Sunday, 23 June 2013

Perpisahan 3 (Nestapa)

Setelah makan usai Risma mengikuti kakaknya masuk kamar. Hans sendiri masih membereskan meja makan dan akan mencuci piring.
Di dalam kamar, Afan tiduran di kasurna sedangkann Risma duduk di meja belajar memandang gelapnya malam yang terlihat dari jendela. Akan tetapi pikiran Risma masih melayang pada percaraian orang tuanya. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin disamapaikan tetapi bingung untuk mengucapkan.
“Kak, kenapa sih mama papah cerai?” Risma menengok abangnya yang sedang asik membaca komik dengan nada sedih.
“Kan tadi papah dah jelasin.” Jawab Afan singkat matanya masih tertuju pada komik.
“Maksud adek itu emang masalahnya rumit banget ya?” Risma membalikan bada ke arah Afan agar kakaknya lebih peduli pada obrolan ini.
Afan menaruh komiknya di samping, sekarang Afan merubah posisinya duduk menghadap Risma. “Adek Risma sayang……” Afan sengaja belum menuntaskan kalimatnya karena masih bingung harus menjawab bagaimana. “Kakak juga nggak tau dek masalah mereka pa.  Kan kakak belum dewasa jadi belum tau maslah orang dewasa seperti apa.” Jawab Afan polos.
Sepertinya Risma masih belum puas dengan jawaban kakaknya. Risma kembali memutar memusatkan pikirannya untuk berfikir lebih spesifik. “Kan kalau orang nikah itu pakai cinta dan sayang. Tadi kata papah masih saling sayang, berarti mereka udah nggak cinta donk?” Pikiran Risma semakin njlimet di luar kapasitas anak umur 5 tahun.
“Mungkin” Jawab Afan singkat sambil menggerakan bahunya ke atas tanda ragu dan tidak mengerti.
Risma mendekati Afan dan duduk di sebelahnya.”Kakak masih sayang nggak sama adek?” Suara tertahan menangis keluar dari bibir Risma.
“Kakak sayang…….banget sama adek.” Afan jadi merasa iba kepada adeknya yang masih kecil yang belum begitu mengenal dunia orang dewasa. Sebenarnya Afan juga takut dengan perubahan ini. Tetapi dihadapan adiknya Afan berusaha tegar. “Adek juga sayang kan sama kakak?”
Risma mengangguk pelan dan tumpah sudah derai air mata.
“Adek jangan cengeng donk. Adek harus kuat kayak kakak. Kalau adek sedih cerita aja sama kakak. Pokoknya kita jangan terlihat sedih di depan mamah papah. Nanti kalau keliatan sedih mamah papah ikutan sedih, lalu kita jadi keluarga galau.” Afak menjadi sok dewasa demi adiknya untuk terus berusaha kuat.
“Iya adek janji nggak cengeng lagi. Adek harus kuat seperti kakak.” Ucap Risma sambil menyeka air matanya yang mengalir dipipi. “Mamah kangen kita nggak ya kak?” Risma kembali melanjutkan pertanyaann.
Afan yang sudah memegang komik dan melanjutkan membaca, membatalkan niatnya. Afan tidak mau meliahat adeknya dirundung kesedihan hanya karena orang tuanya bercerai.
 “Pasti kangen lah dek. Mamah juga kan gak ninggalin kita selamanya. Nanti kalau udah beres semua pasti kita bisa ketemu mamah bisa jalan-jalan, makan masakan mamah.” Afan mencoba menghibur adiknya yang masih saja galau.
“Kakak janji ya jangan tinggalin adek. Pokoknya adek ikut sama kakak terus.” Risma kembali meneteskan air mata, meminta Afan agar terus menjaganya.
Afan mengangguk tanda sanggup.
@@@
Di balik pintu kamar Afan, Hans menempelkan kupingnya di pintu untuk mencuri dengar pembicaraan kedua buah hatinya. Mendengar itu semua hati Hans hancur tidak karuan. Dirinya telah merasa gagal membangun sebuah keluarga yang harmonis dan jauh dari kata perceraian. Hans juga merasa berdosa telah membuat menderita Afan dan Risma karena ke egoisan dirinya dan Dania. Di depan pintu itu juga Hans menangis tersedu, berbagai macam perasaan berkecambuk dihatinya. 

Friday, 21 June 2013

Perpisahan 2 (Penjelasan)

