya tetapi berhubung sudah pada pulang Gio sudah janjian dengan Dia untuk makan malam dekat kost.

Jarak antara kost Gio dengan Dia nggak begitu jauh, dengan mengedarai motor pinjaman temen kost Gio menuju ke kost Dia. cukup 3 menit sudah samapai, ternyata Dia sudah menunggu dipagar kostan sambil mainin HP nya.

“Mau makan dimana?” Tanya Dia.
“Belum tau, kamu pengen makan apa?” Gio belum punya ide malah balik tanya ke Dia. 
“Lagi pengen makan ikan sih….”
“Kalau gitu di deket sini ada koq daerah Gamping tempat baru sih aku belum pernah kesana.”
“Oke.” Dia langsung menyetujuinya.

Dia segara naik motor yang di tunggangi Gio juga. Pertama mencari lokasinya daerah sekitar belakang pasar Gamping. Pelan-pelan Gio menyisiri jalan itu takut barang kali terlewati.

“Itu” tunjuk Dia. sebuh warung tetapi lebih besar mungkin termasuk restoran. “Yakin itu?”
“Iya itu,” Gio membenarkan. “Terserah kamu sih mau apa nggak. Tapi kayaknya mahal dech.” Nyali Gio menciut dirasa tempat makan tersebut mahal harganya.
“Ya udah dech kita coba aja.” Dia mencoba nekat masuk. Gio pun menurutinya.

Gio memarkirkan motornya dilahan parkir yang luas tetapi tidak ada satupun kendaraan. Bangunan semi permanen dan besar ada dihadapan mereka. Sebenarnya Gio sudah ragu sih tetapi melihat Dia percaya diri jadi yakin dech. Mereka masuk bangunan lalu disambut oleh seorang pelayan. Mereka diantar ke sebuah sebuah meja kecil. Gio dan Dia duduk berhadapan, pelayan tersebut memberikan daftar menu lalu meninggalkan mereka.

Gio dan Dia mulai membuka buku menu, semakin membalik halaman dahi bertambah mengernyit. Matanya juga terbelalak.

“GIlingan mahal-mahal banget,” Gio ngedumel perlahan.
“Yang pilih sini siapa hayo?” Dia nggak ma disalahkan oleh Gio.
“Cabut aja yuk…..” pinta Gio,
“Nggak ah udah nanggung.”
“Tapi aku nggak bawa duit banyak nggak ada yang cukup. Ada sih cuma karedok.” Gio sedikit geram telah melakukan kesalahan fatal.
“Kalo gitu kamu pesan karedok aku pesen nasi liwet.” Dia mencoba menegosiasi.
“Tapi nggak ada duit buat beli minum.”
“Kita barengan aja minumnya pake air mineral,hehehe” Dia masih saja bertahan.
“Ya udah dech.” Gio menyerah pada serangan Dia.

Pesanan yang Gio dan Dia sudah datang. Sepiring karedok tanpa nasi, satu porsi nasi ayam liwet dan satu botol air mineral ukuran kecil.  Ditambah senyuman kecut dari pelayan yang sedang melayani mahasiswa kere.

Gio udah lapar akut, langsung saja karedok yang ada dihadapannya langsung dimakan. Tapi beberapa saat kemudian terjadilah kehebohan.

“Buset ni karedok pedes banget ya, mana nggak ada kerupuk,” Gio megap-megap kepedesan.
“Eits inget minumnya Cuma ada segini.” Dia mengingatkan Gio sambil merebut air minumnya.
“Ni restoran sengaja nyiksa orang kere ya, atau nggak iklas ngelayanin kita?” Gio masih saja ngedumel.

Meskipun kepedesan dan menitihkan air mata Gio tetap saja makan dengan lahap karena sudah kelaparan akut. Biasalah anak kost makan sehari Cuma dua kali pagi menjelang sing dan malam itu sudah jadi jadwal makan Gio, makanya dia tetap kurus.