“Papah cerai?” Kata itu meluncur dari Afan langsung menuju sasaran dengan tatapan menusuk pandangan Hans.
Pertanyaan itu begitu telak dan menohok hati Hans. Kagetnya luar biasa, sampai jari Hans teriris pisau. Hans tidak menyangka Afan yang berusia 7 tahun telah mengerti arti kata cerai. Entah dari mana belajar kata seperti  itu. Risma yang asik mengupas menjadi mematung tampaknya Risma juga telah mamahami arti kata cerai.
Hans tak berkutik lagi tetapi bagaimanapun juga masalah ini harus diselesaikan. Otak Hans mulai berputar mencai istilah yang tepat untuk menjelaskan perpisahan ini kepada anak yang masih berumur 5 dan 7 tahun. Darah juga masih keluar dari jarinya, tetapi Hans tidak memperdulikannya. Suasana hening menyelimuti rumah, Risma hanya bisa tertunduk, Afan terus menatap tajam Hans berusaha bertahan meminta jawaban dari papahnya. Sedangan Hans, berusaha tegar untuk menjelaskan semuanya.
“Sebentar, nanti papah jelaskan. Papah mau ambil bersihin luka ini dulu sama ambil plester.” Hans segera beranjak dari tempat duduknya sambil mengulur waktu agar bisa berfikir lebih jernih lagi.
“Papah nggak berusaha untuk kabur kan?” celetuk Risma, yang ternyata diam-diam ikut mengintimidasi Hans.
Hampir saja Hans terjatuh karena kaget. Ternyata Risma pun sudah dewasa karena bisa membaca pikiran papahya. Sebenarnya Hans punya fikiran untuk menyudahi pembicaraan ini sepihak karena suasanya sudah tidak nyaman lagi diluar dari rencana Hans.
Beberapa saat kemudian Hans kembali duduk jari telunjuknya sudah dipleseter dan Hans sudah siap menghadapi kedua hakim yang gregetan untuk mencecar Hans yang seakan-akan jadi terdakwa.
“Ok, papah jelasakan. Papah sama Mamah sudah tidak ada kecocokan lagi.” Hans mencoba menjawab pertanyaan Afan dengan lugas.
“Ich emang Papah itu artis??” Tanya Afan yang matanya masih menghunus Hans. Hans pun tak memahami maksud perkataan Afan. “Kan artis kalo ditanya cerai jawabannya seperti itu.” Afan menlanjtukan perkataanya agar Hans mengerti apa yang di maksudnya.
“Ouhh ya ya ya sekarang papah tau. Pasti kalian “belajar” dari infotaiment ya? hahahaha” Hans tertawa karena lucu melihat polah tingkah anaknya bukan seperti hakim yang ada di benaknya melainkan jadi wartawan infotaiment.
Afan hanya bisa mengangguk, tetapi dia masih antusias untuk mendengarkan penjelasan dari Hans menganai perceraian.
“Papah sama mamah sudah berbeda misi dan visi dalam membangun rumah tangga ini, hhmm,” Hans tidak yakin penjelasannya bisa di pahami anaknya dan segera meralatnya. “Begini, papah ingin A tetapi mamah ingin B jadi kita berbeda pedapat.”
“Ouh gitu….tapikan kenapa papah sama mamah nggak tanya pendapat kita?” Tanya Risma polos, mungkin dipikirnya ini masalah tersebut hanya memilih baju mana yang bagus.
“Ayo lanjutin lagi Risma ngupas wortel, Afan motong brokoli.” Hans menyuruh kedua anaknya untuk membantu masak agar suasana kembali cair.
“Afan sama Risma lebih senang papah mamah bertengkar terus tapi satu rumah atau lebih suka kita akur tetapi beda rumah?” Hans kembali mendiskusikan perceraian ini.
“Lebih suka akur.” Jawab Risma ragu “Tapi…..” Risma enggan menyelesaikan masalahnya karena masih berfikir.
“Nggak dua-duanya.” Jawab Afan ketus.
“Afan dan Risma, mamah Dania dan Papah Hans kita semua masih keluarga walau nanti mamah sama papah nggak serumah.” Hans mencoba menjelas dengan hati-hati. Hans menghentikan kegiatanya. “Risma tetap jadi adeknya Afan, Afan juga tetap jadi adeknya Risma. Dan kalian tetap jadi anak mamah papah.”
Hans beranjak dari tempat duduknya lalu bernjalan mengitari meja makan menuju Risma da Afan yang duduk bersebelahan. Lalu di peluknya Afan dan Risma sembagai tanda kita semua masih keluarga sampai kapan pun.
“Pah nanti adek sama kakak tinggal sama siapa dan dimana?” Tanya Risma memelas.
Masih memeluk, Hans menjawab pertanyaan. “Kalian bebas mau tinggal sama siapa, bisa seminggu sama papah lalu gentian sama mamah. Terserah kalian juga.” Hans berhati-hati barang kali salah ucap. Hans juga bersikap netral tidak membujuk anaknya untuk tinggal bersama. Hans yakin Dania juga akan bersikap sama, karena tidak ingin semakin mengoyak perasaan anaknya yang menjadi rebutan.
“Pah kenapa sih berpisah?” Ternyata Afan masih belum puas jawaban dari Hans.
“Tadi kan papah udah jelasin.” Hans melepas pelukan dan beralih jongkok di sebelah Afan. “Afan, kalau diterusin lagi nanti kan menyakiti hati kita semua.  Afan nggak mau juga kan liat mamah papah berantem terus?” Hans berusaha memberi pengertian kepada Afan.
“Lalu yang salah siapa?”  Tanya Risma ikutan menjadi wartawan infotaiment.
Hans mengernyitkan dahi, pikirannya kembali melayang mencari jawaban yang tepat. “Nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar. Papah sama mamah punya pendapat sendiri-sendiri dan semuanya ada kekurangannya dan kelebihan.”  Hans berharap semoga cepat berakhir diskusi ini.
“Papah sama mamah nggak ada yang selingkuh kan?” Hans teperanjat mendapat pertanyaan dari Afan. Ternyata Afan lebih dewasa dari dugaannya.
“Kenapa Afan menduga seperti itu?” Hans masih meredam emosinya menanggapi Afan tetapi sudah ada rasa gregetan.
“Kan biasanya artis-artis gitu pah, alasan cerai karena ketidak cocokan eh tau-tau dia selingkuh.”  Jawab Risma polos.
“hahahahaha” Hans sekali lagi tertawa karena kepolosan anaknya yang tadinya sudah geram menjadi rileks lagi. “Nggak lah dek, gak ada orang ketiga atau orang ke empat atau orang-orang lain yang ikut nimbrung.”
“Terus kalau kita pengen jalan-jalan gimana?” Risma melanjutkan lagi pertanyaan yang ada dibenaknya,
“Kita masih bisa jalan berempat, yang bedakan papah sama mamah nggak serumah lagi.” Hans mulai bosan dengan diskusi ini. Pasti akan ada banyak pertanyaan kritis dari Afan dan pertanyaan polos dari Risma.
“Papah masih sayang sama mamah?” Afan bertanya dengan raut memelas.
“Pastinyalah sayan sama mamah.”
“Tapi kenapa kalian berpisah? Katanya tadi saling menyakiti? Berartikan nggak sayang.” Afan menembekan serentetan kata yang sekali lagi membuat Hans tidak berkutik.
“Kakak sayang adek nggak?” Tanya Hans pada Afan.
Afan hanya bisa menganggukan kepala tetapi masih tidak paham maksud dari Hans.
Hans bersiap melanjutkan penejelsannya. Dia berpindah posisi kini kembali ketempat duduknya semula. Hans juga menyadari cara menjelaskan sambil memask ternyata tidak efektif karena jadi terbengkalai.
“Kakak sama Adek saling sayang kenapa sering berantem?” Hans mencoba memancing pendapat dari Afan.
Afan diam sejenak, memikirkan jawabannya. “Hhmmm abisnya adek nyebelin sih, kakak minta apa adek gak kasih atau adek juga suka ngerebut mainan kakak.” Afan menjawab dengan semangat.
“Ye…. Nggak ya….Kak Afan juga nyebelin suka nyuruh-nyuruh adek padahal kakak kan bisa sendiri.” Risma nggak mau kalah dari Afan dan membuat tuduhan lain tetang tabiat kakaknya.
“Tuh kan baru sebentar kalian sudah berantem. Iya begitulah mamah sama papah saling sayang tapi suka berantem juga. Tetapi masalah mamah sama papah sudah berbeda sama kalian.
“Tapi pah…….” Afan ingin melanjutkan pertanyaan lainnya tetapi telunjuk Hans mengarahkanke bibir Afan tanda agar diam.
“Papah mau lanjutin masak lagi, kalian laparkan? Nanti kalian pas kalian dewasa akan mengerti tentang perceran dan papah sangat mengharapkan jangan sampai terjadi.” Hans mengakhiri pembicaraan ini sebelum semakin panjang dan pertanyaan menyodok keluar dari Afan.

Bersambung

Thursday, 20 June 2013

Peripisahan (Penghakiman)

Perpisahan
Langit jinngga menggantung di Kota Tegal. Afan yang mengenakan terlihat mencincing sarungnya dan Risma yang memakai mukena pun sama terlihat menyincing mukenahnya. Mereka berlari sambil dengan raut muka ketakutan. Mushola yang dituju sudah didepan mata namun mereka mengurungkan niatnya malah berbalik arah menuju rumah.  Semakin medekat rumah semakin kencan larinya, wajah mereka juga panic.
Kedubrag…. Bunyi pintu yang di bating oleh Risma karena dia yang terakhir berlarinya. “Papa………pa……..” Teriak Risma memanggil papanya. Sedangkan Afan lebih meringkuk di atas sofa ruang keluarga.
Hans segera keluar dari kamarnya baju kantor juga masih melekat di badannya. Secara sigap Hans menangkap putrinya dan langsung di gendongnya. “Ada apa Ris? Koq kamu ketakutan gitu sih? Sini papa peluk.” Hans mendekap Risma memberikan rasa aman, sambil berjalan ke Afan.
Afan masih saja meringkuk sambil menutup matanya.  Hans duduk di sebelah Afan sambil salah satu tangannya mencoba menggapai tangan afan yang menutupi wajah. “Ada Fan? Kenapa kalaian berdua panik seperti itu?” Hans semakin khawatir karena belum memperoleh jawaban dari kedua anaknya.
“Tadi kita lihat pocong, di pekaragan sebelah Mushola pah.” Risma yang berumur 5 tahun menjelaskan ketakutannya pada Hans.
“Masa sih ada pocong?” Hans tidak mempercayai begitu saja ucapan dari Risma.
“Beneran pah….. tadi Afan juga lihat, pocongnya keluar dari pekarangan sebelah rumah Mbah Eni.” Afan jagoan kecil berusia 7 tahun bersemangat menceritakannya.
“Itu mungkin mbah Eni kali Fan. Mbah Eni kan sering sholat di Mushola dia keluar lewat pekarangannya.” Hans menjelaskan sesuai dengan terkaannya.
Afan dan Risma bernafas lega. Risma segera turun dari pangkuan Hans dan dudu sebelah kanannya. Afan juga juga tidak menutupi wajahnya dengan tangan, tetapi berganti memeluk guling. Hans beranjak dari sofa.
“Ayo kita sholat bareng, tapi nanti setelah papah mandi ya. Jangan takut ini kan rumah kalian sendiri.” Hans memastikan dirumahnya tidak ada setan.
@@@
Setelah sholat.
Hans masih duduk bersila di ruang sholat. Setelah berdoa Afan  beralaman kepada Hans. Saat giliran Risma, dia berkata “Pah kapan mamah pulang?”
Pertanyaa tersebut mengagetkan Hans. Memang Dania, istri Hans yang sudah dinikahi 10 tahun tak kunjung pulang. Pernikahan mereka sedang ada di ujung perjalanan. Ada berbagai masalah pelik yang tidak bisa selesaikan. Dania lebih memilih meninggalka anaknya sementara waktu untuk menenangkan pikiran. Dania pikir Hans cukup mampu untuk merawat anaknya dalam beberapa bulan sambil menunggu keputusan dari Hakim, barulah nanti bagaimana mendidik Afan dan Risma.
Hans tidak menjawab langsung pertanyaan Risma karena masih bingung harus memulainya dari mana. Sebenarnya Hans mau tidak mau harus siap dengan pertanyaan itu. Sambil memikirkan jawaban, Hans mengalihakan perhatian.  “Risma berdoa aja sama Allah, minta biar mamah cepet pulang.”
Keluarga kecil tersebut bergegas merapihkan sarung dan mukenah. Mereka duduk di ruang keluarga sambil menonton telivisi. Biasanya saat seperti ini suasana riuh bercanda memenuhi ruangan. Namun sekarang hanya suara televisi yang bergema. Afan dan Risma asik menonton DVD film kartun kebetulan besok sekolah sudah libur jadi Hans memperbolehkan anaknya mentonton DVD.
“Pah, Risma kangen mamah.” Tiba-tiba Risma mengatakan hal tersebut membuat hati Hans melengos.
“Papah juga kangen, kak Afan kangen. Tapi mamah kan belum bisa pulang masih ada hal yang dikerjakan.” Jawab Hans sekenanya berharap Risma tidak melanjutkan pertanyaan lagi.
“Tapi sampai kapan mamah pulang?” Tanya Risma lagi.
Hans bingung harus menjawab apa. “Ayo kita masak yuk, kalian sudah laparkan. Kita masak bareng-bareng seperti dulu.” Hans segera ambil tindakan untuk menjauhi pertanyaan lebih menelisik.
Hans segera beranjak ke dapur di ikuti keuda anaknya. Lalu hans mengambil sayuran segar di kulkas dan menaruhnya di meja. Afan dan Risma duduk di meja makan tempat Hans menaruh sayuran. Hans duduk disebrang anak-anak. Hans mengambil sawi lalu mulai di irisnya.
Hans sudah mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan tentang perpisahannya dengan Dania.
“Adek bantu papah mengupas  wortel ya ini.” Hans memberikan beberapa wortel kepada Risma, Hans memang sengaja memberikannya agar perhatian Risma tidak terpusat pada pembicaraan yang nanti akan berlangsung.
Risma mengambil satu wortel dengan wajah ceria dan mulai mengupasya.
“Adek sama kakak kangen ya sama mamah?” Tanya Hans lembut kepada Risma yang biasa dipanggil adek dan Afan yang lebih tua dipanggil kakak.
“Kangen…..” jawab mereka kompak.
“Sekarang papah sama mamah udah nggak bisa tinggal bersama lagi,” Hans menjelaskan dengan hati.
“Papah cerai?” Kata Afan langsung menuju sasaran.



Monday, 27 May 2013

Cerbung : DIA (Pengakuan) Part 3

Ku lanjutkan perjalanan menyusuri selasar. Wangi bunga melati semerbak sepanjang jalan. Bagia sebagaian orang sekolah ini terasa horror karena bangunan tua dan wanginya melati yang menyebar. Ya bagi ku sekolah ini wangi dan indah sesuai dengan kenangan ku. Aku melewati beberapa kelas dan terus melangkah menerawang ke masa lalu.
Aku manaiki tangga sekolah ini dan kembali tahun lalu.
Suasana sekolah sudah sepi karena sebagian siswa sudah pulang tinggal beberapa siswa yang masih tinggal di sekolah karena mengurusi esktrakulikuler. Sebeneranya aku sudah sampai gerbang sekolah tetapi aku teringat ada buku yang tertinggal dan ada PR jadi terpaksa aku balik lagi ke kelas yang terletak dilantai dua.
Saat menaiki tangga aku berpapasan dengan dia yang turun. Rasanya canggung sekali, mau menyapa tapi malu. Kalau dibiarkan persaan ini lebih tidak enak, dia masih sahabat ku kenapa aku cuek sama dia. keberanian ku tidak sampai untuk memanggil namanya namun sepanjang berhadapan kita saling menatap, aku tidak bisa membaca pikirannya. Apa mungkin pikiran dia sama dengan ku?
Sampai di ujung tangga ada yang menepuk bahu ku, apa yang kurasakan sama seperti waktu MOS. Aku tengok untuk meyakinkan dialah yang menepuk bahu. Ternyata benar dia yang mendaratkan tangannya di bahu. Aku diam sesaat dan rasa kikuk menjalar, sebenarnya ingin mengucapkan sesuatu tetapi bibir terkunci karena rasa canggung lebih besar.
MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Sunday, 26 May 2013

Cerbung : Dia (Sakit Hati) Part 2


“Haiiii” Teriakan teman ku melenyapkan bayangan dia dihadapan ku. “Ngapain sob di sini ngelamun?” Tanya teman ku.
“Nggak ngapa-ngapain Cuma inget dulu waktu kelas 10. “ Jawab ku jujur.
“Ouh, eh kembar siam mu mana koq nggak kelihatan?” Tanya teman ku, yang di maksud kembar siam ku adalah dia.
“Nggak tau, aku baru aja datang n langsung duduk di sini. Kenapa?” Aku menjelaskan, sekaligus bertanya kenapa teman ku menanyakan dia.

“Aku mau kembaliin bukunya dia. Hari ini terakhir dia disini kan? Besok dia sudah berangkat Jakarta dan langsung ke KL.” Ucap dia sambil mengambil ancang-ancang akan meninggalkan tempatnya berdiri. “Ya udah deh kalo gitu, aku duluan ya. Gud luck for you future.”