@@@

“Terus kalian waktu bayar gimana?” Tanya Yudhi.
“Nggak tau yang bayar Gio. Udah gitu mukanya di tekuk.”
“Hahahahaha” semua teman Gio tertawa terbahak-bahak.

Suanan ceria dan canda menyelubungi rumah Bu Alya yang biasanya sepi sekarang terdengar suara berisik menyenangkan. Bu Alya jadi berfikir betapa bahagianya Gio mempunyai sahabat yang baik dan sangat akrab. Berbagai momen kebersamaan Gio terus dikenang para sahabatnya.

“Ngomong-ngomong Gio kurus aku juga pernah manafaatin tuh,” Aga mulai bersuara. “Waktu itu kalau nggak salah pulang dugem.”
“Ouh jadi Gio suka dugem sama kamu toh?” Tanya Dia menghakimi.
“Nggak sering juga sih,” Aga berbohong. “Sek toh cerita dulu.” Protes Aga yang ceritanya dipotong oleh Dia. “Pulang dugem itu, Gio mau nginep dirumah ku. sebenernya aku juga males nganterin dia pulang juga sih kostnya jauh banget.”
“Terus gimana om?” Ternyata Ifah ikut menyimak cerita Aga.
“Sampai rumah aku baru inget kalau nggak bawa kunci rumah ketinggalan dikamar. Semua orang udah tidur nggak enak juga kan bangunin mereka. Kalian tau apa yang Gio lakukan?”
“Ke warnet,” tebak Yudhi.
“Ke burjo, dia kan selalu lapar tengah malam.” Nin ikut menebak.
“Salah semua. Yang benar dia manjat tembok.”
“Whaatt!!!” Purbo kaget.
“Dia kan kecil dan sedikit lincah, dia manjat pager dulu terus naik tembok ke teras lantai dua. Aku di bawahnya.” Aga menjelaskan lagi.
“Terus ada yang liat gak?” Tanya Dia yang juga serius nyimak.
“Pas udah setengah manjat eh ternyata ibuku keluar. Kita berdua bengong jadi kayak orang bego. Untung ibu ku nggak marah. Tapi ada yang lucu udah gitu dia bukannya turun eh malah lanjutin naik udah gitu berhasil pula.”

Suara riuh tertawa kembali terdengar setelah mendengar ke konyol Gio dari cerita Aga. Sahabat mengenal Gio sosok yang suka konyol. Selain itu Gio juga jarang sekali marah sama sahabatnya. Gio selalu membawa ceria dan setiap ada dia pasti ada tertawa lucu. Yang tadinya sudah cape semua jadi semangat lagi.

“Coba dech kalian inget pernah nggak liat Gio marah?” Tanya Yudhi ke semua orang disitu.
“Kayaknya yang ada kita terus dech yang marah-marahin dia.” Aga kembali mengingat kejadian masa lalu.
“Udah gitu dia nggak bales marah atau ngomong apa keq gitu.” Timpal Nin.
“Yah itulah Gio, selalu murah ramah. Kangen sama Gio.” Dia jadi sedih kembali bila mengingat kenangan lalu.

Mimic semunya menjadi sedih, Purbo memeluk Dia sambil menahan air mata. Sahabat yang dulu selalu ceria. Kapan aja dua puluh empat jam setia nemenin baik duka waktu ada bencana apalagi waktu senang Gio tambah bersemangat lagi nemenin. Istilah lainnya adalah Gio sahabat siaga. Kalau lagi pada kehabisan uang Gio lah tempat terakhir untuk meminjam uang.

Malam semakin larut. Sudah banyak cerita yang bergulir dari mulut teman-teman Gio. Baik yang sedih sampai yang lucu-lucu. Ifah dan Kei juga sudah tertidur lelap di kamar sebelah. Bu Alya ikut nimbrung ngobrol duduk disamping Gio. Bu Alya sedari tadi senyum bahagia mendengar cerita tentang Gio dari temannya. Malah merasa minder karena temannya lebih mengenal anaknya dari pada dirinya sendiri.