Apah hari ini terakhir dia disini? Aku telah melupakan sesuatu yang penting ini. Sebenernya aku tau dia akan belajar di luar Indonesia tetapi nggak tau kalau hari ini keberangkatannya. Ah…semakin buat ku kacau lagi. Aku harus temukan dia hari ini. Pasti dia akan datang ke sekolah.
Aku segera beranjak dari tempat duduk dan berjalan menyusuri selasar sekolah. Seperti halnya setahun lalu diselasar ini aku terhenyak dan sakit hati ini. Saat itu sudah kelas 11, aku dan dia terpisah kelas. Aku masih sedih karena tidak bersamanya lagi. Dan hari itu luka ku semakin meradang.

Aku sedang berjalan diselasar menuju koperasi siswa. Tiba-tiba ada yang merangkul meskipun aku tidak menengok melihat wajahnya tetapi aku mengenalinya dari bau parfum yang tercium di hidungku. Dia yang yang merangkul ku.

“Mau kemana sob?” Tanya dia. “Hari ini aku senang banget.” Wajah dia terlihat senang dengan senyum mengembang lebar.
“Emang ada apa?” Kata ku antusias karena melihat dia begitu senang.
“Aku sudah jadian, sama teman sekelas mu.” Dia member jawaban.

Seketika itu juga aku menghentikan jalan dan hati ini seperti dicambuk rantai. Rasanya ingin menampar dia. Harapan yang kemarin aku bangun hancur lebur. Ternyata bukan aku tetapi “dia” pilihannya.
Sejak saat itu bukan dia yang berubah tetapi aku sendiri yang berubah karena terluka perasaan ini. Dia memang sering sekali datang ke kelas tentunya bukan aku lagi dia temui melainkan pacarnya yang sekelas dengan ku. Kadang dia juga menemui ku namun dalam benak ku ada tembok yang membatasinya obrolan kita tidak serenyah dulu, mungkin ini salah ku yang menjawab pertanyaan dia dengan singkat dan tanpa senyuman. Ini adalah sebuah salah paham.
Satu tahun hubungan ku dengan dia dingin.

Saturday, 25 May 2013

Cerbung : Dia (Kontak Pertama) Part 1


DIA
Hari ini terkhir kalinya aku mengenakan seragam putih abu-abu sekaligus dan akan melepas masa indah sekolah. Ya selama 3 tahun ini merupakan momen yang paling menakjubkan jenjang remaja, aku menikmatinya.
Seperti biasa aku berangkat sekolah berjalan kaki.  Ketika melewati gerbang SMA Bawa Merah kenangan tiga tahun lalu terlintas. Waktu itu aku masih mengenaan seragam putih biru, setiap siswa MOS wajib dengan seragam SMP dengan atribut menempelnya tapi caping, tas kresek, dan masih banyak lainnya. Sebenarnya nggak penting banget bawa barang segambreng yang nyusahin ini, tapi apa daya inilah keharusannya memasuki dunia SMA.
Setelah upacara pembukaan selesai dimulailah pembagian kelompok, aku mendapatkan kebagian kelompok Telor Asin. Setiap kelompok terdiri dari 20 siswa, 10 cewek dan 10 cowok. Ada beberapa orang yang sudah ku kenal karena satu dulu satu sekolah waktu SMP atau SD, namun sebagian besar aku tidak mengenalnya dan itulah teman baru ku.  Dan ini belum tentu menjadi satu kelas nantinya.
“Ayo kelompok Telor Asin kemari dalam hitungan 10” Teriak kakak kelas entah namanya siapa, dia cowok berbadan tegap.
Kita satu kelompok bergegas menghampiri  kakak kelas tersebut. Tergopoh-gopoh aku setengah berlari diikuti yang lain. Jarak antara aku dan kakak kelas tersebu lumayan jauh karena dia ada diseberang. Ada beberapa barang yang tanpa kusadari berceceran.
Begitu dihadapan kakak kelas tersebut kita langsung berbaris rapih. Tak lama kemudia datang dua kakak kelas yang lain satu cewek dan satu lagi cowok. 
“Kenalkan saya Afri sebagai kordintor kelompok Telor Asin, saya di damping oleh Sinta dan Yahya.” Kakak yang tadi menyuruh kita kumpul memperkenalkan diri dan mengenalkan pendampingnya.
“Kalian masih ingat tugas pertama?” Tanya Kak Afri pada kita semua.
“Masih kak!!!” Jawab kompak seluruh anggota kelompok.
“Kalau gitu keluarkan.” Kak Afri memerintahkan kita semua untuk mengeluaran barang untuk mengerjakan tugas pertama.
Aku langsung merogoh tas kresek yang terkalungkan dileher. Sampai dasar aku tidak menemukan barang yang aku cari, aku raba sekali lagi tapi rasanya tetap tak ada. Langsung aku tengok dan benar saja barang itu tidak ada. Keringat yang sudah berhenti menetes kembali mengucur karena panik. Semua teman sudah mengeluarkan barang tersebut, hanya aku yang belum.
Kak Santi mulai inspeksi memasuki barisan. Aku semakin panik dan pasrah kalau nanti mendapat hukuman. Aku tengok ke kanan dan kekiri semua teman membawa barang yang dimaksud. Kak Santi terus mendakat. Ada sebuah colekan dibahu yang berasal dari belakang. Dalam batin ku “apaan sih ini lagi bingung di colek-colek”. Aku nggak menghiraukan colekan tersebut, namun colekan nya makin sering. Terpaksalah aku tengok.
“Ini punya kamu.” Kata dia yang tadi mencolek ku, sambil mengembalikan barang yang ku cari tadi. Memang benar itu punya ku sendiri karena ada nama ku.
“Loh koq bisa ada di kamu?” Tanya ku heran.
“Tadi waktu kamu lari ada beberapa barang yang jatuh jadi kupungut.” Dia mejelaskan kejadiannya.
Selamatlah aku dari hukuman. Itulah pertama kali “kontak” dengan dia.
Selama MOS aku sering ngobrol sama dia dan lambat laun jadi dekat. Dia di kota ini masih baru dan tidak punya teman. Mungkin karena itu dia mencoba berteman dengan aku. Aku sih senang saja karena dapat teman baru siapa tahu bisa jadi sahabat.
MOS telah barkhir, dan telah resmi aku jadi anak SMA pakai seragam putih abu-abu. Selamat datang masa galau, labil dan indah dalam dunia remaja. Betapa bahagianya aku sekelas dengan dia, tapi sayang aku nggak sebangku dengan dia. Aku duduk dengan sahabat ku sendiri waktu SD dan dia duduk dengan yang lainnya. Bagi ku sudah cukup senang masih bisa sekelas sama dia.
@@@
Aku terus berjalan setelah melewati pinggiran lapangan yang cukup luas. Setiap hari aku dan seluruh warga sekolah melewati jalan tersebut. Aku memasuki gedung dari samping, semua siswa pasti lewat samping untuk memasuki gedung utama. Hanya guru dan tamulah yang masuk ke gedung sekolah lewat lobi utama di tengah gedung.
Aku mulai masuk gedung sekolah yang kuno,  sekolah ini didirikan dari jaman Belanda. Berjalan diselasar menembus kenangan warna warni. Kebetulan waktu kelas 1, kelasnya dekat dengan pintu masuk samping. Kelas itu sekarang terisi adik kelas yang sedang belajar Geografi. Di sebrang pintu kelas ada bangku permanen panjang berharapan tetapi di tengahnya ada meja dan ada pohon rindang yang menaungi bangku tersebut, tergoda untuk duduk di situ.
Ku duduk di bangku yang menghadap kelas. Aku serasa memasuki dimensi dua tahun lalu di kelas 1.9. Aku ingat setiap ada kerja kelompok pasti aku bareng dia. Itu salah satu kebahagiaan bisa bersama dia, kita sering satu kelompok disamping absen kita berdekatan kalau kelompok tidak berdasarkan dia aku juga akan tetap memilih satu kelompok dengan dia.  Selalu dia menjadi ketua kelompok, dia memang seorang yang tegas, bertanggung jawab dan demokratis. Hal itu yang membuat aku kagum dengannya.
Paling aku ingat tugas pelajaran Bahasa Indonesia kita semua bua drama, dan sekali lagi satu kelompok dengannya. Dia menjadi pemain sekaligus sutradara.
“Itu bukan kaya gitu gerakannya. Jangan kaku.” Ucap dia yang masih bersabar karena kesalahan Fani, lawan mainku.
Sekali lagi aku dan Fani mengulangi adegannya. Namun belum selesai adegannya sudah disuruh berhenti lagi.
“Fani, tolong donk yang serius.” Pinta dia agar Fani tidak cenger cengir lagi. Walaupun ini masih berupa latihan tetapi dia ingin semua serius biar hasilnya bagus.
“Iya, udah serius tapi aku nggak kuat kalau pas di hadapan dia. Wajahnya dia buat ketawa terus.” Kata Fani sambil menunjuk aku.
“Ulangi lagi ya kali ini yang serus. Kamu mandang Fani yang jangan terlalu tajam.” Perintah dia pada ku.
Aku dan Fani mengulangi adegan tersebut. Namun sekali lagi belum tuntas adegan tesebut sudah diberhentikan lagi sama dia yang masih kurang puas dengan acting aku dan Fani.
“Cut, bukan kaya gitu Fani gini biar aku yang kasih contoh.” Dia sudah kesal, akhirnya turun tangan sediri.
“Mulai ya, Fani tolong liatin aku.” Perintah dia yang serius. Dia memang kalau lagi serius terlampau serius.
“Aku cinta kamu….tetapi  terlambat kamu akan pergi jauh. Jangan pergi, tolong jangan pergi.” Dia memperagakan perannya Fani.
Jatung berdegup kencang ketika adegan tersebut berlangsung. Dia sangant dekat dengan ku hanya berjarak satu bentangan tangan didepan. Matanya yang tajam seakan menghujam ke relung pikiran ku dan akan terus terngiang adegan ini. Genggaman tangannya yang erat seperti benar-benar tak mengizinkan aku untuk meninggalkannya.
Kejadian tersebut hanya beberapa detik saja. Tetapi sampai sekarang masih terlihat jelas 5cm di hadapan ku. Sejak saat itu entah perasaan apa yang merasuk ke hati ini. Setiap di dekat dia jantung ini berdetak kencang. Perasaan ini sungguh berberda, aku jadi ingin selalu mencari kesempatan untuk bisa ada didekatnya. Aku memang sudah menjadi sahabatnya jadi nggak perlu repot lagi untuk bisa dekat dengannya.
Kenangan lainnya muncul kembali. Aku ingat waktu pelajaran olah raga, dia tahu aku paling benci olah raga karena aku nggak kuat untuk olah raga. Dia memang sahabat yang terbaik ku miliki, waktu olah raga lari jarak jauh mengelilingi kampung disekitar sekolah dia selalu ada disamping ku. Dia dan aku berjalan beriirangan. Disaat itulah dia banyak curhat tentang kehidupan pribadinya yang sebenarnya kesepian karena anak tunggal dan hampir dua atau tiga tahun sekali pindah kota mengikuti tugas ayahnya.
Aku menjadi iba padanya. Rumah dia dengan ku berlawanan arah bila dari sekolah namun aku relakan bermain kerumahnya untuk menemani main PS atau sekedar bikin kue bersama mamahnya. Keluarganya sangan baik terhadap ku. Semakin aku sering main kerumahnya, aku jadi tahu sisi lain dia yang bertolak belakang apa yang kukenal selama ini.
Bayang-bayag dia muncul dihadapanku. Pagi hari jadi tempat singgah sementara untuk bercengkrama dengan teman-teman sealigus tempat mencontek PR. Dia yang rajin menjadi tempat contekan.  Aku dan dia memang sering duduk disini menghabiskan bekal makan siang kalau istirahat atau lebih intim lagi setelah pulang sekolah. Seperti biasa kita pulang setelah sekolah sepi, kita sama-sama malas ikut berjubelan dengan siswa yang lain.
 “Kamu pernah suka sama orang nggak?” Dia bertanya pada ku, tetapi matanya tetap memandang hp.
Deg, tumben dia bertanya seperti itu? Apakah dia sedang jatuh cinta. Ah jawaban itu akan segera terjawab, akan ku korek.
“Perah.” Jawab ku datar karena sedang berusaha keras membaca pikiran dia.
“Dengan siapa? Apa aku kenal?” Rasanya gimana?” Rentetan pertanyaan itu meluncur dari mulut dia, kali ini sambil menatap aku.
“Kamu kenal koq, tapi tak pentinglah dia ngggak tau koq. Rasanya…….” Pikiran ku melayang ketika orang yang ada dihadapan ku sangat dekat dan membuat ku terkagum dan tertawa sekaligus iba. Sedetik kemudian menjawab perasaan ku. “Entah lah banyak rasanya seneng banget ketika tertawa, menandakan dia sedang bahagia. Setiap detik ingin dekat dengan dia untuk menemaninya. Perasaan ini ikut berkecambuk ketika dia sedang ada masalah.” Aku mengutarakan semua ada di otak.
“Ouh gitu ya rasanya? Berarti sama donk apa yang kurasakan saat ini.” Ucap dia santai dengan senyum dan wajah berseri.
Hati ini berkecambuk semakin tak karuan. Pikiran jadi kacau dan tidak bisa berkosentrasi. Apakah itu aku orang yang dia suka. Sllaaap!!! Pikiran itu aku buang jauh-jauh, baginya aku hanya sebagai sahabat. Tidak mungkin dia suka aku, apa kata teman-teman nanti.
“Nanti aku kasih tau siapa orangnya. Kamu jangan jauh-jauh dari ku ya.” Kata dia semakin membuat ku linglung.
Apa maksudnya menyuruh ku jangan menjauhinya. Jangan mengharapkan apa-apa dari dia. Ah….entahlah. …..

MAU TAU CERITA SELENGKAPNYA BISA AJA BACA DENGAN BELI NOVELNYA. SUDAH TERSEDIA DI  http://nulisbuku.com/books/view_book/7100/kamuflase ATAU PESAN MELALUI SAYA 08193181006 atas nama apper. Terima Kasih. #Kamuflase

Saturday, 27 April 2013

Liburan

Awan jingga mewarnai pantai seputaran Kuta. Moment paling indah adalah waktu sunset dimana melihat matahari kembali keperaduannya di cakrawala. Selamat datang kegelapan.