“Eh dah malem pulang yuk,”kata Nin sambil melihat jam tangan. Memang sih sudah hampir jam 12. “Kasihan ibu kelihatan sudah ngantuk.”
“Oh nggak  koq nggak apa.” Bu Alya menyangkal.
“Nggak enak juga bu sama tetangga.” Dia menambah alasan harus beranjak dari rumahnya Gio.
“Eh ya foto dulu donk bareng Gio.” Yudhi memeberikan usul.
“Pake hape ku aja nih, tar tinggal di BBM ke kalian. Ibu tolong ya fotoin kita.” Nin membirikan handphonenya ke Bu alya.

Semuanya ambil posisi. Aga dan Dia di samping kiri sedangkan Yudhi dan Purbo di samping kanan, Nin sendiri di depan Aga.

“1,2,3” Bu Alya memberi aba-aba waktu memotret. “Bagus hasilnya, tuh Gio senyum.”
“Mana….mana” Yudhi penasaran mencoba mengambil kamera terlebih dahulu dari tangan Bu Alya. Bu Alya memberikan kamera tersebut pada Yudhi lalu senyum-senyum sendiri melihat tingkah sahabat anaknya, yang lain juga ikut mengerubungi.
“Eh iya Gio senyum, matanya juga melek.” Aga ngomong sekenanya tanpa sadar.

Dua detik kemudian semua hening ketika menyadari omongan yang barusan keluar dari Aga. Langsung saja mereka menengok kea rah Gio. Dan benar saja Gio sudah bangun dari tidur panjangnya. Matanya melek dan senyum melihat sahabatnya berkerumun. Bu Alya langsung memeluk sambil menitihkan air mata bahagia. Sedangkan para sahabat cewek ikut menangis haru sekaligus senang.

Setelah memeluk Gio, Bu Alya segera menelpon dokter yang menangani Gio. Suasan jadi kembali ramai, namun Gio masih saja membisu karena bingung mau mengatakan apa. Dia sedang mencoba berfikir kejadian yang berlangsung dalam rangka apa. Dan mengingat kejadian sebelum dirinya koma. Gio hanya tersenyum melihat polah temannya yang kegirangan.

Sekitar 30 menit kemudian dokter Farhat yang menangani Gio datang, dia langsung masuk kamar dan memeriksa Gio. Pemeriksaan awal sudah selesai Farhat menemui Bu Alya yang duduk di ruang keluarga tepat depan kamar Gio.

“Saya ikut senang bu, akhirnya Gio bangun juga.” Kata dokter dengan tenang.
“Alhamdulilah, tetapi gimana dok keadaannya?” Tanya Bu Alya sedikit khawatir.
“Nggak apa-apa bu mending besok dibawa rumah sakit. Oh ya itu teman-teman Gio?”
“Iya dok, mereka teman Gio waktu kuliah di Jogja. Semalaman mereka mengajak ngobrol Gio.”
“Bisa jadi Gio bangun kerena mereka juga. Cerita mereka terdengar Gio otaknya kembali bekerja mencoba mengingat kejadian masa lalu. Selamat ya bu, tetap sabar karena Gio masih perlu belajar lagi untuk kehidupan semula.


Bu Alya merasa menjadi orang paling bahagia sedunia bisa melihat anaknya siuman. Belum lagi pertama kali terbangun Gio sedang tersenyum. Bu Alya sudah siap kembali mengajarkan anaknya dari awal lagi khususnya untuk fisio terapi. Bu Alya akan terus menemani buah hatinya sampai kembali normal, itulah cinta kasih seorang ibu. Buat teman-teman, dengan kembangkitan Gio merupakan kebahagiaan tersendiri sahabatnya telah kembali untuk berbagi suka dan duka. Akan selalu ada untuk Gio. Malam itu ada tawa disudut Kota Tegal.