Seperti kehiduan terus silih berganti dalam gelap dan terang, tiap orang relatif memaknai kegelapan. Bagi ku adalah orang gelap orang menutup matanya sendiri dan memandang segala sesuatunya berdasarkan fisik saja. Bisa juga mereka gelap karena tidak mensyukuri kehidupan ini. Mungkin aku bagian dari mereka juga.

Aku duduk dipasir tanpa alas menatap detik-detik matahari tenggelam sambil merenung "hari ini sudah apa saja yang ku perbuat?". Tiba-tiba lamunan ku dibuyarkan oleh seorang yang duduk disebelah ku menanyakan waktu sekarang. Dia yang bertanya padaku seorang remaja tahap akhir, hitam, agak dekil, dan jangkung. Dia memakai t-shirt kumal dan celana jins belel.

"Jam berapa mas?" tanya dia sambil senyum.
"Baru jam 6 lebih 10." jawab ku singkat. "Mas lagi liburan?" Tanyaku basa basi.
"Nggak mas, aku tinggal disini koq." Dia menjelaskan sambil merebahkan ke pasir untuk ikutan duduk. Sepertinya dia tertarik untuk meneruskan perbincangan.
Rasanya kasihan juga bila dia sudah duduk tetapi tak ada perbincangan lebih lanjut.

"Tinggal di daerah mana?" Tanya ku kembali.
"Deket koq, di jalan Dewi Sartika. Mas sendiri tinggal dimana?" dia balik bertanya.
"Aku di Monang Maning, Denpasar."
"Kerja apa mas disini?" Tanya dia padaku.

Aku tak langsung membalasnya, dia sejenak memikirkan untuk jawaban yang tepat.

"Ntah lah mas, aku nggak bekerja, aku hanyalah seorang pemimpi yang ingin menjadi penulis." Jawabku sekenanya.
"Wah bagus donk jadi penulis." Dia menanggapi antusias. "Dari pada aku cuma penjaga vila."
"Belum jadi penulis mas, belum ada yang diterbitin." Aku merendah. "Namanya juga demi hidup mas, penjaga vila sebuah pekerjaan yang mulia. Masih ada orang yang percaya sama mas." Inginnya sih menghibur  dia tapi entah itu bentuk hiburan atau bukan.

"Ada pengalaman seru nggak waktu jaga Vila?" tanya ku mengalihkan pembicaraan dari pada menjadi sesuatu yang menjemukan memikirkan kehidupan.
"Baru kemaren sih....ada tamu yang baiiiiik banget." Dia sangat antusias untuk memulai ceritanya.
"Baik gimana mas?"
"Tamunya ke sini kan buat foto prewedding, aku di ajak ikut jalan-jalan ke tempat fotonya. lumayan 9 bulan disini nggak pernah kemana-mana mas,hehehe"
"Wah baik banget ya, emang kemana saja?" Aku jadi penasaran ceritanya.
"Ke Kintamani di danau Baturnya. Ternyata bagus banget udah gitu dingin banget mana aku nggak bawa jaket. Mungkin aku sendiri belum tentu bisa kesana. Bayar angkotnya pasti mahal belum lagi makannya" Dia memperagakan waktu dia kedinginan sambil menarik jaketnya memeluk sendiri dan senyum lebar mengembang.

Aku hanya senyum kecil menanggapi ceritanya. ekspresinya memang lucu juga, menggambarkan kesenangan.

"Yang lebih hebat lagi mas," dia kembali melanjutkan ceritanya kali ini lebih semangat lagi. "Pemotretan di Hotel Niko, bagus banget hotelnya di daerah uluwatu sana. Pasti itu hotel mahal banget, pokoknya bagus banget lah. Disana juga makan enak banget aku belum pernah makan seenak itu."

Berhubung sudah gelap aku izin pulang, nggak enak juga masa gelap-gelapan di pantai berduaan pula,hehehe.

Ada satu pelajaran yang penting, bersyukur banget buat kita yang mampu jalan-jalan dan bisa makan apa lagi yang enak. Sering kita mengeluh terlalu sibuk dan liburan yang menjemukan. Ternyata masih banyak orang yang tidak bisa liburan, liburan adalah sesuatu yang sangat istimewa dan "mahal".



Thursday, 18 April 2013

Pelarian 3

Setelah acara makan malam yang menggalau sekarang saatnya Fian dan Lindsay bergalau ria berkeliling Kota Jogja. Awalnya sih mau lanjut minum hot coklat tetapi perut masih kenyang dan Lindsay belum bernafsu untuk duduk di cafe.

Kota Jogja dimalam Minggu macet dimana-mana namun tetap enak untuk diputari. dimulai dari warung makan Kindai Fian menyusuri jalan menuju Selokan Mataram. Setelah menyebrang selokan tersebut rasanya gatel mampir ke distro OB yang di jalan Nologaten  namun Fian kembali mengurungkan karena terlalu ramai didalamnya.

Jalan Nologaten sangat ramai hilir mudik mahasiswa yang sedang cari makan, daerah sini memang banyak sekali warung makan yang harganya terjangkau untuk mahasiwa dan disini pula banyak tempat tongkrongan tentunya sesuai ukuran kantong mahasiswa. akhirnya berhasil menembus jalan Nologaten sekarang masuk Jalan Solo yang lebih ramai lagi dari pada Jalan Solo. Terlihat antrian mobil yang mencoba masuk ke Plaza Ambarukmo. Di depan Hotel Ambarukmo Fian memutar balik ke arah kota. Ternyata lebih ramai lagi jalan yang menuju arah kota. Fian terus mengendarai motornya menelusuri Jalan Solo sampai di perempatan Gramedia belok kiri menuju arah Kota Baru lalu melewati bunderan menuju jalan Abu Bakar Ali setelah melewati jembatan kleringan pilihannya dua lewat Malioboro atau belok kiri menuju Jalan Mataram. Fian lebih memilih pilihan yang kedua.

"Kita mau kemana?" Tanya Lindsay yang akhirny menanyakan arah tujuan menggalaunya.
"Nggak tau mbak, lewat Malioboro pasti macet banget." Ternyata Fian juga masih bingung harus kemana. "Ke TBY ajah ya. barang kali disana ada pertunjukan." Fian mengusulkan tujuan berikutnya.
"Boleh dech kesitu saja. Aku juga suka pertunjukan seni."

Fian segera tancap gas menuju Taman Budaya Yogyakarta. Hampir setiap minggu disini pasti ada seni pertunjukan dan tempat berkumpulnya berbagai komunitas seni. sesamapainya di TBY, Fian memarkirkan motornya di depan gedung. Gedung putih menjulang disampingnya ada bangunan lebih kecil bercirikhas rumah bangunan Belanda.

Ternyata di pelataran gedun ada sebuah pertunjukan seni tari tradisional Dayak. Fian dan Lindsay mengambil tempat duduk paling belakang. Berapa saat keduanya menyimak tarian yang ada sedang dipentasakan, mereka juga saling diam. Namun Fian melihat ada sesuatu yang dipikirkan oleh Lindsay, tatapanya kosong dan mimik wajahnya masih saja terlihat sedih.

"Whats wrong mbak? Koq keliatan sedih lagi?" Fian memberanikan bertanya pada Lindsay.
Lindsay jadi kaget "Eh kenapa?"
"Kenapa Mbak Lind sedih lagi, padahl bagus tuh tariannya keceriaan." Fian mengulangi pertanyaannya.
"Aku inget dia lagi......" Sepertinya Lindsay ingin meceritakan lebih lanjut detail ceritanya.
"Lalu, ayo ceritakan aja" Fian memancing agar Lindsay mau berbagi kisahnya.

Lindsay menengok Fian memastikan Fian akan serius mendegarkan ceritanya.
"Kita itu sering ke sini, kita sama-sama suka seni." Lindsay kembali bercerita kali ini mecoba menahan tangisnya.
"Koq nangisnya di tahan? lanjutin aja nangisnya." Kata Fian sambil senyum.
"Gimana mau nangis kalo kamu senyum gitu.hahahaha" Lindsay malah tertawa karena tingkah laku Fian, tetapi air mata Lindsay masih saja menetes.
"Masa aku juga harus ikutan nangis. Nanti yang ada dikarain kita orang gila, nonton pentas tari lucu gitu malah ketawa-tawa. hahahaha." Fian malah mencoba menghibur Lindsay.
"Pindah ajah yuk disini malah gak bisa cerita, terlalu berisik. ke situ aja ada yang jual jagung rebus."

Mereka pindah tempat duduk ke luar pagar dari komplek TBY. Ada penjual jagung rebus yang sedang mangkal. asapnya mengepul banyak tumpukan jagung dan kacang terlihat masih segar. Lindsay menghampiri penjual tersebut lalu mengambil dua tongkol jagung dan dua buah pisang.

Fian sendiri menghampir penjual wedang ronde dan memesan dua mangkuk. Lalu duduk di bangku panjang depan penjua ronde. Lindsay yang membawa makanan menawarkan pada Fian, Fian hanya mengambil jagung.

"Jadi aku kalau ketemu dia itu selalu di warnet, jadi kita pacara di warnet." Lindsay tiba-tiba ngomong membuat buyar kosentrasi Fian yang sedang asik menyingkirkan rambut jagung.
"Ich kayak gak ada romantis-romantisnya. pacaran koq di warnet." Komentar Fian sumbang.
"Halow, kita ini backstreet ya jadi harus cari tempat yang aman biar gak ketemu monyetnya,"
"Emang dia punya monyet po? terus monyetnya jadi mata-mata istrinya?"
"Hadew....monyetnya di baca istri"" Lindsay berkata ketus pada akhir kalimat dan gemes juga sama Fian yang terlalu polos.
"Ouh gitu toh....." Fian mengangguk mengerti. tetapi kali ini Fian benar2 acuh terhadap Lindsay karena asik makan jagung rebus.

Lindsay sendiri malas-malasan makan jagung. Namun Lindsay masih semngat untuk terus bercerita dan sudah tak peduli apakah Fian mendengarkan atau tidak.

"Kita juga sering ketemu di Solo. Dia naik bus, aku sendiri naik kereta nanti ketemu di depan stasiun."
"Ribet amat sih" Kata Fian yang ternyata masih menyimak cerita Lindsay. Kali ini tangannya tidak lagi memegang jagun tetapi sudah tergantikan mangkok wedang ronde.
"Kita selingkuh main cantik donk ah." Balas Lindsay senyum-senyum.
"Ich waria kali cantik,hahahahah" Fian mencoba ngelawak,
"Ya kan biar aman kalau nanti ada yang liat kita pacaran di kereta gimana?"
"Wah bener juga ya. ini bisa jadi pelajaran donk. pertama pacaran di warnet yang nggak ada CCTVnya. Lalu ngdate di Solo."
"Ada satu lagi. Bila perlu kita pergi keluar kota yang jauh jadi tambah amankan. terakhir kita ke Jawa Timur." Lindsay malah ngajarin Fian cara aman untuk selingkuh.

"Tapi sekarang semua sudah berakhir mbak. Sekarag nggak perlu kayak gitu lagi.

Deg. Fian menyadarkan Lindsay lagi kepada dunia nyata bahawa sekarang sudah putus

"Huaaaaaa" Lindsay kembali sadar atas kegalauannya.

Semuanya kembali jadi senyap. Lindsay tidak melanjutkan ceritanya lagi dan Fian masih sibuk dengan wedang rondenya.

Tiba-tiba terdengar bunyi ring tone handphone dari tas Lindsay. Lindsay segera mengambil handphonnya.
"Ini dari dia......di angkat nggak?" Lindsay minta saran sama Fian.
"Angkat saja."

Lindsay segera mengakat telpon dan pelan-pelan menjauh dari Fian. Fian sendiri nggak peduli yang penting bisa ngelanjutin makan jagung dan pisang rebus.

Tak berapa lama kemudia Lindsay muncul lagi di hadapan Fian.

"Aku nggak jadi putus" Mata Lindsay terlihat berbinar-binar bahagia.

-Tamat-

Friday, 1 March 2013

Pelarian (2)

Fian dan Lindsay sudah siap berangkat jalan-jalan akan tetapi mereka belum tahu mau kemana karena dari awal mereka tidak merencanakan tujuannya. Tetapi bagaimanapun yang namanya jalan-jalan pasti ada tujuannya seperti hidup ini yang terus berjalan marayapi hari demi hari untuk mencapai tujuan.

"Mba Say kita mau kemana nih?" Tanya Fian kebingungan karena belum ada tujuan sedangkan mesin motor sudah dinyalakan.
"HHmmm kita cari makan saja dech." Usul Lindsay sebagai tujuan awal perjalanan malam minggu ini.
"Ke Kindai aja ya, disitu nasi kuningnya enak udah gitu banyak lagi" Fian merekomendasikan tempat makan langganannya.
"Boleh dech..." Lindsay juga menyetujui.

Mereka melajukan motornya menuju Rumah Makan khas Kalimantan yang berada di daerah Jembatan Merah masih sekitaran jalan Gejayan, tidak terlalu jauh dari Demangan Baru yang masih satu kawasan dengan Gejayan. Jalan yang menuju utara tidak terlalu padat namun sebaliknya arah dari Ring Road Utara menuju Kota Jogja sedikit padat. Yah....penduduk pinggiran kota merapatkan diri mencari hiburan di Kota Jogja yang meriah akan pertunjukan seni jalanan.

Akhirnya sampai juga di Kindai, tempatnya nggak begitu luas tetapi ramai. Mungkin karena masih terhitung murah jadinya ramai. warung ini sangat terbuka karena berada di teras rumah. Ada juga tempat makan di atas yang berupa bangunan panggung di bawahnya terdapat parkiran motor. Fian dan Lindsay memilih meja yang di samping suasananya tidak begitu ramai. Sebelum menuju mejanya Fian mengambil daftar menu di meja kasir.

Setelah duduk Fian seperti biasa bila makan di warung makan tersebut memilih nasi kuning sambal goreng hati dan segelas jus tomat. Lindsay sendiri tampaknya sedang tidak nafsu makan jadi ikut apa yang Fian pesan tanpa membaca daftar menu. Makanan sudah di pesan selama menunggu makanan datang tak ada obrolan apapun kerena mereka sibuk dengan handphone mengecek sms atau sekedar membuka Twitter.

Tak lama kemudian ada pelayan yang membawakan makanan yang Fian dan Lindsay pesan. Porsinya cukup banyak bagi Fian yang bertubuh kurus dan tidak suka makan terlalu banyak. Suapan pertama Fian begitu menikmati dan lahap karena memang sudah lapar. Akan tetapi keadaan Lindsay sebaliknya berbeda hanya menatap makanan itu. Fian segera menyadarai ada sesuatu yang salah dari Lindsay.

"Kenapa mbak? koq makanannya cuma dilihatin aja?" Tanya Fian yang mulutnya masih tersumpal nasi kuning dan ngomong sambil mengunyah makanan.
"Aku sedang galau" Jawab singkat Lindsay dengan nada yang lesu.
"Hahahaha. Kaya ababil aja mbak. alias ABG labil" Fian malah menanggapinya dengan bercanda.
"Iya juga ya kaya ababil. Aku baru putus sama pacar ku. Dan parahnya aku belum makan dari pagi." Lindsay mulai menceritakan kegalauannya.
"Ok, emang nggak bisa balikan lagi?"
"Masalahnya yang aku pacari itu adalah suami orang." Lindsay menekankan nadanya pada frase suami orang. Makanann yang di hadapannya mulai di acak-acak.
"Kalau gitu makan yang banyak biar nggak stress" Fian yang nggak peka pada masalah Lindsay malah menyuruh makan Lindsay yang dari tadi belum menyuapkan nasi di mulutnya. "Putusnya kapan dan kenapa? Ayo dimakan mbak enak loh nasinya."

Lindsay memakan satu suap nasi dan segera menjelaskan kisahnya. "Udah 4 hari putus. pas baru putus sih nggak masih baik-baik saja tetapi sekarang baru kerasa galaunya. Kangen banget pengen ketemu atau telponan tapi nggak bisa. Kita putus karena dia sudah punya istri dan nggak mau rusak hubungan keluarganya. Dia udah punya anak juga."

"Ya bener juga sih putus kan buat kebaikan dia dan keluarga sama mbak juga kan" Fian mengomentari hati-hati. Takut salah koment malah jadi tambah galau lagi mbak Lindsay. Fian kembali menyuapkan nasi kuning sambal greng hati ke mulutnya.

Lindsay juga memakan nasi kuning yang ada di hadapannya. "Ya sih kenapa cinta itu datang nggak tepat gini?" Lindsay memprotes keadaan apa yang dialamnya. "Aku kenal dia waktu aku masih ABG dan dia belum menikah." Lindsay mengalunkan cerita sejarah pertemuan dengan mantannya.

Fian menghentikan aktifitas makannya agar lebih seskasama mendengarkan dongeng kasrmaran antara Lindsay dengan mantannya.

"Dia itu tentor ku pas bimbel masuk UGM," Lindsay berhenti sebentar untuk minum. "Waktu itu biasa aja lalu jadi deket dan deket."

"Terus jadian?" Fian yang sok tau memotong pembicaraan Lindsay.

"Bukan gitu, sek toh jangan di potong dulu." Lindsay memprotes ulah Fian, tetapi usaha Fian membuahkan hasil yaitu Lindsay kembali melahap sesendok. "Aku tau dia suka aku juga, tapi koq nggak ya ngomong-ngomong aku sebenernya gregetan tapi kan nggak mungkin aku duluan yang ngomong." Emosi Lindsay agak sedikit naik tapi masih berusaha mengontrol.

"Hhhmm susah juga ya. Terus kenapa baru sekarang jadiannya lagi?" Fian jadi semakin penasaran kisah dari Lindsay.

"Setelah bimbel itu kita nggak pernah ketemu lagi aku juga punya pacar dan yang aku tau dia juga punya pacar. Long-long time nggak ketemu dia terus tiba-tiba kita ketemu di Pramex (kereta komuter Jogja-Solo). Dari situlah berlanjut terus dan dia ngaku kalau dulu juga suka aku. Terus pada akhirny kita backstreet apa lagi aku waktu itu baru putus sama mantan ku ya taulah pasti haus belaian kan?" Lindsay malah menjelaskan panjang lebar. Tak apalah untuk pelampiasan kegalauannya.

"Ouh gitu toh....." Fian hanya menanggapi datar karena nggak tau lagi mau komentar apa lagi. Nasi yang ada dihadapn Fian juga sudah habis tetapi nasi yang ada didepan Lindsay masih ada setengah namun tampakny Lindsay sudah enggan memakannya.

"Ya udah yuk jalan-jalan muterin Jogja, dari pada meratapi kegalauan." Lindsay mengajak Fian hengkang dari warung Kindai.

"Cuzzz" Fian juga beranjak dari kursi menuju kasir untuk membayar tagihan makanan.

(masih bersambung)

Sunday, 17 February 2013

Pelarian (1)

Sekarang malam Minggu. Kata orang sih ini malam waktu yang pas untuk pacaran. Hmmm kenapa bisa gitu ya? ah itu hanya perasaan saja. Mungkin karena besoknya libur dan hari Sabtu bisa pulang cepat jadi bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kekasih. Upss tidak hanya dengan pacar tetapi bisa juga dengan keluarga dan teman atau dengan siapa pun.

OK. Malam ini Fian sudah ada janji dengan seorang gadis, apakah itu ngdate? entah lah apa namanya itu yang jelas Fian akan jalan bareng bersama perempuan yang sudah lama dikenalinya bahkan waktu Fian masih SD. Fian segera bersiap menuju gadis tersebut, dengan gaya apa adanya pakai kaos berkerah di padukan rompi tebal sebagai pelindung hawa dingin yang menyergap Kota Jogja, Fian cuku mengenakan celana jins pendek dan sepatu kets warna biru.

Dari kost Fian yang berada di deaerah Gelagah Sari menuju kost gadis tersebut yang berada di daerah Demangan Baru tidak membutuhkan waktu yang lama, seharusnya cukup 10 menit lewat jalan Timoho. seperti biasa jalanan malam minggu padat merayap apa lagi jalan Timoho terhitung sempit sebagai jalan utama penghubung antar jalan Solo dengan jalan Kusumanegara. Fian terpaksa melambatkan laju motornya untuk keamanan diri.

Akhirnya sampai tujuan juga di sebuah kostan khusus wanita. Kostan itu tidak terlalu besar seperti berbentuk kubus dengan cat kuning terang, di tengah kubus tersebut ada pintu gerbang yang besar dan rapat lebarnya seukuran mobil tingginya tiga meter. Fian memarkirkan motornya didepan gerbang dia tidak langsung turun namun merogoh tasnya untuk mengambil hp. Fian menuliskan pesan singkat yang di tujukan kepada perempuan yang tinggal di kostan tersebut.

Setelah pesan terkirim tak lama kemudian terdengar teriakan dari dalam kubus "Fiian tunggu sebentar ya. 5 menit ok?"
"Ok. Santai aja, nggak usah buru-buru" Jawab Fian dengan lantang.

Belum ada lima menit perempuan tersebut menampakan diri setelah membuka pintu. Dari wajahnya dipaksakan untuk bergembira namun sudut kegalauannya masih terpancar. Yah wanita itu memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik tipis. Dia memakai kaos dipadukan sweeter hitam dan bawahannya celana jeans biru sedangkan sepatunya model datar.

Nama wanita itu adalah Lindsay umurnya 5 tahun lebih tua dari Fian. sebenarnya Lindsay adalah sahabat sejak SMP dari kakaknya Fian. Jadi Fian sudah cukup mengenal dekat Lindsay karena dulu sering bermain ke rumah. Fian pun sering jalan bareng dengan Lindsay untuk latihan meditasi. Malam ini mereka bukan untuk pacaran tetapi hanya sekedar hang out.